tentang #maparintuangeun

Friday, July 21

Rabu siang kemarin, seorang teman menghubungi saya. Berawal dari ketertarikan-nya terhadap kegiatan Maparin Tuangeun yang digagas bersama teman-teman saat saya kuliah dulu, ia mengajak saya mengisi sebuah program acara disalah satu stasiun TV digital di kota Bandung. Awalnya sempat ragu juga sih, lebih karena.. apa gerakan yang baru kami lakukan satu tahun belakangan ini, sudah pantas terpublikasi? 

Tapi setelah mempertimbangkan banyak hal lain yang menurut kami akan lebih banyak membawa dampak positif, saya menyepakati tawaran pihak InspiraTv. Berikut draft obrolan yang saya rangkum, yang seharusnya diutarakan saat percakapan selama interview, tapi.. karena usia grogi sekaligus pengalaman pertama diajak ngobrol secara live di televisi, ada beberapa kalimat bahkan cerita yang ter-sekip. Tapi postingan ini membantu buat yang belum tau apa itu Maparin Tuangeun. Obrolan antara Agung, Dhanu dan Saya malam tadi semoga bisa sedikit menggambarkan kegiatan yang setiap bulan rutin kami lakukan 😉

Apa itu Maparin Tuangeun?
  • Maparin tuangeun atau dalam Bahasa Indonesia berarti memberi makan, adalah komunitas yang terbentuk dari lingkaran pertemanan kuliah. kami dulu sama-sama aktif di Keluarga Bsar Mahasiswa Teknik Informatika, UNPAD. Maparin Tuangeun pertama kali berlangsung pada Agustus 2016. Setiap bulan, kami berkeliling taman-taman di kota bandung membuka lapak makan siang gratis untuk pedagang asongan, dhuafa dan tunawisma dengan menu-menu istimewa.

Apa yang melatarbelakangi Maparin Tuangeun? 
  • Berawal dari teman-teman kuliah yang meskipun sudah lulus tapi masih rutin ngumpul tiap satu bulan sekali. Biasanya kita nongkrong dari café ke café.. ngobrol haha-hihi, lama-lama kok bosen ya? Akhirnya kami nyoba menggodok ide, bikin kegiatan yang sederhana tapi punya efek besar buat orang lain. Yaudah, kita buka lapak makan gratis di taman kota bandung aja. 
  • Kenapa makan siang gratis? Buat kita yang dikasih rizki cukup, mau makan siang apa aja pasti gampang kan? Pernah gak kepikiran ada berapa banyak orang di luar sana yang menunda makan siang karena mereka gak punya cukup uang, atau makan siang dengan lauk seadanya, nasi putih dan kerupuk, nasi putih dan tahu goreng? Dari situlah kita mantap membentuk komunitas Maparin Tuangeun, kenapa kita pakai Bahasa sunda sebenarnya sih supaya kegiatan ini tuh Bandung banget. 

Dana yang dipakai?
  • Saat awal maparin tuangeun berjalan, kita pakai dana pribadi. Masing-masing udunan, waktu itu belum bisa menyajikan banyak porsi makanan. Kita juga masih harus hemat banget, masak sendiri, menunya pun cuma nasi rames + telur. Waktu itu kita hanya bisa menyajikan 50an porsi makan siang, di Taman Cibeunying. 
  • Seiring berjalannya waktu, kegiatan Maparin Tuangeun mulai banyak dikenal orang. Many thanks to social media. Ini yang kita bilang kekuatan jejaring sosial, kita mau gak mau dibikin percaya bahwa orang baik di negara ini tuh masih banyak sekali jumlahnya. Setiap kali kita bikin kegiatan ini, ada aja yang ngabarin.. mau bawa kue, mau bawa buah bahkan ada yang kasih kita meja lipat dan lusinan piring loh. 

Cara berbaginya?
  • Kita “buka lapak”, berkeliling setiap bulan di setiap taman kota yang kita anggap potensial, banyak pedagang asongan, dhuafa atau tunawisma. Biasanya kita menyajikan 100-150an porsi makan sekali berangkat. Gak hanya makan siang istimewa saja, kita juga menyajikan buah, kudapan manis dan minuman segar, Kita ajak orang-orang di sekitar taman kota untuk duduk istirahat dan makan bareng. Kita yang layani semuanya. 
  • Sistem berbaginya prasmanan, lebih repot? Pasti. Tapi lebih banyak hal baik yang bisa kita ambil dari melayani orang. Coba deh, pernah gak kepikiran nyiapin nasi beserta lauk pauk untuk tunawisma? Cobain bareng kita di maparin tuangeun. Dijamin, ketagihan :D
  • Ramadhan kemarin kita libur buka lapak makan siang yaiyalah, puasa kali, tapi bareng Bandung Oblong (Baong) kita ganti kegiatan dengan berbagi 121 paket kecil Ramadan, yang isinya Sarung/Mukena, cemilan sehat, sanitary kit dan THR untuk banyak dhuafa dan tunawisma yang kami temui di jalan. 

Relawan?
  • Tim inti Maparin Tuangeun sendiri berjumlah kurang lebih 12 orang. Kita bagi-bagi tugas, ada yang ngatur keuangan, ada yang bertanggung jawab atas logistik, ada yang spesialis bikin desain poster publikasi, lalu yang bertugas survey makanan.. ini termasuk yang paling penting karena kami harus memastikan menu-menu makan siang di Maparin Tuangeun spesial. Ada bagian siaga lapangan, juga dokumentasi. Setiap bulan kita koordinasi lewat pesan grup, untuk berbagi tugas. Percaya atau enggak, kita hanya ketemu satu bulan sekali di hari H, karena semua koordinasi kita lakukan melalui aplikasi pesan berkelompok.
  • Seiring berjalannya waktu, selain dari teman-teman keluarga besar informatika (kbifpeduli), banyak juga relawan yang mau partisipasi biasanya berasal dari lingkaran pertemanan juga sih. Saya kenal si A trus pengen gabung, si A ajak teman trus gabung bareng, lama-lama semakin banyak. Kita pernah juga kolaborasi bareng komunitas modern vespa bandung, pernah juga kedatangan teman-teman pramuka SMPN 1 banjaran yang semangat banget bantuin kita. 

Apakah Penyuluhan/Edukasi?
  • Selama ini memang belum ada. Kebanyakan malah dapat curhat dari penjaga taman, atau pedagang-pedagang tentang sulitnya cari modal usaha dan lain-lain. Kedepannya doakan kami bisa konsisten bikin program lain sederhana, tapi juga punya manfaat besar bagi orang banyak. 

Harapan Kedepan?
  • Harapan terbesar kami, semoga banyak komunitas yang menduplikasi kegiatan ini di kota lain. Semoga kebaikan kecil ini bisa menular, melahirkan kebaikan lainnya yang lebih besar. Maparin Tuangeun sekaligus berkampanye, bahwa berbagi kebahagian dan kebaikan untuk orang lain bisa dilakukan dengan cara mudah dan sederhana kok dan percaya atau tidak, efek besar dari kegiatan ini sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. 







sekolah lagi

Friday, July 14

Siapa yang punya keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang pascasarjana? Saya termasuk yang belum, mmmm tapi itu beberapa bulan lalu. Kemudian berubah pikiran setelah didukung oleh banyak orang baik di sekitar saya. Sejujurnya, sebagai ibu bekerja dengan dua anak, untuk menjadi mahasiswi program magister di salah satu institusi terbaik kok rasanya ngeri-ngeri sedap. Iya, sampai detik ini saya masih secemen itu. Tapi setelah banyak berdiskusi dengan pak ery, atasan di tempat saya bekerja dan dosen pembimbing saat kuliah dulu yang luar biasa baiknya, rasanya malu kalau saya masih kekurangan semangat. 

Akhirnya bulan mei lalu, dengan sadar saya mengeluarkan diri sendiri dari zona nyaman. Saya mendaftar kuliah (lagi). Nah sebagai yang terakhir menjadi mahasiswa nyaris 10 tahun lalu, ujian masuk pascasarjana ITB jadi tantangan sendiri buat saya. Dibilang susah buat sebagian orang mungkin enggak, tapi buat saya.. gak bisa dibilang mudah juga. Makanya saya bercerita sedikit pengalaman saya selama mengikuti ujian masuk pascasarjana. Siapa tau nanti ada yang berminat melanjutkan sekolah di kampus berlambang gajah :D

Untuk masuk pascasarjana di ITB, salah satu syaratnya adalah nilai ELPT minimal 71 (atau untuk TOEFL setara 475). ELTP yang merupakan sebuah test kemampuan berbahasa inggris sebagai tes prediksi dari TOEFL®ITP. Di Indonesia baru ada dua perguruan tinggi yang punya izin untuk melaksanakan test ini, ITB dan UNAIR. Kalau boleh bilang, ELTP ini testnya lebih mudah dari TOEFL, biayanya juga terhitung murah, hanya tujuh puluh lima ribu rupiah saja. Lagi pula test ELPT ini diadakan setiap minggu, jadi jika minggu ini tidak lulus.. minggu depannya bisa diulang lagi, begitu seterusnya. Ini penting banget untuk menjaga semangat dan optimisme calon mahasiswa yang sudah bukan remaja seperti saya hahahahaha. 

Sub testnya mirip seperti TOEFL; Listening, Structure dan Reading. Sebelum test saya banyak belajar mencari tips mengerjakan ELTP ahahahahaha. Eh tapi buat yang persiapannya kurang matang kayak saya kemarin, tips yang bertebaran di internet itu bermanfaat banget loh. Misalnya ketika listening jangan hanya fokus kepada isi percakapan, tapi juga mulai mengartikan jawaban. Lalu untuk untuk reading.. jangan langsung membaca semua artikel pada soal, karena selain panjang artikel, waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal sangat terbatas. jadi, disarankan membaca dulu pertanyaan, baru cari jawabannya di artikel yang dimaksud. 

Syarat yang kedua yaitu Test Potensi Akademik yang diselenggarakan oleh bappenas. Test ini bisa diikuti di ITB atau langsung datang ke penyelenggara test yaitu koperasi Bappenas. Nilai minimumnya 450. Jenis soal testnya hampir sama seperti saat saya mengikuti ujian CPNS dulu, sub testnya terbagi tiga; Bahasa, Matematika dan Logika. Tapi yang ini tingkat kesulitan soalnya lebih sadis menurut saya, entah karena faktor usia juga sih ya tua. Soal TPA sendiri sepertinya selalu berkembang dari tahun ketahun. Jadi buat yang niat banget belajar TPA, saran saya belajar matematika dasar dan logikanya aja deh. Karena jumlah soalnya paling banyak dan paling susah buat ditembak jawabannya hahahahaha. 

Ada 250 soal yang dikerjakan dalam waktu 180 menit. Jadi satu soal, gak sampai satu menit. Terlihat sepele? tunggu sampai bertemu lembar soal berwarna merah. Mau pura-pura pingsan aja deh rasanya hahahahaha. Tips dari saya, jangan lupa sarapan, kerjakan soal yang benar-benar bisa, PASS soal yang kita ragu/gak yakin bisa dan jangan pernah berfikir lebih dari satu menit untuk satu soal. CATET! Trus nasib soal yang gak dijawab gimana? Tenang, pilih satu opsi jawaban untuk menjawab semua soal yang tidak bisa dikerjaan, atau bahasa premannya "tembak ajaaa udaaaah.. tembaaaak.." ahahahaha, eh ini serius loh. menjawab dengan satu opsi jawaban punya peluang benar yang lebih besar ketimbang kita menembak jawaban dengan acak. 

Setelah kedua test tersebut selesai, masih ada test internal program studi yang harus dilewati. Pada program studi yang saya ambil, masih ada Test matematika diskrit, Pengetahuan teknologi informasi dan Wawancara yang kesemuanya dilakukan dalam satu hari. Untuk matematika diskritnya tarik nafas panjang aja deh. Soalnya susah pake banget hahahahahha. Pakai sistem minus pula. pengetahuan teknologi informasi semua soal dan jawabannya dalam bahasa inggris, begitupun wawancaranya. Pertanyaan wawancara memang gak sulit, tapi buat saya menjabarkannya menjadi sebuah definisi dalam bahasa inggris itu PR banget. Keringetan deh pokoknya selama wawancara hahahahaha. 

Alhamdulillah semua sudah terlewati, saya sudah melakukan usaha terbaik semampu saya. Meskipun sempat pasrah what ever will be will be, selepas test TPA yang jawabannya banyak sekali saya tembak hahahahahaha. Tapi alhamdulillah (lagi) kemarin sudah dapat kabar baik, saya diterima sebagai mahasiswa pascasarjana di salah satu sekolah keteknikan di ITB, memang kepastian soal beasiswa belum ada. Tapi setidaknya satu langkah sudah terpenuhi, sudah berikhtiar sebaik yang saya bisa. Tinggal berdoa semoga apa yang saya inginkan, sama seperti apa yang Allah takdirkan. aamiiin. Doakan saya ya!


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS