kebaikan kecil

Friday, August 26

kira-kira bulan juli lalu, seorang teman di beranda facebook membagikan tautan tentang program rutin yang diadakan sekolah relawan, nama kegiatannya free food car, tautan dan informasi selengkapnya bisa di baca disini. jujur saja, ketika pertama kali melihat dan membaca tentang kegiatan ini, yang pertama ada dipikiran saya cuma satu kata; keren! dan langsung terpikir untuk melempar ide ini ke beberapa teman.

kebetulan keluarga besar himpunan tempat saya bernaung saat masih berstatus mahasiswa dulu masih rutin mengumpulkan kas/donasi yang digunakan untuk berkegiatan sosial. hanya saja karena kami sudah bukan pemilik waktu bebas seperti sepuluh tahun lalu, kami tidak pernah berhasil mengadakan kegiatan rutin bulanan. belajar dari pengalaman tersebut akhirnya kami membuat syarat untuk kegiatan sosial; yang pertama tentu harus bermanfaat, syarat selanjutnya adalah yang bisa terselenggara dengan persiapan mudah, dalam artian semua dapat dikoordinasikan tanpa perlu bertatap muka. karena memang harus sadar diri, masing-masing dari kami bukan lagi anak kuliahan yang bisa dengan mudah bolos kelas algoritma atau pemograman dasar untuk sekedar nongkrong di kantin dan merencakan sebuah event seminar.

setelah melalui beberapa hari penuh diskusi akhirnya maparin tuangeun lahir sebagai nama kegiatan yang insyaallah akan rutin kami laksanakan. maparin tuangeun diambil dari bahasa sunda yang artinya memberi makan (secara cuma-cuma). sesuai kesepakatan awal, kami hanya berkoordinasi melalui aplikasi pesan grup untuk saling berbagi tugas saat hari H. sampai singkat cerita, maparin tuangeun yang pertama berhasil terlaksana. sabtu, 13 agustus 2016 lalu kami membuka "lapak" makan gratis untuk dhuafa dan fakir miskin di taman cibeunying. sekitar 50 lebih porsi nasi beserta lauk pauk dan buah tersedia. sasaran kami siapa saja, petugas kebersihan taman, tukang siomay, pedagang asongan, juru parkir, penjual balon, pun pengumpul sampah.

rasanya bahagia sekali ketika seorang bapak penjual jasa perbaikan sofa keliling bercerita bahwa bertemu kami adalah rejeki tak terduga, sedari tadi menahan lapar karena belum ada satupun yang memakai jasanya hari itu. atau ketika melihat dua pengumpul sampah yang duduk melepas lelah sambil mengupas jeruk dan saling bertukar cerita. atau ketika seorang bapak yang mendorong gerobak tuanya, menghampiri kami dengan malu-malu memastikan kami tidak akan memungut biaya untuk seporsi nasi yang akan disantapnya. juga seorang bapak paruh baya yang "memarkir" balon dagangannya, tersenyum pada kami sambil berkali-kali mengucap terimakasih.

fa-biayyi alaa'i rabbi kuma tukadzdzi ban. maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ada rasa syukur yang berkali-kali kami ucapkan dalam hati, juga ada kebahagian besar yang kami bawa pulang sebagai buah tangan hari itu. sungguh kami percaya, kebaikan sekecil apapun akan menular dan melahirkan kebaikan lainnya. doakan kami bisa rutin menebar kebaikan ini setiap bulannya, agar bisa mendulang bahagia dari senyum ramah dibalik kerut-kerut wajah tua dan lelah yang kami temui di jalan :)



foto hasil jepretan teman kami nrspyn

slametan "orchestra" ala smipa

Thursday, August 18

setiap awal tahun ajaran baru, semipalar rutin mengadakan acara untuk keluarga besarnya. nama kegiatannya sederhana; slametan awal tahun smipa. ini pengalaman pertama pagi dan saya ikut acara slametan dan karena pak ery sedang ada di tengah belantara hutan kalimantan, jadi saya menghadiri acara slametan berdua saja. tahun ini slametan diadakan di mulberry hills cibodas yang kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor. tidak usah ditanya bagaimana persiapannya, yang jelas seru karena sebelumnya saya harus mempersiapkan upacara di lapangan sabuga. lalu pulang kerumah menjemput pagi dan berganti kostum. tak lupa memastikan pagi nyaman "terikat" dengan tas pengaman di belakang sementara saya mengendarai sepeda motor melewati jalan memotong demi bisa mempersingkat waktu tempuh bandung-cibodas.

persiapan sebelum hari H sudah tentu ada. komunikasi kelompok dilakukan melalui pesan grup, koordinator kelompok membagi tugas-tugas kecil yang perlu disiapkan pada saat acara. urusan makan siang menjadi tanggung jawab tiap kelompok. kesepakatan akan bancakan/potlak/botram diputuskan bersama. makanan dan buah-buahan yang disajikan juga harus indonesia banget, jadi ada yang bertugas membawa urap, telur balado gepuk bahkan sayur lodeh lengkap sama panci-pancinya hahahaha total banget. gak lupa soal pemisahan sampah organik dan anorganik setelah makan siang juga jadi isu utama, daaaaan sampah yang dihasilkan harus dibawa kembali lagi ke bandung.. tapi kalau yang ini saya beneran lupa gak memastikan sampai akhir.

"syarat" untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini memang terhitung rumit untuk yang terbiasa terima beres dan duduk manis di kegiatan sekolah anak. ada banyak ketentuan lain seperti setiap orangtua diminta memperhatikan kemasan makanan yang akan dibawa, mengurangi plastik, menghindari sterofoam, anak-anak juga diwajibkan membawa wadah pakai ulang. soal transportasi tidak luput dari pengawasan, setiap anggota kelompok disarankan untuk saling mengatur kendaraan (menumpang) sehingga mengurangi jejak karbon sekaligus menghemat pemakaian bahan bakar. perihal kendaraan ini juga ada kompetisinya, sampai akhir acara kemarin, kelompok 3 ditetapkan sebagai pemenang kategori "semua bangku kendaraan terisi penuh dengan personil kelompoknya" ada juga kelompok pemenang kategori "semua anggota kelompok datang tepat waktu" dan setiap anak-anak yang datang tepat waktu, diijinkan untuk memilih warna souvenir tas belanja sesuai keinginan mereka. sebuah penghargaan sederhana namun bermakna.

satu yang berbeda dari acara slametan awal tahun semipalar, tiap kelompok dibagi dengan sangat "orchestra", jadi dalam satu kelompok, ada anak dan orangtua mulai dari jenjang kelompok belajar (setara PG) sampai jenjang kelompok petualang belajar (setara SMA). selama acara, ada banyak games dan tantangan yang harus dikerjakan bersama-sama dengan seluruh anggota tim. seperti meronce pinus dan bahan alam lain sepanjang dua meter, membuat menara balok yang cara mengambilnya harus dengan estafet juga menghias lambang garuda. tidak ada istilah ini pekerjaan orang dewasa atau itu pekerjaan anak-anak, semua jadi satu. benar-benar seperti gambaran keluarga dalam jumlah yang besar, ada adik, kakak, paman, bibi, ibu, bapak semua bekerja bersama dalam sebuah tim.

terimakasih keluarga besar semipalar! acara kemarin seru sekali. semoga kita masih bisa bertemu di slametan awal tahun smipa berikutnya :)





berproses bersama #semipalar

Friday, August 5

minggu lalu, pagi melalui tiga hari trial di rumah belajar semipalar. gimana? kalau pagi sih standar anak seusianya. ada excited-nya pun ada episode berurai air mata karena merasa insecure di tempat baru. bahkan di hari terakhir pagi sempat menyatakan tidak mau kembali ke semipalar, saya sendiri tidak kaget mengingat pagi tipikal anak dengan mood yang fluktuatif sekali persis ibunya tapi setelah melakukan negosiasi damai, toh akhirnya dia melewati hari terakhirnya dengan cukup baik. malah pulang kerumah dengan membawa banyak cerita. setelah proses trial ini selesai, kami tinggal menunggu hasil pengamatan dari kakak pendampingnya.  

tentang trial dari sudut pandang saya;

saya hanya bisa mendampingi pagi selama dua hari masa trial tapi satu yang saya perhatikan, di kelas kelompok bermain, pergantian aktivitas berlangsung cukup cepat. sisi positifnya, anak-anak tidak sempat merasa bosan. tapi buat anak bertipe mesin diesel yang lima belas menit pertamanya dilalui dengan malu-malu seperti pagi, ritme ini mungkin agak membingungkan. semacam; baru juga asik, sudah berganti kegiatan. tapi mungkin ini hanya soal terbiasa atau tidak saja. oh iya, hampir semua kegiatan di semipalar dilakukan tanpa alas kaki. ini salah satu yang jadi filosofi mereka, bahwa bersentuhan langsung dengan alam merupakan suatu bentuk komunikasi batin antara manusia dengan "ibu"nya (mother earth).

selebihnya bermain diluar ruangan, mendongeng, bercerita, melukis dengan cat air, bernyanyi dan makan bersama menurut saya dilakukan dengan seru karena kakak-kakak pendamping yang ekspresif sekali. anak-anak kelompok bermain diajak terlibat dalam sekecil apapun kegiatan yang mereka lakuan seperti menyusun tempat bekal pada rak yang sudah disediakan, menyiapkan perangkat bermain, membereskan sampai menaruhnya lagi ketempat semula. yang sempat saya lihat saat sesi melukis dengan cat air, fungsi kakak pendamping/fasilitator memang sesuai namanya, benar hanya mendampingi dan memfasilitasi setiap kegiatan sementara anak-anak memiliki kebebasan penuh atas bagaimana dan pilihan warna apa yang akan dituangkan kedalam kertas.

soal penampilan para fasilitator di semipalar jadi salah satu concern saya. asik. mereka semua jauh dari kesan pengajar di sekolah kita dulu. berpakaian santai dan apa adanya, rata-rata berkostum kaos dan celana jeans, bahkan kak andy sebagai "kepala sekolah" berapa kali saya dapati mengenakan celana pendek. tak lupa mereka semua kesana kemari tanpa alas kaki. oh iya, sama seperti sekolah pada umumnya, semipalar selalu memulai dan mengakhiri kegiatan dengan berdoa dan karena semipalar adalah sekolah heterogen, maka semua doa dilafalkan dalam bahasa indonesia.

tentang hasil trial pagi;

kemarin, kami bertemu dengan kak nisa dan kak mahesti, kakak pendamping kelompok bermain, kak MJ sebagai koordinator jenjang usia dini dan kak andy untuk membahas hasil trial pagi minggu lalu. buat saya pertemuan ini menjadi kemewahan tersendiri, ditengah banyak sekolah yang sekedar menjual jasa pendidikan, semipalar memilih meluangkan waktu untuk duduk bersama orang tua. dengan intim berbagi cerita tentang karakter dan keseharian anak, tentang seperti apa gambaran sekolah dan pendidikan dalam kacamata saya dan pak ery, juga tentang harapan apa yang ingin kami wujudkan bersama kelak.

hasil trial pagi diceritakan pada selembar kertas yang berisi kotak-kotak grafik dengan jumlah bintang diatasnya. semakin banyak jumlah bintang, maka pada poin tersebutlah potensi anak paling terlihat. hasilnya nyaris sama seperti dugaan saya. motorik halus, keterlibatan berkarya dan respon terhadap lawan bicara pagi memang baik sekali, kami sudah melihatnya sejak usia pagi belum genap dua tahun. pagi tipe anak yang betah duduk diam sambil mengerjakan sesuatu, dia bisa bermain secara mandiri dan mudah memahami instruksi. sebaliknya motorik kasar dan kemampuan untuk mengungkapkan perasaannya masih jadi pekerjaan rumah untuk saya dan pak ery. ketidakmampuan pagi untuk mengungkapkan perasaannya itulah yang kami duga sebagai penyebab utama fluktuasi emosinya. 

tentang pendidikan menurut kami;

sebenarnya kalau ditanya seperti apa gambaran sekolah dan pendidikan menurut saya dan pak ery, jawabannya bisa jadi panjang sekali. seimbang adalah satu "syarat" mutlak dari kami. sejak dulu saya dan pak ery percaya ada yang jauh lebih penting untuk dipelajari setiap individu ketimbang sekedar menghafal barisan huruf dan angka. pemahaman spiritual, mengenali potensi diri sendiri, mendalami nilai-nilai kemanusiaan, dan menyelaraskan kehidupan dengan alam, harus berjalan beriringan dengan keinginan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. dan (masih) menurut kami semipalar adalah tempat yang bisa menerjemahkan itu semua kedalam satu proses pendidikan.

kami berkesempatan mengikuti kegiatan bersama para orangtua murid yang disebut taki taki. kegiatan ini secara garis besar memaparkan visi (tujuan) dan orientasi pendidikan. sepengetahuan saya setiap tahunnya semipalar mengangkat tema berbeda yang dijadikan semacam benang merah pembelajaran dan tahun ini kata kuncinya adalah transisi (transition movement). dalam sesi pleno taki taki, kami disuguhi beberapa video singkat yang membahas tentang kehidupan berkelanjutan, tentang pola konsumerisme masyarakat modern juga ketergantungan manusia terhadap industri. tentu saja setelahnya ada sesi diskusi antar orangtua. saling berbagi cerita tentang apa hal nyata yang sudah dilakukan dan komitmen apa yang akan dibuat untuk mewujudkan sustainable living itu tadi.

kegiatan bersama orangtua seperti ini menjadi salah satu dari sekian banyak alasan kenapa saya dan pak ery memilih semipalar. kami memang mencari sekolah yang banyak "merepotkan" dan melibatkan orangtua dalam setiap kegiatannya. karena saya dan pak ery percaya, pendidikan anak sepenuhnya adalah tanggung jawab kami. jadi baik pihak sekolah, anak (pagi), pun kami sebagai orangtua harus belajar dan berproses bersama. mungkin prinsip pendidikan ditangan orangtua ini juga yang membuat waktu belajar di semipalar lebih singkat dari sekolah swasta kebanyakan. saat tren full day school semakin semarak, semipalar malah menjadwal waktu belajar hanya dua sampai lima jam untuk jenjang kelompok bermain sampai sekolah dasar. 

tentang berproses bersama;

setelah mengikuti banyak kegiatan dan melalui hari-hari penuh diskusi panjang, akhirnya pagi resmi terdaftar sebagai salah satu murid kelompok bermain di semipalar. pagi, begitu juga kami akan berproses bersama (di) semipalar. saya dan pak ery sepakat untuk menata kembali prioritas keluarga kecil kami. mulai serius memikirkan pola sustainable living sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk dikenalkan pada pagi. membatasi konsumerisme, dimulai dari mengurangi jumlah makanan ringan berkemasan, dan mungkin dalam waktu dekat akan mengajak pagi berkebun (lagi).


 
salah satu video pendek yang diputar saat sesi taki taki memberi sedikit gambaran tentang apa itu transition movement.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS