menjadi ibu itu memaafkan

9:49:00 pm

lima tahun lalu, rasanya saya tidak pernah membayangkan ada diposisi saat ini. menjadi ibu dari dua anak perempuan. dulu saat pertama kali memutuskan ingin memiliki anak-pun, saya tidak pernah tau alasannya selain : setelah menikah selanjutnya ya punya momongan, kan? kemudian semua mengalir begitu saja, sejujurnya saya tidak pernah benar-benar mempersiapkan mmm.. lebih tepatnya, tidak tau harus mempersiapkan apa?

satu tahun usia pernikahan, pagi kecil yang kami tunggu-tunggu, hadir melengkapi kehidupan saya dan pak ery. tentu saja kami bahagia. tapi kami, terutama saya, tidak banyak menyiapkan kedatangan pagi. sehingga masih ingat betapa dulu, saya kaget sekali menghadapi bulan-bulan pertama pasca kelahiran. baby blues, menangis tanpa sebab, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana. bahkan saya sempat merasa kesal ketika dengan tamu yang berdatangan, saya lelah, rasanya saya ingin menutup pintu dan mengatakan bahwa saat ini yang saya butuhkan hanya istirahat.

ada rasa sesal yang timbul karena ketidaktahuan, bahwa selain bahagia, menjadi ibu baru juga artinya menguras energi dan pikiran. bersyukur karena pak ery selalu ada disaat saya harus melewati masa-masa paling drama dalam hidup. sampai akhirnya, semakin lama saya semakin terlatih beradaptasi dengan status sebagai ibu. apa kemudian persoalan selesai dan setiap detik berjalan indah? tentu tidak. setelah drama berakhir, muncul episode baru yang tak kalah menguras air mata yaitu perasaan bersalah.

tentu ada banyak sekali perasaan bersalah yang pernah dialami seorang ibu. mulai dari yang hal-hal remeh, sampai yang paling membekas di hati, versi saya saat memutuskan untuk menyapih pagi di usianya yang ke 26 bulan. saya menyapih pagi dengan mengantar dan meninggalkannya bersama ibu selama dua minggu, di lampung. padahal saat itu saya tau betul menyapih adalah satu fase terberat yang dihadapi seorang anak. harusnya, saya mendampingi. harusnya saya ada untuk meyakinkan pagi bahwa ini tidak akan berlangsung lama dan bahwa ia akan baik-baik saja.

cukup sampai disitu?

tentu tidak. masih ada pasal utama yang saya duga selamanya akan saya rasakan. apalagi kalau bukan karena saya seorang ibu bekerja. tentu saja saya bohong jika mengaku tidak pernah merasa bersalah atau tidak pernah merasa sangat sedih meninggalkan pagi dan aksara dirumah, terlebih ketika mereka sakit, atau ketika masa-masa awal pagi beradaptasi dengan sekolah barunya, sementara saya tidak bisa menemani karena the show must go on. memilih menjadi ibu bekerja, memang salah satu keputusan paling dilematis dalam hidup. tapi.. saya masih percaya (setidaknya untuk saat ini) bekerja adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan dan tolong jangan ajak saya berdebat tentang ini :D

maka sejak menjadi ibu, saya tau, salah satu yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah belajar memaafkan diri sendiri atas banyak keputusan yang saya ambil. keputusan untuk weaning with (no) love, keputusan untuk bekerja, keputusan untuk membeli masakan cepat saji ketika saya enggan memasak, keputusan untuk melewatkan rutinitas membaca ketika saya sedang sangat lelah, keputusan untuk menaikkan intonasi suara ketika lapisan sabar saya sudah sangat tipis. keputusan yang mungkin tidak tepat, atau bahkan salah. apapun itu, saya terus belajar untuk memperbaiki dan tentu saja, memaafkan diri sendiri.



You Might Also Like

9 comments

  1. Saya tiba2 sedih saja membaca hal ini, mendadak inget dirinya yg sedang di rumah *malahcurcol* tetaplah kuat ibu!

    ReplyDelete
  2. bekerja adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan dan tolong jangan ajak saya berdebat tentang ini.



    tolong buuuu tolong.. wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. heiiiss.. tolong dibawa itu kalimat dalam tanda kurung. setidaknya untuk saat ini. cateeeet. untuk saat ini. nyahahahahaha..

      Delete
    2. huahuahahauhau, udahlah. tanda kurungnya udah disimpan dalam hati wkwk

      Delete
  3. "bekerja adalah hal terbaik yang bisa saya lakukan dan tolong jangan ajak saya berdebat tentang ini".

    Sayapun idem banget di bagian ini, setidaknya untuk saat ini. Persis! Semangat terus para Ibu!! 😊
    -Tatat

    ReplyDelete
  4. Kak Ajeng, kuat terus ya ^^
    Ga usah dipedulikan orang2 yang demen banget nge-judge posisi yang Kak Ajeng pilih anak anaknya. Salam untuk Pagi dan Aksara :)

    ReplyDelete
  5. Apakah fulltime mom at home sama sekali lepas dari rasa bersalah? Salah besar. Rasa itu datang dengan cara yang berbeda. Bagaimanapun jarak memberikan kualitas hubungan yang baik pada anak. Mereka jarang melihat kekurangan kita sebagai manusia. Itu sulit dihindari bagi kami yang 100 persen di rumah. Kami tidak tampak seperti malikat, malah terkadang tidak lebih berharga dari teman sepermainan, anak tetangga...

    ReplyDelete
  6. Tak banyak kata. Peluk sayang untuk bu ajeng...

    ReplyDelete
  7. semangat terus para ibu. Aku juga istriku yg kerja. Daku mah main aja terus di rumah. hehehe

    ReplyDelete