menabung untuk #rumahutara

10:04:00 pm

sejak membangun rumah utara, saya sering mendapat pertanyaan dari teman-teman yang kurang lebih begini; "berapa lama menabung untuk bisa membangun rumah?"

pertanyaan yang biasanya hanya dijawab dengan tertawa. karena memang kami bingung berapa lama ya? mmm.. tapi sebagai gambarannya, bayangkan selama lima tahun pernikahan kami belum pernah berlibur ke luar kota. bahkan sekedar ke jogja yang bisa ditempuh dengan beberapa jam perjalanan kereta dari bandung-pun, kami belum pernah. beberapa orang merasa kami berlebihan, apalagi kampanye wajib liburan akhir-akhir ini marak sekali disuarakan. memang, dulu ketika masing-masing kami belum menikah, kami menjunjung tinggi prinsip yang sama. bahwa hidup berarti perjalanan, bahwa salah satu tujuan bekerja adalah untuk berlibur. 

tapi bahwa prinsip hidup adalah sebuah pilihan, juga tidak bisa kami lupakan. saat memilih mewujudkan satu mimpi bernama rumah, sebagai pasangan yang sadar betul rata-rata rupiah yang bisa kami hasilkan setiap bulan, maka kami memutuskan untuk menunda beberapa mimpi juga kesenangan lain, salah satunya berlibur. selain pertimbangan berapa pundi rupiah yang harus kami sisihkan baik-baik, kami juga mempertimbangkan pagi dan aksara yang (menurut kami) pada usianya sekarang ini belum terlalu bisa menikmati perjalanan liburan. tentu saja pernah ada masa-masa dimana saya sangat ingin berplesir. sudah mencari tiket, mencari alternatif penginapan. tapi setelah dikalkulasi, ah.. rasanya masih bisa ditunda untuk sesuatu yang lebih besar. 

alhamdulillah selama lima tahun ini dimudahkan. malah kalau sedang pillow-talk sering sama-sama tidak percaya, kami yang dulunya sama-sama bermimpi ingin mengunjungi negara-negara kecil yang tidak populer setiap tahunnya, malah melewati bertahun-tahun tanpa mengagendakan waktu khusus untuk berlibur. tapi nyatanya kami tetap baik-baik saja. memang sih, sebagai kompensasi, pak ery sering mengajak kami menghabiskan satu hari penuh menepi dari kota bandung untuk bermain air di sungai, berkemah atau yang paling sering dan murah-meriah, berkeliling kota dengan berjalan kaki. begitu saja rasanya sudah bahagia kok.

selain itu sejak awal menikah, kami memilih untuk tidak membeli mobil baru. ingat dulu diawal tahun 2013 pak ery masih harus meminjam mobil untuk mengantar saya menuju klinik bersalin. beberapa bulan setelah kelahiran pagi, alhamdulillah "berjodoh" dengan sebuah taft tua bermesin berisik lengkap dengan pendingin yang tidak berfungsi. taft yang diproduksi sejak dua puluh tujuh tahun itulah yang menemani kami sampai saat ini. jika diceritakan soal kenyamanannya memang jauh sekali dibandingkan mobil keluaran terbaru, tapi setidaknya empat roda yang berfungsi seluruhnya membuat kami tidak perlu khawatir jika berkunjung ke suatu tempat, melewati jalan jenis apapun :D

sejak dulu pak ery juga berkarakter fungsional. selain buku, ia nyaris tidak pernah membeli barang lain berdasarkan keinginan. biasanya pak ery membeli barang dengan kualitas baik untuk jangka waktu pemakaian yang lama. ya, pak ery tidak punya banyak barang, ia punya satu jam tangan, satu sandal, satu ponsel yang sudah kurang pintar, sepatu, tas dan beberapa barang lain yang ia kenakan usianya sudah bertahun-tahun. meskipun belum semahir pak ery dalam mengendalikan keinginan, sedikit banyak saya belajar dari apa yang selama ini ia terapkan dalam keseharian. seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa membeli/memiliki banyak barang tidak membuat manusia menjadi apapun. kita akan tetap menjadi orang yang sama. dengan sifat dan karakter yang sama juga. iya kan?

nah, mungkin karena beberapa hal diatas itu juga yang membuat orang lain melihat rumah utara mudah diwujudkan. hanya terlihat mudah loh ya.. karena bagi kami yang menjalani dan mendampingi prosesnya sama sekali tidak mudah, membangun rumah utara "menguras" segalanya, tabungan, fisik, psikis, energi, juga emosi *kemudian curhat* ahahahahaha. bersyukur karena setidaknya, kami sudah melalui tiga perempat proses membangun rumah utara. memang sama sekali tidak mudah tapi sangat layak untuk diperjuangkan. yang jelas bantu doakan agar kami bisa segera pindah dan menempati rumah utara ya! 

dokumentasi proses membangun rumah utara bisa dilihat disini

You Might Also Like

6 comments

  1. AMIIIIIIIIIIN!

    Kalian kwren pokokna mah, hedop pak Eri! #lah

    ReplyDelete
  2. mantappp buajeeenggg.. perjalanan membangun rumah utaranya patut diacungi jempol dan dijadikan tauladan (y)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiin. eh gara-gara dirimu aku jadi kepo maksimal sama instagramnya homepinesss itu loh. keceeeeee <3

      Delete
  3. Perlu ditiru
    Apalagi yang beli tegel bermotif.

    ReplyDelete