Porsi Bahagia



Empat bulan lagi, kita akan sama-sama "merayakan" satu tahun sejak pertama diberlakukan anjuran untuk menjaga jarak sosial dengan tetap di rumah saja, aktivitas sekolah berhenti, disusul kemudian kantor-kantor yang ikut menerapkan pembatasan sosial. Terus berbulan-bulan sampai akhirnya sekarang secara perlahan, rutinitas berkantor orangtua sudah kembali seperti semula, tapi anak-anak belum. Jadi sudah saatnya saya ikut bercerita tentang pengalaman mendampingi Pagi belajar dari rumah.

Oh iya, sampai saya menulis ini, kantor masih memberlakukan sistem on-off; sehari masuk, hari berikutnya bekerja dari rumah. Sejujurnya saya berdoa semoga kebijakan kantor akan terus begini sampai nanti waktunya anak-anak kembali ke sekolah, seperti biasa. 

Pagi sekolah di salah satu sekolah dasar swasta tertua di kota Bandung. SD Swasta yang menurut kami konvensional, kenapa kami bilang konvensional? Salah satunya karena hari Sabtu masih masuk sekolah. Rasanya, sekolah Pagi jadi satu-satunya sekolah dasar swasta yang masih punya kegiatan belajar mengajar di hari Sabtu. Beneran belajar ya, bukan cuma ekstrakurikuler. Kalau ditanya, berat gak nganter sekolah di Sabtu pagi? ya bagian dari resiko sebuah pilihan. Lagi pula dulu sambil nganter biasanya saya sambil ke pasar buat belanja kebutuhan dapur seminggu, atau sarapan bareng pak Ery dan Aksara, ya jadi dinikmati saja. 

Tapi yang patut disyukuri, selama masa pandemi ini tugas-tugas sekolah yang diberikan, tidak pernah sangat membebani. Ya ada kalanya Pagi butuh waktu lama untuk mengerjakan tugas-tugasnya, tapi gak jarang juga ada tugas sekolah yang bisa beres ia kerjakan dalam waktu kurang dari satu jam. Di awal waktu belajar dari rumah, sempat sih harus mengumpulkan video belajar dan pembiasaan baik seperti beribadah, literasi, membantu orangtua, dan berolahraga setiap hari. Tapi gak lama, setelah itu sekolah bikin kebijakan untuk mengirim foto/video secara bergiliran. Jadi setiap anak hanya kebagian satu minggu sekali untuk mengumpulkan bukti pembiasaan baik berupa foto/video. Wih, meringankan sekali!

Saya dan pak Ery penganut paham yang santai soal sekolah anak. Dari dulu memang kami tidak menuntut Pagi, dan juga adik-adiknya nanti harus pintar secara akademis. Apalagi di jenjang usia dini, sudahlah, puas-puasin main aja, nak.. mumpung belum banyak syaratnya. Jadi ketika masa pandemi seperti ini makin "terfasilitasi"-lah kewolesan kami. Pagi gak pernah punya waktu khusus belajar. Dia punya waktu screen-time, dia boleh sesekali menunda mandinya, dia boleh baca buku di meja makan, dia boleh menggambar, mengumpulkan ranting-daun dari kebun, atau berkarya sepuasnya. 

Pernah ada satu masa di mana Pagi sangat fragile; mudah menangis, mungkin karena sudah mencapai puncak kejenuhan. Bagaimanapun, berinteraksi dengan bertemu teman sebaya untuk bermain bersama adalah kebutuhan anak-anak. Bisa dibayangkan betapa "bingungnya" mereka ketika dihadapkan pada situasi pandemi yang tiba-tiba terjadi, sementara kita, orang dewasa dengan segala pengalaman saja, masih sering kesulitan mengatur mood untuk tetap waras dan on the track.

Sedikit sekali orang tua yang benar-benar siap dan terlatih menghadapi proses pembelajaran dari rumah, saya jelas bukan termasuk diantara orangtua yang siap dan terlatih itu. Setiap hari rasanya adaptasi, adaptasi, adaptasi, tanpa pernah tau di mana dan kapan bertemu akhirnya. Jadi pesan saya untuk diri sendiri; jangan terlalu tinggi menerap standar, menuntut Pagi tetap harus begini dan begitu lagi. Di masa pandemi ini yang paling penting adalah berjuang menjaga anak-anak agar tetap mendapat porsi bahagia yang seharusnya.



2 comments

My Instagram