Zona Tidak Nyaman

10:20:00 pm


Saat mengantarkan Pagi latihan sepatu roda sore tadi, saya tiba-tiba menyadari bahwa bulan depan, Pagi akan genap berusia 6 tahun. Artinya selama itu juga saya dan Pagi berproses saling menyesuaikan satu sama lain. Saling mengerti saling bisa menerima. Lancar? Tentu tidak. Saya masih ingat, saat Pagi menginjak usia 8 bulan, Ia "melakukan" Gerakan Tutup Mulut atau GTM, bersikeras pada pendiriannya untuk tidak mau makan meskipun saya tau dia sangat lapar. Saat itu juga, satu hal yang langsung saya sadari adalah; menerima anak dengan segala sifat, sikap dan perilakunya itu sama sekali tidak mudah.

Bulan berganti tahun, Pagi kecil tumbuh jadi anak yang cerdas. Di usianya yang kedua, Ia lancar bicara dengan artikulasi kata perkata yang sangat jelas. Ia logis dan kritis, tidak pernah kehilangan pertanyaan dengan minat ingin tahu yang besar sekali. Sampai di usianya yang hampir enam tahun ini, di mata saya dan Pak Ery, Pagi semakin punya banyak keistimewaan. Banyak hal baik yang ada dalam diri Pagi yang kami sadari betul, bersamaan dengan kami menyadari kalau Pagi tidak mudah menyesuaikan diri dengan situasi baru pun punya kecenderungan tidak menyukai kompetisi.

Pagi sangat menikmati zona nyamannya, mungkin juga sih, ini efek samping dari kebiasaan saya dan Pak Ery yang saat hari libur tiba, lebih sering menghabiskan waktu berempat saja, tanpa melibatkan orang lain. Pagi selalu memilih rutinitas tetap dengan orang-orang yang sama, santai, tenang, woles, tanpa konflik. yaaa, pokoknya yang biasa-biasa saja. Bukankah seharusnya baik? Rasanya tidak. Karena saya percaya kalau konflik dalam hidup itu harus ada, tidak peduli berapa usiamu saat menghadapinya, sejatinya konflik dan (tentu) cara menyelesaikannya adalah sebuah pembelajaran, kan? 

Saat bagi rapor semester lalu, kakak-kakak fasilitator Pagi di sekolah yang memiliki frekuensi sama dengan saya dan Pak Ery, menyampaikan beberapa pandangan tentang pentingnya kemauan dan kemampuan menghadapi konflik untuk anak seusia Pagi. Memang buat sebagian orang menghindari konflik dianggap sebagai solusi (sesaat). Apalagi buat anak-anak, yaa.. yang penting gak ribut, yang penting gak rebutan. Tapi apakah selalu tepat? Enggak. Nah, karena punya kecenderungan menghindari konflik itu, Pagi jadi sulit mengenali ragam keputusan yang harusnya Ia ambil. Dia tidak tau kapan harus ngotot, kapan harus mempertahankan apa yang seharusnya boleh Ia pertahankan. Kebayang kan, betapa mengganggunya hal tersebut kalau terjadi sampai usianya beranjak besar?

Tapi yang jelas sekarang kami sedang berusaha mengenalkan Pagi pada ragam emosi. Ragam emosi yang sebenarnya sama baiknya. Bukan tidak boleh marah, bukan tidak boleh kecewa. Dia boleh marah kalau dia merasa harus marah, dia boleh bilang tidak kalau memang merasa tidak nyaman. Ini sekaligus mengajarkan pada Pagi soal penghargaan terhadap dirinya sendiri dan pembelajaran bahwa pada kenyataannya "zona tidak nyaman" itu ada, Ia harus mau menerima dan bisa menghadapinya.

Kami ingin memberi sudut pandang baru pada Pagi bahwa sering hidup itu tidak menyenangkan, Nak. Kamu tidak bisa hanya duduk manis lalu selamanya hidup berjalan seperti apa yang kamu inginkan. Tapi kalau kamu siap, kamu bisa tetap menjalaninya dengan bahagia dan baik-baik saja. Terlihat terlalu serius ya, tapi character building buat saya dan Pak Ery memang serius dan selalu jadi bahan diskusi sih. Karena sejujurnya ini soal "menyiapkan" karakter, yang akan ada dan mempengaruhi Pagi dalam mengambil sikap dan keputusan dalam situasi dan kondisi sampai Ia dewasa nanti.  



You Might Also Like

4 comments

  1. life is so hard. Make it simple hahaha itu kalau udah gede jawabannya.😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, aku yakin kalau Pagi bilang begitu, itu karena karakternya sudah terbentuk 😉

      Delete
  2. Sharing cara character buildingnya dong Ajeng

    ReplyDelete
  3. Dapet ilmu baru lagi. Thanks for sharing Kakak.

    Salam kenal dari ibu baru yg anaknya baru 3 jalan ke 4 bulan.

    ReplyDelete