Pertanyaan Pagi

10:41:00 am

Dulu saat Pagi masih ada pada usia menyebut-sesuatu-dengan-akhir-suku-katanya-saja, saya tidak membayangkan ia akan tumbuh besar dengan banyak sekali pertanyaan tak terduga. Atau jikapun akan senang bertanya, saya pikir pertanyaannya standar saja. Seputar ini apa? itu apa? kenapa ada ini? -- ya, semacam itulah.

Kenyataannya saat ini Pagi sedang secara alamiah membentuk kemampuan kognitifnya, Ia sedang berada diusia/fase berusaha memahami kenapa suatu hal bisa terjadi, sebab-akibat secara logika tapi sekaligus belum bisa mengesampingkan imajinasinya. Jadi semakin hari, semakin banyak pertanyaan yang Ia ajukan dan membutuhkan jawaban super tricky dari Ibu. Sebenarnya lebih karena saya tidak mau Pagi merasa mudah cukup dan berhenti atas jawaban saya berikan. Suatu hari ia perlu mencari tau dan menyimpulkan sendiri dengan bekal pengetahuan dan pemahaman yang ia miliki. 

Selain hal baru, yang mengherankan atau yang biasanya baru ia temui, kemudian memancingnya untuk mengajukan pertanyaan, Pagi juga mulai menyadari ada banyak perbedaan yang setiap hari ia temui dan harus ia tanyakan. Seperti kenapa Ia berambut ikal, sedang Bapak dan Adik berambut lurus. Kenapa beberapa teman berdoa dengan posisi tangan yang berbeda, kenapa semut sering mengambil makanan, atau kenapa ia tidak bisa bertemu Tyrannosaurus, padahal setiap hari Ia selalu bernyanyi tentang Tyrannosaurus bersama teman-temannya?

Sering dibuat takjub, pertanyaan anak-anak itu filosofis sekali ya? Suatu hal yang menurut kita, orang dewasa, tidak perlu ditanyakan/dicari jawabannya, buat mereka adalah hal yang menarik untuk dipahami dan dicari tau. Ini sekaligus jadi pengingat untuk diri sendiri sih, ketika anak-anak terus bertanya, artinya mereka juga sedang terus mengembangkan kemampuannya. Meskipun kadang kalau sudah kehabisan energi untuk memikirkan jawaban, saya sering meminta Pagi untuk istirahat bertanya atau melanjutkan pertanyaannya nanti setelah Pak Ery ada dirumah :p

Oh iya, selain pertanyaan yang menguji jawaban tricky, biasanya Pagi juga sering mengajukan pertanyaan yang menguji konsistensi saya. Pernah gak sih, pas lagi malas merasa repot dan dengan mempertimbangkan berbagai macam kemungkinan, tiba-tiba urung menerapkan peraturan yang dibuat oleh kita sendiri?

: Ibu, aku mau minum susu
: Ok
: Ibu, kenapa pakai dot?
: biar gak tumpah-tumpah kak..
: tapi aku kan sudah besar ibu, katanya kalau sudah besar gak boleh pake dot?
: Rrr.. oke. 

atau

: Ibu, aku mau buang sampah tapi pintu dapurnya ditutup
: *males bukain pintu* Ya sudah taruh disitu dulu..
: Katanya gak boleh? kalau taruh disini nanti banyak semut kan, Bu?
: Nggg.. *melipir bukain pintu*

Ada yang pernah mengalami hal serupa? Gapapa, artinya kita manusia biasa, tempatnya salah dan khilaf, hahahahahaha. Kadang lupa kalau sekarang kita sudah tidak bisa seenaknya seperti dulu, lupa kalau sekarang ada anak kecil yang menyerap, merekam, meniru dan mengawasi setiap gerak-gerik dan apapun yang kita ajarkan, untuk "mengingatkan" saat kita lupa dan mulai malas

: Ibu, lihat Pandodo (boneka beruang) gak?
: Enggak, dimana terakhir nyimpennya?
: Aku lupa ibu..
: Ayo coba cari, harus bertanggung jawab sama barang sendiri. 

beberapa hari kemudian

: Kakak, lihat kacamata ibu gak?
: Enggak. Ibu harus tanggung jawab, itu kan punya ibu. 

skak mat. 



You Might Also Like

3 comments

  1. Pagi idolaque.... Ara pujaanque.... xixixixixixixixi

    ReplyDelete
  2. hahaha sama!
    Mereka itu selamanya akan menjadi reminder kita untuk menjadi lebih baik dan konsisten ;)

    ReplyDelete