Wednesday, August 3

Kendaraan Umum

Siang tadi saat makan siang di sela-sela kegiatan kantor, saya mendengar cerita seoran teman. Tentang anak pertamanya yang baru masuk sekolah menengah pertama, cerita tentang naik angkot. 

Alkisah rekan saya bertempat tinggal di kawasan Sarijadi, dan anaknya bersekolah di sekitar Dago. Kita semua tau, Bandung bukan kota yang dimudahkan oleh kendaraan umum, dibanding Jakarta yang hampir setiap kawasannya bisa dijelajahi dengan kendaraan umum yang terintegrasi, sebagai kota besar, Bandung kalah jauh, masih kusut sama kebijakan angkot. Dulu sempat ada bus sekolah, warnanya kuning.. gambarnya badak bercula satu, bagus! saya suka sekali lihatnya. Tapi setiap saya lihat saat berpapasan, busnya hampir gak pernah punya penumpang. Akhirnya saya gak pernah lihat lagi bus sekolah itu sekarang. 

Dulu saya mulai naik angkot saat kelas 4 SD, satu kali naik angkot untuk pergi, dan pulang sekolah. Ongkosnya 150 rupiah. Kalau pulang saya bisa jalan kaki bersama teman-teman, ongkos naik angkotnya saya belikan jus semangka, seharga 100 rupiah untuk diminum sepanjang jalan pulang. Masih sisa 50 rupiah untuk bekal jajan mengaji di sore hari 😁

Hal seperti ini berlangsung sampai jenjang sekolah selanjutnya, sekolah SMP saya lebih jauh jaraknya sehingga perlu dua kali naik angkot,  kalau perlu uang jajan lebih, saya berjalan kaki untuk menghemat ongkos angkot satu kali. Kalau dipikir sekarang, dulu saya ngapain ya? jalan kaki panas-panas, melewati rel kereta, dan jauh banget. Tapi dulu yang ada di pikiran cuma yang penting sama teman-teman. Oh, miss the good old day. Saat urusan kehidupan di dunia ini cuma seputar hafalan matematika dan gimana caranya bisa makan di kelas tanpa ketahuan guru. 

Tapi sejujurnya topik makan siang tadi menarik perhatian saya, karena sudah jarang orangtua yang "merelakan" anaknya menggunakan kendaraan umum untuk berangkat dan pulang dari sekolah. Di tengah maraknya penggunaan ojeg online yang tinggal klak-klik, nunggu, dan duduk manis. Buat anak sekolah jaman sekarang, bisa naik kendaraan umum bisa dibilang suatu keterampilan mengarungi hidup ga sih? 😄

Mungkin akan jadi basic skill yang akan saya ajarkan ke anak-anak juga. Naik kendaraan umum, berjalan kaki ke persimpangan atau halte, menunggu beberapa saat untuk dapat kendaraan yang sesuai dengan jurusan, itu hal yang biasa, dan memang bagian dari hidup, jadi yaa.. nikmati saja. 

0 comments:

Post a Comment