fokus

Thursday, September 29

saya ingin sekolah lagi. cita-cita yang sedikit terlambat (mungkin), mengingat umur tak lagi muda dan anak yang sudah dua. cita-cita yang sebenarnya sudah ada sejak dua tahun lalu, tapi entah kenapa selalu ragu, maju mundur, antara jadi dan tidak. bahkan pernah ada di satu masa saya sama sekali tidak mau memikirkan kemungkinan melanjutkan studi, karena kepercayaan diri yang menurun drastis. bukan tanpa alasan, pernah suatu hari saya mendengarkan sebuah video berbahasa asing dan saya sama sekali tidak mengerti apa yang dibahas dalam percakapan tersebut. saat itu saya merasa kemampuan berbahasa asing saya payah sekali. ada perasaan malu, malu karena kemampuan tidak mengimbangi cita-cita yang terlalu tinggi. juga perasaan marah yang bersamaan dengan tercoretnya satu impian saya untuk melanjutkan studi di luar indonesia.

pak ery, dan juga ibu, adalah dua orang yang tidak pernah kehabisan kata untuk memberi semangat. saat kepercayaan diri saya sudah berserakan entah kemana, mereka berdua tetap dan selalu percaya saya bisa. meskipun entah sudah berapa kali saya hanya menatap soal-soal ielts dengan tatapan kosong hahahaha drama ya? tapi memang benar, semacam, ini kenapa banyak sekali yang harus di pelajari, sampai rasanya tidak tau harus memulai darimana. saya terlalu takut mengangkat kembali mimpi yang dulu pernah saya tenggelamkan diam-diam. meskipun akhir-akhir ini, saya mulai menyadari, sebenarnya yang saya takuti bukan mimpinya, melainkan takut meninggalkan zona nyaman yang selama ini sudah saya tempati.

zona nyaman itu berwujud status abdi negara di salah satu institusi terbaik, berkantor ditempat yang bisa ditempuh hanya dengan waktu kurang dari dua puluh menit dari rumah, dipercaya untuk memimpin sebuah seksi, punya rekan kerja yang menyenangkan, juga atasan yang tak kurang-kurang baiknya. memang terlalu nyaman, nyaris tak kurang suatu apapun. lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri, kenapa zona nyaman tidak dijadikan sarana untuk mendukung apa yang saya impikan? tentu akan ada banyak sekali kemudahan datang dari lingkungan yang kondusif serta orang-orang baik sekitar saya. dan mulailah saya mengubah presepsi bukan berusaha meninggalkan zona nyaman melainkan berusaha membuat zona tersebut menjadi lebih luas dan "lebih layak huni".

pagi tadi, energi saya seolah bertambah berkali-lipat. seseorang berbaik hati membagi file untuk berlatih kemampuan bahasa inggris dengan ukuran lebih dari dua giga, terimakasih banyak sekali ya, mas hari! semoga ini merupakan salah satu sinyal agar saya tidak berhenti bermimpi. perjalanan memang masih sangat panjang, saya berdoa semoga apa yang saya usahakan saat ini dan kemudian hari membawa manfaat, dan apapun hasilnya nanti adalah yang terbaik. sekarang saatnya saya memasang kacamata kuda, mulai menentukan fokus, memanfaatkan waktu dan berusaha lebih keras dari biasanya. dear pak ery, jangan bosan mendukung istrimu yang mood swing sekali ini ya? semoga kita tidak pernah lelah untuk mewujudkan mimpi yang satu ini :)


berbagi opor

Wednesday, September 21

pertengahan september lalu, kami kembali mengadakan maparin tuangeun yang kedua. setelah bulan lalu "tayang perdana" di taman cibeunying, kali ini taman maluku menjadi tempat tujuan kedua. sama seperti bulan lalu, maparin tuangeun september ini kami laksanakan tanpa tatap muka untuk merumuskan persiapannya. segala bentuk koordinasi kami lakukan melalui aplikasi pesan berkelompok, mulai dari diskusi tempat sampai membagi tanggung jawab dan tugas-tugas kecil, sebagai petugas pembawa ember dan alat cuci, air mineral dalam galon, buah, kudapan, meja lipat, tikar, gelas, kompor portable dan yang paling utama; makanan.

karena pelaksanaan maparin tuangeun kemarin dekat dengan idul adha, salah satu hari besar umat islam yang biasanya dirayakan dengan makanan khas, maka kami memilih menu yang terbilang nekat: ketupat dan opor ayam. menu berkuah yang mengharuskan kami membawa perlengkapan makan lebih niat dari sebelumnya. kalau saat maparin tuangeun yang pertama, kami cukup membawa piring rotan dan alas daun, kemarin kami membawa piring kaca lengkap dengan sendok garpu, container, ember dan perlengkapan cucinya. maklum, piring yang kami pinjam berjumlah seadanya, membuat kami harus segera mencuci untuk sesi makan selanjutnya.

beberapa teman bertanya, kenapa kami tidak memesan saja makanan yang terbungkus untuk kemudian membagikannya. tentu akan jauh lebih mudah, praktis, cenderung menghemat waktu dan tenaga pula. tapi kalau boleh bercerita, maparin tuangeun sebenarnya lahir dari keinginan sederhana kami untuk melayani. kami ingin mengajak tunawisma dan dhuafa untuk duduk bersama, mempersilakan mereka beristirahat sambil menikmati makanan, kudapan dan buah-buahan yang kami sajikan. rasanya waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan banyak hal membahagiakan yang kami dapat dari melayani, tentu akan berbeda sekali rasanya jika kami sekedar membagikan bungkusan nasi meski dengan lauk pauk dan buah yang sama lengkapnya.

lebih jauh lagi, maparin tuangeun membuktikan kepada saya bahwa masih banyak orang yang tak segan berbagi kebaikan. banyak tanggapan positif yang saya dapat, banyak teman-teman yang ikut menyumbang waktu, berkontribusi dengan tenaga juga yang dengan ikhlas menyisihkan sebagaian dana. terimakasih banyak ya temans! harapan terbesar saya tetap sama, semoga kebaikan kecil ini bisa menular, melahirkan kebaikan lainnya, menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa. percaya atau tidak, efek besar kegiatan ini sebenarnya adalah untuk kita sendiri, semacam  pengingat: there is always, aways, always something to be thankful for. betul kan?



foto hasil jepretan teman kami nrspyn

cukup

Thursday, September 15

kemarin saya melihat dan ikut berbagi tautan video singkat tentang seorang pilot, captain budi soehardi yang menjadi ayah angkat bagi ratusan anak yang tidak memiliki orangtua, atau yang dititipkan ke panti akibat kemiskinan. captain budi sudah sejak lama menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun panti asuhan yang saat ini dihuni lebih dari 100 anak-anak. dan saat ini, setelah pensiun dari dunia penerbangan, beliau mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk anak-anak asuhnya.

masih hangat dalam ingatan juga ketika beberapa tahun lalu, sepasang pemulung berqurban dua ekor kambing saat hari raya idul adha setelah menabung selama tiga tahun. saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa kuat tekat mak yati dan suaminya untuk membeli dua ekor hewan qurban dengan menyisihkan penghasilan mereka yang rata-rata perharinya hanya dua puluh lima ribu rupiah saja. sementara kita yang punya penghasilan diatas itu, masih sering merasa paling nelangsa ketika menguras tabungan untuk pengeluaran tak terduga.

ada juga cerita tentang polisi berpangkat bripka yang membangun pesantren, atau beberapa orang yang bekerja dengan ketulusan dan kerendahan hati, memperjuangkan pendidikan di garis perbatasan, pedalaman bahkan hutan belantara. tentu masih banyak cerita serupa yang membawa kehangatan dan membuat kita percaya, di negeri ini masih banyak sekali orang yang tidak segan berbagi kebaikan. orang-orang sederhana yang mungkin tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan berdampak besar dan menjadi inspirasi.

satu benang merah yang saya dapat dari captain budi, mak yati juga suaminya adalah mereka semua memiliki rasa cukup. iya, rasa cukup terhadap materi, yang dalam ajaran islam disebut dengan qana'ah, menurut saya adalah salah satu capaian tertinggi seorang manusia. ketika merasa cukup, maka seseorang berdamai dengan egonya. dimasa sekarang, saat keadaan "mengajarkan" kita memiliki segala sesuatu lebih dan lebih, lagi dan lagi, tidak banyak orang yang terlatih mencukupkan diri, melepas kemelekatan mereka terhadap materi.

tulisan ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, bahwa rasa cukup dan syukur tidak akan serta merta hadir dalam diri kita. rasa cukup perlu dibiasakan dan dileburkan dalam keseharian. seperti kata gobind kita perlu melatih diri untuk melihat kedalam, mengurangi kebiasaan kita membandingkan juga bersaing. captain budi dan bripka junaidin, mengajarkan kita bahwa berbagi tidak sama dengan mengurangi. sementara cerita mak yati membuktikan kepada kita semua, rasa cukup bisa membuat seorang yang miskin sekalipun, menjadi sangat kaya :)

 

** gambar diambil dari sini
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS