Buku-Buku Yang Saya Baca (Bagian 2)

 




Tahun 2022 sudah lewat lebih dari separuhnya, dan yang masih bisa saya banggakan dari tahun ini, saya masih rutin membaca, yay! Jadi.. tiba saatnya saya merekomendasikan buku-buku yang menurut saya asik buat dibaca. Tulisan tentang Buku-buku yang pernah saya baca bagian pertama pernah saya post di sini. 

Di putaran kedua kali ini, saya mau merekomendasikan lima buku. Lima buku yang ditulis oleh penulis Indonesia, dan saya nobatkan sebagai buku yang wajib dibaca sekali seumur hidup, karena memang sebagus itu 😁 

1. Kambing dan Hujan
Saya suka banget buku dengan genre roman, tapi bukan berarti semua buku dengan genre ini saya libas habis. Kebanyakan roman yang saya baca, berujung tragedi. Susah nemu roman yang ceritanya pas, dekat dengan keseharian, sekaligus hangat. Kambing dan Hujan bukan buku baru, sudah terbit dari 2015. Saya tertarik baca karena pernah diriviu sama akun panutan saya Bandung Diary, karena cover bukunya menarik, dan tentu karena buku yang ditulis Mahfud Ikhwan ini masuk kedalam kriteria roman yang pas menurut saya, alias roman yang tanpa tragedi.

Ceritanya menggambarkan Islam di Indonesia dalam miniatur sebuah desa. Banyak bedanya, ada konfliknya, gak lepas dari rasa paling benar, prasangka dan kepentingan lain yang sebenarnya gak ada hubungannya sama islam itu sendiri. Rasanya senang membayangkan perkembangan dua tokoh Is dan Moek dari anak penggembala kambing, menjadi pemuda yang cerdas, ceroboh, penuh persaingan, terus tumbuh melewati usia matang dan menjadi dua tokoh yang dituakan, yang dijadikan guru, tapi gengsian hahahaha.

2. 9 dari Nadira
Sebenarnya, saya gak anti banget sama buku yang isinya tragedi, saya masih bisa dan mau kok membaca buku-buku yang bercerita tentang tragedi, oleh karenanya Leila S. Chudori jadi salah satu penulis favorit saya, karena selalu bisa mengemas tragedi dalam bahasa yang “biasa”, tidak dibuat dramatis, dan tidak dilebih-lebihkan. 

9 dari Nadira menyinggung konflik keluarga terpelajar yang di luar terkesan baik-baik saja, tapi ternyata menyimpan cerita-cerita rapuh setiap tokohnya. Isu dan konflik psikologis diangkat jelas sekali di buku ini; kemarahan kakak sulung, kebebasan si anak tengah, dan kesendirian si anak bungsu. Ayah yang taat, ibu yang cerdas dan baik juga tidak lepas dari beban psikologisnya masing-masing. 

Buku ini menggiring kita menyadari pentingnya memahami dan mengenali apa yang sedang kita rasakan; tidak harus selalu merasa baik-baik saja, boleh bicara, boleh menangis, boleh merangkul kesedihan dan boleh meminta bantuan orang lain. Nadira, dan tokoh-tokoh utama lain dalam buku ini, tidak melakukannya.

3. The Million Face
Ada jenis buku yang bisa kamu bawa kemana saja untuk dibaca berulang, saat sedang dalam antrian loket perpanjangan SIM, menemani orangtua kontrol ke dokter,  menanti jadwal boarding pesawat, atau aktifitas menunggu lainnya. Nah, The Million Face adalah jenis buku yang itu tadi. Bukunya menghibur, menambah wawasan, sekaligus bikin kita sibuk. 

Menghibur karena punya sudut pandang baru tentang pelayanan dan melayani, ternyata bertemu dengan jutaan orang sepanjang karir, bisa dirangkum jadi cerita yang asik banget! Bakalan bikin sibuk juga karena sambil baca, sambil googling nama-nama destinasi yang disebutkan sama penulisnya; Lusaka, Conacary, Abuja, Ouagadougou, dan kota dengan kode penerbangan HAH alias Moroni, yang ada di Comoros, dan masih banyak lagi nama negara/kota yang bikin saya bergumam "oh.. ternyata ada ya", dari buku The Million Face. 

dan sejujurnya selain rasa kagum sama Ziwa Raisa, penulis bukunya, saya juga menyimpan sedikit rasa iri, berprofesi sebagai PSA sehingga punya manfaat "tiket tanpa batas". Bisa-bisanya pergi dari Dubai ke Tokyo satu hari, hanya untuk makan ramen, terus balik lagi. Hahaha, seru banget!

4. Semasa 
Beberapa penulis saya kagumi karena tutur dan bahasa yang digunakan dalam bercerita. Bisa becerita  dengan indah sekaligus dengan bahasa yang tidak sulit dimengerti adalah kombinasi yang gak semua penulis bisa lakukan, tapi Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang bisa melakukannya di Semasa.

Membaca Semasa, ini seperti membaca kehidupan orang-orang di sekitar kita, bahkan mungkin kehidupan kita sendiri. Tentang hubungan keluarga yang baik, namun berjarak. Tentang hal-hal seru dari masa lalu yang kemudian harus diurai dalam bentuk kenangan yang tidak bisa dikembalikan. Tentang janji-janji kita sebagai manusia dewasa yang belum atau akhirnya tidak bisa kita tepati. Perasaan kecewa yang berkali-kali kita rasakan, kemudian kita terima sebagai suatu hal yang sudah seharusnya terjadi, dan pada akhirnya tentang melepaskan. Satu kutipan dalam bukunya yang paling saya ingat..

"Tapi hidup memang seperti itu. 
Kamu melepas sesuatu, lalu memulai sesuatu"


5. Anak Asli Asal Mappi
Saya sadar sejak kecil saya hidup dalam privilege yang cukup tinggi. Meski tinggal di kota kecil, saya sekolah di salah satu sekolah swasta terbaik, terus berlanjut sampai sekolah menengah atas. Saat masuk ke jenjang pendidikan tinggi, saya punya, dan diberi kebebasan untuk memilih. Tapi saya juga sadar betul tidak semua anak Indonesia bisa punya kesempatan pendidikan seperti saya. Maka saya senang mengarungi cerita dan kehidupan (anak-anak) lain, dari luar pulau Jawa, senang membayangkan dan mengagumi penulis yang mengabdikan diri untuk mengajar di tempat paling ujung, terpencil, terkecil, dan mungkin terluar. 

Cerita-cerita dalam buku Anak Asli Asal Mappi sederhana sekaligus hangat sekali. Membayangkan Wani dan Nabo dalam cerita, anak-anak sekolah dasar dengan segala perilakunya, dan Mappi yang tanpa aliran listrik, berjarak 60km dari ibukota kabupaten. Cerita paling menyentuh adalah saat panen rambutan tiba. Berapa dua karung rambutan dihargai, bagaimana keuntungannya dibagi, dan indomie yang dianggap sebagai lauk yang bisa dimakan bersama sagu. 


Ah, cukup sampai disini dulu rekomendasi bukunya, beberapa ulasan buku-buku ini pernah saya tuliskan juga dalam riviu goodreads. Sebenarnya masih ada beberapa buku yang rasanya perlu saya bahas dalam tulisan tersendiri, tapi tentu saja nanti.. jika bertemu lagi dengan kombinasi ideal seperti hari ini; siang cukup istirahat, malam anak-anak tidur cepat, dan besoknya masih ketemu sama hari Minggu 😄

Share this:

ABOUT THE AUTHOR

Hello We are OddThemes, Our name came from the fact that we are UNIQUE. We specialize in designing premium looking fully customizable highly responsive blogger templates. We at OddThemes do carry a philosophy that: Nothing Is Impossible

0 comments:

Post a Comment