himpunan mahasiswa

Thursday, October 27

saya mungkin satu dari sedikit orang yang mendukung terlaksananya kegiatan masa orientasi, ospek atau malam silaturahmi atau apapun itu istilahnya. kegiatan yang jadi momok bagi sebagian besar (maha)siswa baru sekaligus kegiatan yang banyak jadi sorotan beberapa tahun belakangan ini, sampai pada akhirnya diterapkan kebijakan untuk menghapus segala jenis kegiatan sejenisnya di berbagai jenjang pendidikan. saya tidak tau, mahasiswa baru masa kini harus bergembira atau bersedih karena akan kehilangan momen-nostalgia-paling-tak-ada-habisnya untuk diceritakan ulang. 

nostalgia itu berwujud tidur tidak enak, bangun tengah malam, gelap dengan hanya berbekal senter seadanya, berjalan di jalan setapak yang belum pernah kita lewati sebelumnya, hujan, licin, dingin, dibentak-bentak pula. lengkap sudah derita. belum lagi kalau ada rekan satu kelompok yang berpita kuning atau yang perlu diperlakukan dengan hati-hati. kami-kami yang tidak berpita dan tidak perlu diperlakukan secara khusus ini pastilah menanggung derita lebih dari yang lainnya hahahahaha. duh, rasanya saat itu ingin segera ada dirumah (lagi), atau bahkan ingin segera melompat ke satu hari berikutnya. duduk di kantin dengan jaket himpunan dan pakaian kering sambil menyantap mie instan adalah mimpi paling indah sebagian besar peserta malam itu.

tapi percaya deh, malam yang dulu paling ingin cepat kita lalui itu, akan jadi malam yang seru untuk diceritakan berkali-kali sampai belasan tahun kemudian. beberapa hari yang dulu terasa menyebalkan sekali akan jadi hari-hari paling membahagiakan ketika diceritakan lagi. tentang betapa polos dan lugunya kita saat itu, tentang betapa baik senior-senior berbadan besar dan bersuara lantang, yang tiap bertemu selalu mengajak push up minimal dua seri dengan alasan agar kami tidak merasa kedinginan *salim senior*, tentang cinta lokasi *uhuk*, tentang lampu pertromak yang susah sekali menyala, tentang betapa lelahnya panitia berlari keluar masuk hutan demi mengantar tandu untuk mengangkut peserta.

sampai sebagian besar teman himpunan saya dulu sepakat bahwa istirahat dan tidur paling nikmat adalah tidur sepulang acara malam silaturahmi. ya karena memang acara tersebut sangat menguras tenaga, terlebih sebagai panitia selain lelah secara fisik, kami juga punya tanggung jawab psikis, kepada dosen pembina, orangtua dan keselamatan adik-adik mahasiswa baru yang kami "ajak" mengikuti malam silaturahmi. selama bertahun-tahun saya setuju dengan pernyataan itu, sampai akhirnya berganti setelah saya merasakan dua kali melahirkan, maaf gais, tapi ternyata sekarang, tidur paling nikmat adalah tidur selepas proses melahirkan :p

sekarang sudah belasan tahun berlalu, tanpa malam silaturahmi, mungkin saya tidak akan bertemu banyak orang-orang baik seperti mereka. tanpa ruang himpunan yang berukuran tidak lebih dari sembilan meter persegi dulu, mungkin tidak pernah terjalin benang merah yang selalu membuat kami merasa dekat dan terhubung. selalu ada cerita seru untuk diceritakan ulang ketika bertemu. dan saya percaya, salah satu hal yang paling membuat bahagia adalah punya teman-teman yang selalu menularkan kegembiraan dan semangat. terimakasih kalian, terimakasih karena selalu mengisi amunisi tenaga dengan positive vibes dan tawa bahagia. ten years and still counting woohoo! semoga kita bisa terus berteman, saling mengingatkan untuk selalu berbagi dan terus menebar kebaikan. aamiiin.



menerima

Thursday, October 20

dulu saya tidak pernah mengira bahwa menjadi orangtua berarti belajar setiap hari. setiap hari artinya ya benar-benar setiap hari, tanpa libur satu haripun. bukan hanya belajar tentang menghadapi dan menanggapi, tapi lebih daripada itu adalah belajar menerima. belajar dengan sadar menerima bahwa anak adalah individu yang berbeda dari kita, orangtuanya. juga menerima bahwa memiliki anak artinya sepaket komplit dengan bahagia dan dramanya yang bisa terjadi kapan saja. terlihat mudah?

tunggu sampai akhirnya kita mengakui, sulit sekali untuk tidak berkomentar menghakimi, terhadap apapun pilihan yang diambil oleh anak. misalnya ketika ia memilih untuk tidak menggunakan alas kaki saat berlari di taman, ketika ia mempertahankan keinginannya untuk mengaduk sendiri adonan kue yang menyebabkan lantai dapur lengket. atau ketika ia memilih untuk menunda mandi barang beberapa menit untuk menyelesaikan istana kerajaan imajinasinya, yang dalam kacamata orang-dewasa-yang-terlalu-serius seperti kita, hanya tumpukan balok-balok kecil tak bermakna. tunggu sampai kita setuju bahwa sulit sekali untuk punya berlapis-lapis sabar ketika kita harus menghadapi rengekan tanpa henti, atau tangisan tanpa alasan mereka yang terjadi hampir setiap hari.

saya juga bukan orangtua yang selalu tenang dalam menghadapi drama-drama pagi kecil. jauh, masih jauh sekali. saya masih sering melontarkan nada tinggi ketika rasa sabar sudah sampai dilapis terakhir. masih sering membelalakkan mata untuk menunjukkan pada pagi bahwa saya tidak setuju dengan apa yang ia lakukan, bahwa saya marah dan bahwa ia harus takut akan reaksi saya tadi. sedih ya? banget. kalau sedang ada di posisi "waras" saya selalu rindu pagi, bukan hanya pagi yang manis, tapi saya bahkan rindu saat ia menangis karena tidak tau dan tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan, situasi yang menurut pagi mungkin sulit sekali, situasi yang seharusnya tidak saya respon dengan emosi tinggi.  

bisa dibilang selama hampir empat tahun usia pagi, sekarang ini adalah saat-saat paling menantang untuk kami. dimana pagi kecil mulai belajar mempertahankan keinginannya, belum terbiasa bernegosiasi dengan komunikasi logis, sekaligus belum terlatih untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. bisa ditebak, nyaris semua yang tidak sesuai dengan keinginannya berakhir dengan tangisan. harus seperti apa dan bagaimana menanggapinya? rasanya clueless sekali. pernah ada satu masa dimana akhirnya saya terus melihat kebelakang, mengkoreksi apa-apa yang dulu pernah saya dan pak ery terapkan pada pagi. rasanya sudah tidak terhitung berapa kali saya menyalahkan diri sendiri. iya, sampai saat ini, saya masih jadi orangtua yang berharap anaknya bisa berperilaku menyenangkan setiap saat. saya belum bisa sepenuhnya menerima bahwa pagi suatu hari akan melewati fase drama sepanjang ini.

sekarang memang baru tiga tahun berlalu, tentu saya dan pak ery masih harus terus belajar. belajar untuk tidak memasang standar kacamata "anak manis" versi kami untuk pagi, dan tentu saja belajar menerima pagi sebagai dirinya sendiri lengkap dengan segala proses perkembangan karakter yang saat ini sedang dijalani. menerima adalah satu mata kuliah pendidikan orangtua yang tadinya kami pikir tidak sulit, ternyata malah jadi satu hal yang paling ingin kami selesaikan dengan baik dan tepat.

 



 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS