Kenapa, Kenapa dan Kenapa? | Give Away Buku Dear Ayah dan Bunda

6:33:00 pm

Banyak yang bilang, mendidik anak pertama itu salah satu kunci menjadi orang tua. Bukan berarti mendidik yang kedua dan seterusnya menjadi tidak penting. Tapi benar deh, kami sedang mengalami sendiri, di rumah sekarang ada adik bayi kecil yang sangat mengidolakan kakaknya, sehingga apapun yang kakak lakukan selalu terlihat keren untuk kemudian diikuti. Jadi, mengajarkan hal baik pada Pagi akan jadi efek domino yang baik juga buat Aksara. Hal ini juga yang membuat saya dan Pak Ery merasa menghadapi tumbuh kembang Aksara jauh lebih santai.

Hampir lima tahun berjalan Pagi, si anak kecil yang sudah banyak sekali kepintarannya itu, semakin hari semakin punya banyak kejutan untuk saya dan juga Pak Ery. Tentu saja bohong, kalau kami tidak pernah melewati hari-hari panjang yang rasanya sangat melelahkan. Ada kok, fase dimana Pagi susah sekali untuk diajak bekerjasama. Menangis jika diminta mandi, melempar barang, bersikukuh dengan apa yang ia ingin, negosiasi alot yang berakhir dengan saya memilih diam dan meninggalkan Pagi, tidak pergi ke sekolah dengan satu alasan; tidak mau, bahkan marah jika diminta menghentikan aktivitas screentime-nya. Tapi saya percaya hal-hal seperti itu terjadi karena memang Pagi sedang ada di fase mengembangkan dirinya, kemampuan kognitifnya, kemampuan berfikir, menimbang dan mengambil keputusan. Selebihnya, tentu ada lebih banyak hal lain yang lebih menyenangkan.

Siapa yang sering dibuat 'nyess' sama feature on this day yang ada di laman facebook? saya salah satunya. Seperti diingatkan kembali momen dan kejadian selama bertahun-tahun kebelakang. Sering saya tidak percaya kalau ternyata sudah melewati banyak sekali hari-hari bersama Pagi. Lima tahun yang jika sudah dijalani seperti sekarang ini, terasa singkat sekali. Buktinya saja, dibuku Dear, Ayah dan Bunda yang saya baca, usia Pagi sudah ada di fase terakhir yang menjadi pembahasan di dalam buku. Usia transisi dari balita ke usia anak-anak. Saya memang tidak bisa mengingat semua hal tentang tumbuh kembang Pagi, tapi yang selalu saya ingat sejak kecil kemampuan berbahasa Pagi baik sekali. Artikulasi kata perkatanya jelas terdengar dan mudah dipahami bahkan saat usianya belum genap dua tahun. 

Kemampuan bahasa yang baik akhirnya mendukung rasa ingin tau Pagi yang luar biasa besar. Pagi kecil senang sekali bertanya, Ia bertanya apa saja yang menurutnya perlu mendapat jawaban dari saya ataupun Pak Ery. Ketika membaca buku cerita, Pagi akan bertanya tentang siapa saja tokohnya, dimana mereka tinggal dan bagaimana sifatnya. Dilain waktu ketika tidak ada sesi dongeng sebelum tidur, saat lampu kamar sudah remang, saya akan meminta ia bercerita tentang apa yang ingin dia ceritakan, tentang apa yang membuatnya senang hari ini, dan apa yang membuatnya sedih, jika memang ada. Saya mengijinkan ia bertanya (juga) tentang apa saja yang ingin ia tanyakan. Biasanya dari sesi jelang tidur itu, selalu ada pertanyaan diluar dugaan yang membuat saya tersenyum bahkan terharu.

Pernah mendapat pernyataan yang "susah" dijawab? tentu pernah. Kala itu Pagi bertanya tentang kenapa beberapa teman di sekolahnya berdoa dengan menggenggam menyatukan kedua tangan di depan dada? atau tentang kenapa bulan berjalan mengikuti kemana saja kami pergi? juga tentang kenapa ibu makan dengan tangan kiri, saat kami berdua duduk berhadapan. Terakhir baru kemarin ia bertanya tentang apakah di luar angkasa ada toilet? hahahaha. Pertanyaan yang terlihat mudah, tapi ternyata tricky! Buat saya dan Pak Ery, semua pertanyaan Pagi harus kami jawab, meski seringnya susah sekali menemukan jawaban logis untuk Pagi yang usianya belum 5 tahun. Tapi percayalah dari jawaban-jawaban atas pertanyaan kenapa? kenapa? dan kenapa? yang seringnya ajaib itu, kita bisa  membantu anak membangun empati, memahami perbedaan bahkan menanamkan rasa percaya dirinya.

Nah, ceritanya saya mau berbagi 1 buku Dear Ayah dan Bunda yang ditulis oleh Yenita Anggraini. caranya gampang banget; cukup tuliskan cerita/pengalaman pertanyaan kejutan yang muncul dari anak dan bagaimana cara Ibu atau Ayah menanggapinya?

  1. Tulis jawaban di kolom komentar postingan ini. Jangan lupa cantumkan nama, alamat email, serta akun social mediamu (bisa twitter, instagram, atau facebook)
  2. Follow akun twitter @divapress01
Giveaway ini berlangsung sejak tanggal 18-24 Desember 2017. Pemenang akan saya umumkan pada 25 Desember 20017 melalui akun twitter @jengsekar dan instagram @jengsekar. Nantinya pemenang juga akan saya hubungi melalui email. Hadiah akan dikirim ke alamat pemenang di wilayah Indonesia. Jadi ayo ceritakan pertanyaan "ajaib" dan menggemaskan dari anak-anak dan bagaimana Ibu atau Ayah menjawabnya :)



You Might Also Like

8 comments

  1. Nama :Intan tri mufaqoti
    email : Intanteem@gmail.com
    IG/FB : Intan_tri_m // Intan Tri Mufaqoti

    gibran usianya baru 25 bulan, saat perkembangan bahasanya memang sedikit lebih unggul di bandingkan anak2 seusianya dan dari waktu kewaktu semakin berkembang pesat. di usianya yang ke dua tahun ini dia bahkan sudah dapat berbicara dengan 3-4 kalimat lebih, begitu juga rasa ingin tahunya yang semakin besar, segarian sibuk bertanya “apa ini/apa itu?” sambil menunjuk berbagai hal yang menarik baginya, dan pertanyaan spesial pertamanya adalah saat beberapa minggu lalu gibran mendapatkan sebuah kereta api mainan, ketika sedang asik bermain gibran bertanya“bun ini apa?” jadi saya jawab “ ini kereta api kak”
    nah dia tanya lagi “buk mana apinya?”
    haha itu pertanyaan mengejutkan bagi saya, jujur saja saya bingung mau jawab apa. dengan bahasa yang bagaimana saya harus menjawab. jadi sekenanya saja saya jawab “oh iya gak ada apinya ya. jadi namanya kereta aja gak pake api ya”

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaah lucunyaaaa gibran. memang jawab pertanyaan anak-anak itu gampang-gampang susah yaaa, terlebih biasanya kalau habis dijawab selalu muncul pertanyaan baru hahaha..

      Delete
  2. Nama: Dhila
    Email: fadhilmu87[at]gmail.com
    Twitter: @fadhilatulip

    Err, Taqy sudah 26 bulan, tapi perbendaharaan katanya belum banyak. Tidak seperti Gibran mungkin ya, yang sudah bisa membentuk kalimat tanya. Taqy tidak pernah bertanya, maka aku pun ndak bisa share pengalaman soal pertanyaan Taqy seperti apa. Bicara saja masih malas, hehe. Ya, Taqy pendiam. Namun, saya terkejut! Taqy sudah bisa membaca dan berhitung dua bahasa! Huruf latin, angka, dan juga huruf hijaiyah. Meski belum dapat membaca secara kalimat, namun dia sudah jago mengetik huruf sambil menyebutkannya, kadang dalam bahasa Indonesia, kadang dalam bahasa Inggris.

    Mungkin sebenarnya Taqy sering bertanya. Hanya saja dia tidak bertanya dengan lisan (mulut). Taqy bertanya menggunakan jari-jemarinya. Ia selalu menunjuk sesuatu jika ingin tahu. Sewaktu dia belum bisa membaca, dia selalu menunjuk huruf-huruf dan "memaksa" saya mengejanya satu persatu. Selain itu Taqy juga senang "menyuruh" saya berhitung sambil menunjuk angka. Atau dia "memaksa" saya untuk menyebutkan nama-nama gambar dengan telunjuknya. Jika saya capek mengeja sesuatu untuknya, maka dia akan uring-uringan bahkan hingga nangis berguling-guling. Akhirnya dengan semangat yang kadang tinggi, kadang kendor, saya tetap meladeni jari jemari Taqy. Dan mungkin itulah yang menjadi salah satu sebab kemampuannya sekarang.

    Well, yah itulah anak saya Taqy. Unik. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah semoga semakin hari semakin pintar ya Taqy. Selamat menikmati hari-hari penuh kejutan yaaa Dhila <3

      Delete
  3. Aku membaca postinganmu ini malah jd malu & sedih. Lha aku belum bisa jd ortu sebaik dirimu dan kang MEB euy.

    Lhoo malah curhad haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. duuuh ini nih. setiap orangtua kan pasti orangtua terbaik versi anak-anaknya :D

      Delete
  4. nama: kuni 'umdatun nasikah
    e-mail: kuni.umdatun22@gmail.com
    ig: kuniumdatun22 https://www.instagram.com/kuniumdatun22/
    fb: kun kuni https://web.facebook.com/kuni.umdatun
    twitter: kuni_cuny https://twitter.com/cuny_kuni

    aku bukan bunda, aku masih calon bunda. Tapi ntar kapan aku belum tahu, yak.. hehe. Aku masih dewasa awal 20 tahun. Yang aku ceritakan tentunya bukan pengalamanku sendiri. Aku hanya mendengarkan apa yang pernah disampaikan bu dosenku.. Jika kebetulan yang punya cerita ini merasa aku tulis.. Maaf, ya. Aku hanya suka mengambil pelajaran. Begini gambarannya:
    anak kecil bertanya: Bunda, Tuhan itu seperti apa, sih?
    Bunda itu tersenyum lantas mengambilkan air putih. Bunda menyuruhnya meminumnya. Anak itu menurut.
    Bunda bertanya, "bagaimana rasanya?"
    anak menjawab, "manis, Bunda."
    jelas rasanya manis sebab Bunda memasukkan gula ke dalam air itu.
    Bunda bertanya lagi, "warnanya gimana?"
    anak menjawab, "Putih."
    Hikmahnya Bunda mengatakan, "Tuhan itu seperti air tadi. Tidak kelihatan tapi dapat dirasakan. Dedek mengatakan air warnanya putih, kan? Terus rasanya manis, kan?"
    Aku kira pertanyaan seperti tidak boleh sembarangan dijawab. Seorang ibu harus menjadi cerdas mendapati pertanyaan semacam ini dari anaknya yang masih ingin mengetahui banyak hal. Anak yang kebetulan bertanya begitu, cerilah jawaban yang sifatnya real bisa dinalar anak kecil. Nggak perlu jawaban panjang kali lebar, tapi justru membuat anak salah paham. Oke. Makasih.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan tentang Tuhan memang selalu jadi yang paling menarik buat anak-anak yang secara logis harus melihat bentuk ya. Semoga setiap ibu dan calon ibu bisa dengan baik menjelaskan dengan caranya sendiri, supaya rasa ingin tau dan kedekatan anak terhadap penciptanya juga bisa terjaga dengan baik <3

      Delete