Pagi dan Sepatu roda

9:02:00 pm

Belakangan ini saya resmi jadi "anak nongkrong" Saparua, salah satu GOR kenamaan di Bandung yang punya lintasan khusus untuk bermain Sepatu roda. Setiap sabtu dan minggu saya menemani Pagi beraktifitas dengan club sepatu rodanya. Sebelumnya, pencarian aktivitas rutin yang memerlukan gerak fisik atau olahraga memang sudah sering jadi bahan diskusi antara saya dan Pak Ery. Mengingat kebutuhan gerak anak seusia Pagi yang cukup tinggi dan punya peran penting untuk pertumbuhan, sementara kami sadar kurang bisa memenuhinya. Dulu diwaktu-waktu tertentu, demi menstimulasi ketertarikan Pagi pada kegiatan olah fisik, kami mengajaknya menyaksikan pertandingan panjat dinding, berenang, menonton video gymnastic, pencak silat, bercerita tentang menari tradisional bahkan sekolah kayak. Tapi dari sekian banyak kegiatan yang kami kenalkan itu, bisa dibilang antusiasme Pagi standar saja, kalau ditanya mau? Ia akan menjawab mau, untuk kemudian lupa. 

Tapi namanya juga usaha, kami tetap semangat mengajak Pagi berenang, meski selepas berenang pilek berhari-hari. Menonton panjat dinding meski anaknya lebih konsen mencari jamur disekeliling lapangannya hahahaha. Sampai akhirnya tiba-tiba saya ingat dulu Pagi punya satu keinginan yang selalu ia ulang. Ia ingin dibelikan sepatu roda. Saya juga Pak Ery tentu saja tidak serta-merta mengabulkan, bahkan menganggap keinginan Pagi sebagai keinginan musiman, karena memang saat itu sepatu roda mudah ditemui dan banyak dijual dengan berbagai warna dan pilihan harga. Kami sama sekali tidak terpikir untuk membelikan Pagi sepatu roda, selain karena harganya yang tidak murah, mau main dimana? kontur tanah di rumah yang kami tempati sekarang terlalu berisiko untuk berseluncur di atas sepatu roda. Nah, karena selalu mendapat penolakan -beserta berbagai alasan ibu, akhirnya keinginan itu tak pernah kami dengar lagi. 

Berbekal ingatan tentang keinginan sepatu roda itu, disuatu akhir pekan saat sedang berburu sarapan, kami mengajak Pagi main ke Saparua. Awalnya iseng saja, melihat orang-orang yang sedang berolahraga, sambil ngadem dibawah pohon yang rindang-besar. Lalu menyebrang ke tengah lapangan, menonton orang-orang yang meluncur dengan sepatu roda, secara tidak sengaja menujukkan dan memberi sedikit gambaran; seperti ini loh nanti jika kamu ingin berlatih sepatu roda. Panas dan pastinya melelahkan. Tapi Pagi antusias, meski berkali-kali ia bilang kalau ingin belajar sepatu roda tapi tidak ingin kebut-kebutan karena menurutnya itu berbahaya :p Berselang beberapa minggu, kami mengajaknya kembali ke Saparua, dan mengulang hal serupa di minggu-minggu berikutnya. Sepulang dari Saparua, kami akan mengajukan pertanyaan yang kurang lebih sama "Mau belajar sepatu roda kak?" dan Pagi akan menjawab dengan jawaban yang tetap sama juga, "Mau!"

Akhirnya, bulan lalu saya memutuskan untuk mendaftar kelas trial pada salah satu club sepatu roda. Sejujurnya saya dan Pak Ery awam sekali soal olah raga ini. Bahkan sampai hari trial kami belum membelikan sepatu roda untuk Pagi karena masih tidak yakin atas keinginan Pagi, mengingat diantara kami berdua tidak ada yang mewarisi bakat itu. Rasanya ingin sekali lagi bertanya pada Pagi, "sepatu roda banget nih nak? gak panjat tebing aja gitu, lebih ada gen-nya" hahahahaha. Terlebih hari pertama trial, menjadi hari pertama juga untuk Pagi memakai sepatu roda. Ia bahkan belum tau bagaimana caranya berdiri setelah memakai sepatu roda, dan jangan ditanya berapa kali ia terjatuh karena sebelumnya belum pernah memakai sepatu roda. Saya sih sudah pasrah saja kalau sepulang trial anaknya mogok untuk kembali. Jatuh berkali-kali kan bukan hal yang menyenangkan, belum lagi ditambah pemanasan yang menurut saya serius dan sangat menguras energi. 

Setelah melewati beberapa kali pertemuan dan melihat Pagi yang selalu gembira saat berlatih sepatu roda, barulah kami benar lega. Mungkin benar yang bisa kami sediakan saat ini untuk Pagi adalah dukungan penuh. Kami memang menganggap momen ini istimewa, karena kami semacam melewati fase baru dalam keluarga. Ketika biasanya saya atau Pak Ery yang menentukan kegitan ini dan itu karena kami berdua menyukainya. Kali ini kami belajar untuk percaya bahwa Pagi punya pilihannya sendiri. Anak kecil yang dulu masih mudah marah dan murah air mata saat segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, sekarang bahkan tetap semangat meski berkali-kali jatuh dari sepatu rodanya. Anak kecil yang usianya belum genap lima tahun ini sudah bisa menentukan apa yang ingin ia tekuni dan bertanggungjawab terhadap pilihannya sendiri. Ternyata seperti ini ya rasanya percaya dengan apa yang menjadi pilihan anak. Semoga semangat terus ya Kak!



You Might Also Like

4 comments

  1. Semangat terus ya kak Pagi... semoga istiqomah sll dgn pilihanmu... jadi pemain sepatu roda yg keren slalu 😘

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh pemain sepatu roda yg berprestasi slalu..😊

      Delete
  2. saya pernah cidera pas nyoba sepatu roda teman saya, ya bentuknya kayak yg di gambar itu, merknya apa saya gak terlalu ngerti tapi serius susah banget, mau berdiri aja gamang plus takut gak seimbang, hehe..

    ReplyDelete