Sekolah Aksara



Sekitar awal tahun 2020 lalu, saya dan pak Ery disibukkan dengan kegiatan mencari sekolah untuk Aksara. Saat itu kami benar-benar clueless, terlebih pertimbangan utamanya adalah efisiensi waktu dan rute pengantaran. Gimana caranya dua anak (Pagi dan Aksara) bisa diantar sekolah sekaligus, bersamaan dengan ibu berangkat ke kantor. Kebayang kan? Dengan dua pertimbangan itu, artinya kami memang tidak leluasa memilih lokasi sekolah.

Setelah mengumpulan info sana sini, kami akhirnya sepakat membayar uang muka untuk pendaftaran taman kanak-kanak di salah satu yayasan pendidikan yang sudah berdiri cukup lama di Bandung. Saat itu kami Bismillah saja,  meskipun belum sepenuhnya sreg, toh di manapun sekolahnya, pendampingan utamanya tetap ada di rumah kan? Jadi oke, sementara aman. Beberapa minggu berselang, pemerintah mengumumkan semua sekolah diliburkan, kami santai saja, cuma dua minggu toh? Eh akhirnya diperpanjang, diperpanjang lagi, kemudian diperpanjang terus dan terus, sampai waktu ajaran baru. Waktu dimana seharusnya Aksara mulai TK.A di sekolah barunya. 

Semua pihak tidak bisa memastikan sampai kapan pembelajaran dari rumah akan berlangsung, tapi karena berkaitan dengan pembayaran penuh yang harus segera kami lakukan, kami harus mengambil keputusan. Akhirnya; Aksara tidak sekolah, adalah salah satu keputusan besar yang kami ambil di awal tahun lalu. Sampai kapan? Saat itu kami sendiri gak tau mau sampai kapan. Sebenarnya sekolah menawarkan pembelajaran daring, tapi kombinasi anak TK dan pembelajaran daring? Sejujurnya kami tidak sanggup hahahaha. Sudah pasrah saja, tidak perlu sekolah dulu, tidak melalui jenjang taman kanak-kanakpun (mungkin) tidak apa.

Benar memang setiap anak akan membawa rizkinya sendiri, Aksara "membuktikannya" lewat sekolah. Setelah sebelumnya sudah berniat akan menghadapi pandemi di rumah saja. Di awal bulan Juli tahun 2020, kami bertemu Rumah Belajar Ummasa, sekolah alternatif yang digagas oleh beberapa teman baik saya dan pak Ery. Lokasinya berjarak dua bukit dari Rumah Utara, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 25 menit dengan kendaraan roda dua. Cerita tentang pertemuan kami dengan Ummasa rasanya perlu dibahas dalam satu cerita tersendiri, karena akan panjang sekali 😁

Singkatnya, kami senang bisa punya kesempatan berkegiatan belajar bersama kelompok kecil di Rumah Belajar Ummasa, didampingi dua kakak fasilitator yang sudah kami kenal lama, di sekolah yang jauh dari keramaian. Sesekali mereka hiking ke kebun-kebun di sekitar sekolah, kadang bercerita tentang nabi-nabi, kadang berkebun, kadang memasak sendiri, kadang bermain teka-teki, kadang bernyanyi bersama, kadang ada pelajaran tidur siang juga malah hahahaha.  

Tidak terasa sudah hampir satu tahun Aksara tumbuh bersama Rumah Belajar Ummasa, kami percaya tidak ada sekolah yang 100% cocok untuk setiap anak. Tapi kami juga yakin orangtua punya peran besar untuk membantu anak-anak tumbuh di lingkungan yang mendekati nilai-nilai baik yang diterapkan di rumah, dengan cara memfasilitasi ruang belajar mereka. Nilai yang tentu saja akan berbeda untuk setiap keluarga. Kalau mau informasi lebih jelas tentang Rumah Belajar Ummasa, sila langsung berkunjung ke laman resminya di kamiummasa.com ya 😊


0 comments:

Post a Comment

My Instagram