Belajar, Tumbuh, dan Berproses

4:12:00 pm

"You are the best, don't underestimate your skills. Semua harus lanjutkan studi sampai titik tertinggi, karena kita perlu kolaborasi dalam banyak hal"

Begitu susunan kalimat pada layar ponsel yang saya baca pagi tadi. Pesan dari seseorang yang berjasa menjadi pemantik semangat saya, semangat untuk melanjutkan sekolah beberapa tahun lalu. Saya yang 10 tahun lalu tidak pernah memikirkan untuk lanjut studi magister. Buat apa? toh saya sudah berstatus sebagai pegawai negeri, usia juga sudah bukan belia lagi. Sudahlah, begini juga sudah lebih dari cukup. Sampai tiba-tiba dua tahun lalu, saya membulatkan tekat untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa. 

Saya mengambil keputusan nyaris di akhir musim penerimaan mahasiswa baru, dengan persiapan yang tidak terlalu matang, mengikuti sesi akhir seleksi, singkat cerita pada Agustus 2017 saya resmi jadi mahasiswa jenjang Magister di salah satu kampus di kota Bandung yang juga jadi institusi tempat saya mengabdi. Saya mendapat beasiswa penuh dari kementerian tempat saya bekerja. Sejak saat itu, hidup saya tidak lagi sama. Saya secara sadar mengeluarkan diri saya sendiri dari zona nyaman. Semester awal adalah masa saya beradaptasi, mengejar ketertinggalan, karena bisa dikatakan ketika saya memutuskan bekerja hampir delapan tahun lalu, saya seperti "selesai" dari kebutuhan mencari tau ilmu pengetahuan baru. 

Semester-semester berikutnya seperti pasang surut air laut. Ada masa saya merasa bisa mengatasi semuanya, ada masa saat saya merasa tidak yakin bisa bertanggung jawab, menyelesaikan apa yang sudah saya mulai. Saya melewati banyak akhir pekan, menghabiskan larut-larut malam dengan mengerjakan tugas, belajar, berusaha mengerti apa yang sebelumnya sama sekali asing di telinga. Saya juga pernah menangis karena merasa sangat lelah, lalu keesokan harinya seperti tidak pernah terjadi apa-apa karena sepenuhnya sadar; the show must go on, ya memangnya ada pilihan lain? hahahahaha, yang jelas sama seperti mahasiswa lain semua penderitaan terbayar saat mendapati huruf A untuk hasil akhir mata kuliah di transkrip nilai saya.

Beberapa kali pula saya bercerita dengan orang-orang terdekat, bahwa menjadi mahasiswa, kuliah reguler, sambil tetap bekerja seven to five, tentu saja dengan usia yang tidak lagi muda sama sekali tidak ideal. Ketika teman-teman lain pulang kuliah belajar, atau membereskan tugas-tugasnya, saya pulang kuliah ke kantor, membereskan pekerjaan. Sampai di rumah berganti peran jadi ibu, ketika dua anak kecil ini tidur status saya berganti lagi jadi mahasiswa yang harus mengerjakan tugas. Benar-benar perlu perjuangan lebih untuk bisa menyamakan "langkah kaki" teman-teman yang lain. Tapi kalau misal bisa mengubah jalan hidup.. saya tetap tidak mau menukar pengalaman sekolah ini dengan apapun. Banyak sekali hal baik yang saya dapat dari proses ini, pembelajaran, keilmuan, nilai-nilai baik dalam hidup, banyak sekali. 

Setelah melewati berbagai proses selama rentang waktu yang panjang sampai akhirnya dinyatakan selesai menempuh pendidikan magister, pagi tadi saya diwawancara oleh salah satu reporter mahasiswa, pertanyaan kenapa saya merasa perlu sekolah jadi salah satu pertanyaan yang menarik untuk dicari jawabannya. Walaupun sungguh saya tidak benar-benar yakin dengan jawaban "serius" yang saya berikan. Menurut saya belajar merupakan salah satu tanggung jawab individual kita sebagai manusia, meskipun belajar tidak melulu identik dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, tapi sejatinya tujuan belajar adalah agar (akal) kita terus tumbuh, terus berproses pada koridor dan arah yang lebih baik.

Akhirnya pada bulan-bulan yang sudah saya lalui sampai saya bisa ada di titik yang sekarang, saya semakin percaya bahwa Allah maha baik, saya banyak dikelilingi dan dipertemukan dengan orang baik, yang menyaksikan saya berproses, membantu, memberi semangat, dukungan dalam bentuk yang macam-macam. Terima kasih ya semuanya!


You Might Also Like

1 comments

  1. Saya ngikutin prosesnya ajeng sekolah, via instastories. Hehehe. Selamat, Jeng. Ikut senang! Malah, asa kabita pengen nyicip sekolah lagi.

    ReplyDelete