tiga puluh

Wednesday, November 30

bulan ini saya memasuki usia yang ke tiga puluh, setelah beberapa kali #menolaktua toh akhirnya saya harus meninggalkan usia dua puluhan yang bagai roller coaster. buat saya sepuluh tahun terakhir kemarin merupakan masa-masa luar biasa. mulai dari mengalami kegelisahan khas anak muda, mencari jati diri, berjibaku menyelesaikan studi, menjadi pengangguran sekaligus merasakan pertama kalinya bekerja dan dibayar secara profesional, mengalami drama-drama kisah cinta *uhuk*, mengambil keputusan terbesar dalam hidup, menikah sampai akhirnya memiliki dua anak. semua terjadi di umur dua puluhan dan sekarang akhirnya saya menjejak angka tiga puluhan, usia yang belum terlalu tua untuk menggenapkan anak menjadi empat (eh, gimana?) hahahahaha.

jadi apa saja perubahan yang saya alami selama sepuluh tahun terakhir? yang jelas banyak hal yang dulu saya anggap rumit dan menakutkan, sekarang menjadi lebih sederhana, pun sebaliknya. contoh nyatanya saja, dulu buat saya teman adalah segalanya. saya tidak bisa membayangkan betapa kosongnya hidup tanpa si A yang asik jadi partner traveling, si B yang seru diajak berburu diskon, si C yang dewasa sampai Z yang hafal tempat makan murah meriah sejagat bandung. sekarang teman dan juga orang-orang disekitar saya, meskipun jumlahnya menjadi jauh lebih sedikit, menurut saya adalah orang-orang terbaik yang memang terpilih untuk menemani sisa hidup saya. bisa dibilang mereka pasti ada karena proses perubahan dalam diri yang saya alami beberapa tahun belakangan ini.

semakin tua bertambah usia yang jelas membuat semakin enggan berdebat. rasanya masih banyak hal yang lebih membahagiakan dalam hidup selain beradu argumen soal apa yang kita yakini. karena hal-hal seperti ini buat saya adalah bagian dari privasi, biasanya hanya pak ery dan orang-orang terdekat yang tau kepada siapa saya berpihak dan apa alasan keberpihakan saya tadi. tidak perlu merasa paling benar, lalu membentangkan jarak untuk orang-orang yang kita anggap tidak punya satu pemahaman. karena pertanyaan selanjutnya, untuk apa memaksa orang lain menjadi sama seperti kita? meminjam kalimat edza "selama ini kita berteman dari ketidaksamaan. tidak perlu seragam tidak perlu persis.. karena yang persis dan seragam kadang tidak indah dan tidak kaya". saya sih sepakat.

semakin hari pergeseran makna bahagia juga ikut terjadi. kalau dulu saya berambisi untuk mencapai hidup yang berlimpah, sekarang yang penting kami semua sehat dengan formasi lengkap berempat, rasanya sudah bahagia. kalau dulu membayangkan kami akan bahagia jika sering bepergian keluar negara untuk berlibur, sekarang rasanya lebih selo, menghabiskan akhir pekan dengan bermalas-malasan dirumah, memasak sarapan sederhana, menunda mandi, lalu doing nothing sepanjang hari sambil saling bercerita, mendengar pertanyaan-pertanyaan pagi untuk kemudian kami, saya dan pak ery akan saling lempar kewajiban menjawab jika pertanyaan pagi sudah melampaui level super ajaib. iya, buat saya sekarang yang seperti itu namanya kemewahan.

tiga puluh tahun, yang jelas saya mulai terbiasa untuk menerima dan menyadari bahwa perubahan dalam diri kita itu sifatnya pasti, percayalah, selain waktu, lingkungan yang berpengaruh, sebenarnya diri kita sendiri juga punya andil besar karena menyetujui dan menerima perubahan tersebut. sekarang tinggal dirayakan dan dinikmati saja prosesnya, bukankah sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang bisa kita nikmati?


jodoh dan komunitas

Sunday, November 13

bisa dibilang organisasi serius pertama yang saya ikuti adalah saat sekolah menengah atas dulu, tahun 2001 alih-alih menjadi siswa baik-baik dengan bergabung di organisasi karya ilmiah remaja atau pasukan bendera saya malah memilih untuk menjadi siswa pecinta alam yang hampir semua anggotanya punya cap khusus sebagai siswa nakal istimewa. saya sendiri dulu tak terhitung berapa kali harus berdiri menghadap tiang bendera sepanjang siang. penyebabnya beragam; mendukung teman berkelahi, mangkir upacara 17 agustus karena memilih mendaki gunung, sampai yang paling remeh dan paling sering; membolos kelas karena malas hahahaha. memang sering berbuat onar sekaligus kritis adalah ciri sebagian besar anggota pecinta alam sekolah saat itu. tapi kalau boleh jujur, organisasi pecinta alam inilah yang punya peran besar membentuk pola berfikir juga karakter saya sampai hari ini.
 
tahun 2004, status sebagai mahasiswa baru membuat runutan acara himpunan mahasiswa seolah wajib untuk saya ikuti. jadi sebenarnya saat itu tidak ada motivasi khusus menjadi anggota himpunan mahasiswa selain kepasrahan. mulai dari orientasi dan pengenalan kampus, sampai malam silaturahmi yang menampilkan senior-senior berbadan besar dan bersuara lantang di puncak acaranya saya ikuti dengan penuh hikmat. penderitaan tentu belum berakhir, menjabat sebagai pengurus himpunan, mengadakan berbagai kegiatan selama satu tahun, lalu menghadapi senior dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan menggemaskan saat laporan pertanggung jawaban membuat kami semua sadar, dunia tidak selalu indah seperti apa yang kami impikan setiap hari hahahaha. tapi kepasrahan saya dulu berbuah manis kok, sampai saat ini setelah belasan tahun berlalu teman-teman himpunan mahasiswa masih menjadi yang terbaiks! teman-teman yang sangat bully-able dan masih menjadi tempat bercerita juga berdiskusi tentang apa saja.  

lepas dari status mahasiswa di tahun 2007, saya menjadi anggota Rotaract Club Bandung Sentral Kota Kembang. klab yang membuka mata saya, sekaligus membuat saya sadar bahwa kota Bandung adalah surganya komunitas, nyatanya kota ini memang menjadi "hidup" karena berbagai komunitasnya. mau cari komunitas apa saja disini, rasanya semua ada. mulai dari komunitas sehat, seperti yoga, renang, bersepeda dengan spesifikasi khusus seperti fixie, folding sampai downhill, komunitas kreatif seperti merajut, berkreasi dengan clay, origami, hand lettering, komunitas literasi, yang rutin mengadakan kegiatan bedah buku dan film, komunitas yang bergerak di bidang sosial-enterpreneur yang selalu berbaris paling depan dalam urusan kemanusiaan, sampai komunitas yang menggawangi isu-isu lingkungan, semua ada. kita hanya tinggal tentukan minat, lalu silahkan merapat ke barisan.

menjadi anggota rotaract membuat saya sering berinteraksi dengan banyak komunitas di bandung. yang tadinya tidak tau sama sekali, kemudian kenal dengan beberapa anggotanya. jadi memahami dan sedikit tergambar tentang apa yang menjadi tujuan mereka berkomunitas. menurut saya aktif bergabung pada komunitas yang kita minati bisa menjadi hiburan ditengah rutinitas keseharian kita. serius deh, bertemu banyak orang baru dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda itu menyenangkan sekali. gong dari kegemaran saya berkegitan, terjadi delapan tahun lalu saat menjabat sebagai sekretaris dan mewakili presiden klab untuk ikut rapat koordinasi hari bumi di WALHI Jabar yang saat itu sekretariatnya masih berada di Jalan Bengawan. tempat bersejarah yang menjadi lokasi bertemunya saya dengan pak ery, sang koordinator aksi. duh, bahkan saya masih ingat betul tanggal, jam dan detail rapat saat itu.

tentang pak ery, koordinator aksi sekaligus pempimpin rapat yang menyebalkan karena datang terlambat, tentang penampilan yang seadanya, tentang rambut gondrong dan suaranya yang pelan, tentang pertanyaan "ajeng dari mana?" yang dilontarkan oleh pak ery ketika kami bertemu di sela antrian wudhu. hal ini masih sering jadi topik bahasan antara saya dan pak ery. kalau sudah mulai menyebalkan, dia selalu menggoda saya tentang siapa diantara kami yang sebenarnya sangat berharap kami berjodoh. saya yang masih ingat secara detail kejadian bulan april delapan tahun silam, atau pak ery yang begitu lihat tulisan saya pada daftar hadir langsung inisiatif menyimpan nomor ponsel saya. hhh.., padahal tanpa dibahas siapa yang jatuh hati lebih dulu-pun saat ini Pagi dan Aksara sudah benar nyata ada diantara kami berdua kan? hahahahaha.  

memang bisa dibilang jalan hidup saya banyak "disponsori" oleh organisasi dan komunitas yang saya ikuti. saya tidak bisa membayangkan saya yang sekarang jika dulu tidak melalui hari-hari berat dalam diklat pecinta alam, bagaimana saya jika tidak pernah mengalami seharian duduk didepan dengan tudingan pertanyaan menyudutkan dari para alumni saat musyawarah besar himpunan mahasiswa dulu, atau seperti apa saya hari ini jika tidak pernah bertemu dengan koordinator aksi hari bumi yang dulu terlihat sangat menyebalkan itu. jadi  jangan pernah ragu bergabung dengan sebuah komunitas yang baik. karena ada banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang bisa kita dapat dan rasakan, yang tidak pernah kita pelajari sebelumnya dalam ruang kelas. pertemanan, pengalaman, life skill dan kalau beruntung seperti saya, mungkin juga jodoh ;)

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS