Berproses

10:37:00 am



Sebenarnya ada dua alasan kami mengajak Pagi bergabung pada klab sepatu roda. Pertama karena dulu Pagi memang ingin, dan Ibu Bapak tidak bisa mengajari. Kedua karena saya dan Pak Ery percaya soal kebutuhan gerak  dan aktifitas fisik anak jenjang usia dini yang cukup tinggi. Menurut penelitian, kebutuhan gerak ini jika terpenuhi akan menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu anak, kesehatan fisik, mental dan tentu saja emosional. Jadi dari dulu sudah satu visi untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, apapun media olahraganya, yang penting menyenangkan, nah kebetulan ketemu sama sepatu roda.

Dari sekian banyak manfaat aktivitas fisik untuk anak, yang jadi fokus utama kami malah soal emosional, bagaimana "meredakan" rasa gugup Pagi jika berada di tengah keramaian. Empat bulan berlalu dari sejak pertama kali bergabung di klab sepatu roda, selama itu pula dia masih harus ditemani Ibu untuk berlari saat pemanasan. Apakah dia tidak menikmati berlatih sepatu roda? saya pernah mengira begitu. Tapi nyatanya, dia akan sangat gembira jika sudah masuk ke dalam lintasan. Hanya proses sebelumnya yang masih perlu didampingi. Tipe anak bermesin diesel, lama panasnya. Selain itu, Pagi juga tidak terbiasa dengan orang asing dan keramaian, jadi selalu merasa insecure jika beraktfitas jauh dari orang yang Ia percaya. 

Karena hal itu, saya sama sekali tidak membayangkan Pagi (diusianya yang sekarang) mengikuti sebuah perlombaan. Pisah dari Ibu atau Bapak saja belum bisa, gimana bisa dilepas berkompetisi di tengah lapangan yang penuh dengan kerumunan orang saling berteriak menyemangati? jadi saat kemarin ramai soal pertandingan sepatu roda Piala Walikota Bekasi, saya santai saja karena yakin Pagi tidak akan berminat. Sampai akhirnya pada suatu obrolan dapur, Pagi bertanya 

"Ibu aku mau coba ikut lomba, boleh?"

Saya tentu saja tidak serta merta mengiyakan, sejak kejadian akhir tahun lalu saat untuk pertama kalinya Pagi mengikuti lomba dan enggan menyelesaikan perlombaannya, saya merasa Pagi memang belum waktunya mengenal kompetisi. Saya jelaskan bahwa perlombaan di Bekasi, akan kurang lebih sama suasananya.. ramai, banyak orang yang dia tidak kenal, menonton sambil berteriak, suatu keadaan yang paling dihindari oleh Pagi. Tapi berkali-kali diceritakan tentang perlombaan, berkali-kali juga Pagi meyakinkan saya dan Pak Ery bahwa dia ingin mencoba. Ya sudah, setelah berjanji tidak akan mogok dan akan menyelesaikan pertandingannya, selebihnya sudah jadi tugas Ibu yang harus bisa berdamai dengan keadaan dan apapun yang terjadi di lapangan pertandingan nanti. 

Sebenarnya saya punya pendapat sendiri soal perlu tidaknya mengikutkan anak dalam sebuah kompetisi, tapi sekedar untuk lebih meyakinkan diri, sebelum memutuskan mendaftarkan Pagi bertanding, saya membaca banyak artikel terkait hal tersebut. Hasilnya? selalu ada dua sisi mata uang, banyak artikel menyebutkan belum perlu, namun tidak sedikit juga yang berpendapat boleh saja. Meski awalnya tidak mengira akan secepat ini, saya sendiri memang ada di barisan yang memilih untuk mengenalkan kompetisi pada anak, karena sebagai anak yang kongkrit, Pagi tidak cukup diyakinkan dengan hanya lewat cerita, Ia perlu mengalami sendiri sebelum akhirnya bisa merasakan dan mengambil kesimpulan. 

Dari kejuaraan kemarin kami yakin Pagi banyak mendapat cerita baru, bahwa pertandingan sejatinya bukan sekedar persoalan menang atau kalah, tapi juga tentang kerja keras dan mengusahakan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Pengalaman nyata bahwa good things take time, semua perlu proses panjang dan seringnya juga perlu waktu lama, tentu saja tidak ada hasil baik yang bisa diperoleh dengan instan ya Nak? Buat kami yang lebih penting dari itu semua, kemarin Pagi berhasil menepati janjinya, ia menyelesaikan dua pertandingan, meskipun ia menangis sesaat setelah menyelesaikan pertandingannya yang kedua. It's okay, Kak! kamu tetap hebat karena sudah berusaha untuk menepati janji. 

You Might Also Like

2 comments