tentang #maparintuangeun

1:48:00 pm

Rabu siang kemarin, seorang teman menghubungi saya. Berawal dari ketertarikan-nya terhadap kegiatan Maparin Tuangeun yang digagas bersama teman-teman saat saya kuliah dulu, ia mengajak saya mengisi sebuah program acara disalah satu stasiun TV digital di kota Bandung. Awalnya sempat ragu juga sih, lebih karena.. apa gerakan yang baru kami lakukan satu tahun belakangan ini, sudah pantas terpublikasi? 

Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal lain yang menurut kami akan lebih banyak membawa dampak positif, saya menyepakati tawaran pihak InspiraTv. Berikut draft obrolan yang saya rangkum, yang seharusnya diutarakan saat percakapan selama interview, tapi.. karena usia grogi sekaligus pengalaman pertama diajak ngobrol secara live di televisi, ada beberapa kalimat bahkan cerita yang ter-sekip. Tapi postingan ini membantu buat yang belum tau apa itu Maparin Tuangeun. Obrolan antara Agung, Dhanu dan Saya malam tadi semoga bisa sedikit menggambarkan kegiatan yang setiap bulan rutin kami lakukan 😉

Apa itu Maparin Tuangeun?
  • Maparin tuangeun atau dalam Bahasa Indonesia berarti memberi makan, adalah komunitas yang terbentuk dari lingkaran pertemanan kuliah. kami dulu sama-sama aktif di Keluarga Bsar Mahasiswa Teknik Informatika, UNPAD. Maparin Tuangeun pertama kali berlangsung pada Agustus 2016. Setiap bulan, kami berkeliling taman-taman di kota bandung membuka lapak makan siang gratis untuk pedagang asongan, dhuafa dan tunawisma dengan menu-menu istimewa.

Apa yang melatarbelakangi Maparin Tuangeun? 
  • Berawal dari teman-teman kuliah yang meskipun sudah lulus tapi masih rutin ngumpul tiap satu bulan sekali. Biasanya kita nongkrong dari café ke café.. ngobrol haha-hihi, lama-lama kok bosen ya? Akhirnya kami nyoba menggodok ide, bikin kegiatan yang sederhana tapi punya efek besar buat orang lain. Yaudah, kita buka lapak makan gratis di taman kota bandung aja. 
  • Kenapa makan siang gratis? Buat kita yang dikasih rizki cukup, mau makan siang apa aja pasti gampang kan? Pernah gak kepikiran ada berapa banyak orang di luar sana yang menunda makan siang karena mereka gak punya cukup uang, atau makan siang dengan lauk seadanya, nasi putih dan kerupuk, nasi putih dan tahu goreng? Dari situlah kita mantap membentuk komunitas Maparin Tuangeun, kenapa kita pakai Bahasa sunda sebenarnya sih supaya kegiatan ini tuh Bandung banget. 

Dana yang dipakai?
  • Saat awal maparin tuangeun berjalan, kita pakai dana pribadi. Masing-masing udunan, waktu itu belum bisa menyajikan banyak porsi makanan. Kita juga masih harus hemat banget, masak sendiri, menunya pun cuma nasi rames + telur. Waktu itu kita hanya bisa menyajikan 50an porsi makan siang, di Taman Cibeunying. 
  • Seiring berjalannya waktu, kegiatan Maparin Tuangeun mulai banyak dikenal orang. Many thanks to social media. Ini yang kita bilang kekuatan jejaring sosial, kita mau gak mau dibikin percaya bahwa orang baik di negara ini tuh masih banyak sekali jumlahnya. Setiap kali kita bikin kegiatan ini, ada aja yang ngabarin.. mau bawa kue, mau bawa buah bahkan ada yang kasih kita meja lipat dan lusinan piring loh. 

Cara berbaginya?
  • Kita “buka lapak”, berkeliling setiap bulan di setiap taman kota yang kita anggap potensial, banyak pedagang asongan, dhuafa atau tunawisma. Biasanya kita menyajikan 100-150an porsi makan sekali berangkat. Gak hanya makan siang istimewa saja, kita juga menyajikan buah, kudapan manis dan minuman segar, Kita ajak orang-orang di sekitar taman kota untuk duduk istirahat dan makan bareng. Kita yang layani semuanya. 
  • Sistem berbaginya prasmanan, lebih repot? Pasti. Tapi lebih banyak hal baik yang bisa kita ambil dari melayani orang. Coba deh, pernah gak kepikiran nyiapin nasi beserta lauk pauk untuk tunawisma? Cobain bareng kita di maparin tuangeun. Dijamin, ketagihan :D
  • Ramadhan kemarin kita libur buka lapak makan siang yaiyalah, puasa kali, tapi bareng Bandung Oblong (Baong) kita ganti kegiatan dengan berbagi 121 paket kecil Ramadan, yang isinya Sarung/Mukena, cemilan sehat, sanitary kit dan THR untuk banyak dhuafa dan tunawisma yang kami temui di jalan. 

Relawan?
  • Tim inti Maparin Tuangeun sendiri berjumlah kurang lebih 12 orang. Kita bagi-bagi tugas, ada yang ngatur keuangan, ada yang bertanggung jawab atas logistik, ada yang spesialis bikin desain poster publikasi, lalu yang bertugas survey makanan.. ini termasuk yang paling penting karena kami harus memastikan menu-menu makan siang di Maparin Tuangeun spesial. Ada bagian siaga lapangan, juga dokumentasi. Setiap bulan kita koordinasi lewat pesan grup, untuk berbagi tugas. Percaya atau enggak, kita hanya ketemu satu bulan sekali di hari H, karena semua koordinasi kita lakukan melalui aplikasi pesan berkelompok.
  • Seiring berjalannya waktu, selain dari teman-teman keluarga besar informatika (kbifpeduli), banyak juga relawan yang mau partisipasi biasanya berasal dari lingkaran pertemanan juga sih. Saya kenal si A trus pengen gabung, si A ajak teman trus gabung bareng, lama-lama semakin banyak. Kita pernah juga kolaborasi bareng komunitas modern vespa bandung, pernah juga kedatangan teman-teman pramuka SMPN 1 banjaran yang semangat banget bantuin kita. 

Apakah Penyuluhan/Edukasi?
  • Selama ini memang belum ada. Kebanyakan malah dapat curhat dari penjaga taman, atau pedagang-pedagang tentang sulitnya cari modal usaha dan lain-lain. Kedepannya doakan kami bisa konsisten bikin program lain sederhana, tapi juga punya manfaat besar bagi orang banyak. 

Harapan Kedepan?
  • Harapan terbesar kami, semoga banyak komunitas yang menduplikasi kegiatan ini di kota lain. Semoga kebaikan kecil ini bisa menular, melahirkan kebaikan lainnya yang lebih besar. Maparin Tuangeun sekaligus berkampanye, bahwa berbagi kebahagian dan kebaikan untuk orang lain bisa dilakukan dengan cara mudah dan sederhana kok dan percaya atau tidak, efek besar dari kegiatan ini sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, bahwa selalu ada hal yang bisa kita syukuri setiap hari, selalu ada hal baik yang bisa kita jadikan pelajaran hidup setiap hari. dan bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain?







You Might Also Like

6 comments

  1. Keren bu Ajeng, inspiratif sekali #timbuajeng

    ReplyDelete
  2. Kereeeen bu Ajeng.Dulu di Alun-alun kota Pekalongan ada warung rakyat yang hanya buka di hari Jumat, untuk dhuafa.Gratis. Tapi hanya bertahan beberapa bulan saja

    ReplyDelete
  3. wuahhh kita ga beda jauh ternyata sama2 ikutan tes bappenas

    selese tes rasanya mau gebukin orang ga sih saking kzl nya ama itu soal2 :p

    ReplyDelete
  4. salah posting komen dong hahahahaha...

    ReplyDelete