Fashion dan Identitas

12:20:00 pm

Minggu lalu saat menyiapkan baju-baju yang akan saya bawa untuk pergi ke Jogja, saya menyadari ternyata baju nyaman versi saya punya tidak jauh berbeda; polos, garis-garis, dan kotak-kotak. Lalu saya flash back, kira-kira sekitar tiga empat tahun lalu saya memang  mulai "menyaring" warna pada pakaian yang saya kenakan sehari-hari. Penyebabnya kala itu hanya karena merasa malas kalau harus menghabiskan waktu untuk memilih baju apa yang akan saya kenakan untuk bepergian. Punya warna dominan pada lemari baju jadi memudahkan saya memilih, sehingga saat akan bepergian saya bisa menyiapkan diri sendiri dalam waktu kurang dari 15 menit. Pada tahun-tahun itu juga, saya menyadari kalau ternyata saya mudah merasa nyaman dengan warna hitam, abu, dan navy. 

Lagi pula selera berpakaian saya memang tidak mengalami perubahan yang signifikan. Saya yang 10 tahun lalu, dan saya yang hari ini masih menyukai sepatu yang sama, dengan gaya berpakaian yang sama juga. Mungkin yang berubah hanya pergeseran status dan makna nyaman saja, kalau dulu masih bisa pakai kaos ke mana-mana, sekarang harus "mantesin", kalau hari kerja ya berbatik, dan berkemeja. Kalau dulu masih enak pakai jeans, sekarang sudah paling nyaman pakai kulot. Kalau dulu masih bisa lari pagi atau bersepeda pakai sepatu Chuck Taylor All Star, sekarang usia sudah mengharuskan saya memperhatikan kenyamanan dan risiko cidera kaki saat olahraga. 

Terlepas dari payahnya selera fashion yang mengakibatkan baju saya itu-itu saja, sebenarnya saya sendiri memang tidak masalah dengan konsep cuci-kering-pakai. Lagian kalau kata mbak Puti, let me introduce you a technology called washing machine, taadddaa! Mesin cuci adalah jawaban mencerdaskan atas pertanyaan menyelidik dari orang-orang "kok bajunya itu-itu mulu sih?". Nah karena ini juga akhirnya saya diskusi sama pak Ery tentang kebutuhan dan keinginan, meminjam atau membeli, tentang fast dan slow dalam hal ini untuk makanan dan pakaian. Oh iya, di tahun 2009 pak Ery pernah menulis tentang sustainable green fashion, sementara di tahun yang sama saya gak tau masih mikirin apa hahahaha. Menyadari apa itu fast fashion dan dampak yang dihasilkan oleh maraknya industri tersebut akhirnya jadi salah satu topik obrolan dapur yang menarik buat kami. 

Saya sendiri beberapa kali membeli helai pakaian dari salah satu gerai fast fashion asal jepang, karena menurut saya brand tersebut memiliki cutting yang pas sehingga nyaman dipakai. Tapi setelah diskusi dan membaca banyaknya dampak buruk yang dihasilkan oleh gemerlap dan murahnya industri fast fashion ini jadi perlu berfikir lebih dalam lagi sebelum membelinya. Industri fast fashion disebut-sebut sebagai penyumbang emisi gas lebih merusak dibanding gabungan industri pelayaran dan penerbangan. Pada awal tahun lalu, lingkaran pertemanan saya ramai-ramai berbagi berita tentang pekerja yang membawa spanduk bertuliskan "I made UNIQLO clothes and I wasn't paid". Ironis. Harga murah yang ditawarkan gerai-gerai fast fashion juga membuat banyak orang mudah membelanjakan uang untuk model pakaian yang sekelebat saja. Jika bosan? bisa menyalurkan ke berbagai badan amal, bank pakaian, atau lainnya. Tapi tentu saja ini bukan solusi terbaik dari limbah  pakaian yang untuk memproduksinya memerlukan banyak sekali sumberdaya alam dan manusia. 

Menerapkan tahapan demi tahapan yang ada pada piramida The Buyerarchy of  Needs sebenarnya bisa membantu kita memikirkan kembali apa yang akan kita konsumsi. Menjadikan kegiatan membeli sebagai pilihan yang paling akhir setelah memastikan kita tidak mempunyai barang dengan fungsi yang sama, tidak dapat meminjam, tidak memungkinkan untuk menukar, atau membuat sendiri. Tahapan ini bisa membantu kita mengurangi jumlah pembelian, termasuk menjadikan kegiatan berbelanja baju sebagai sebuah investasi yang harus dipikirkan secara matang. Eh tapi saya setuju kalau fashion menjadi bagian dari identitas diri. Gaya berpakaian memang bisa jadi identitas, dan ciri khas yang melekat pada seseorang. Saya sendiri sepertinya sudah ada di fase mudah teridentifikasi lewat pakaian yang saya kenakan. Beberapa teman saya sering mengatakan, jika mencari Ajeng dalam sekumpulan orang, cari saja yang bajunya berwarna hitam, yang bermotif garis-garis, atau kombinasi keduanya :p



You Might Also Like

2 comments

  1. iya nih ibu, bajunya khas hehe

    kalo saya sih sebagian besaar, selain seragam kerja, warnanya ya item, dan kebanyakan kaos lengan pendek, dan celana saya tinggal satu yg item ternyata hwehehehe

    laah malah cerita sendiri di blog orang 😅

    ReplyDelete
  2. Jeng.. Ini masih ada lanjutannya kan ya?

    ReplyDelete