pagi belajar

Thursday, July 21

awal pekan ini, linimasa saya ramai dengan tautan gambar yang berisi ajakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. saya juga ikut merasakan keriangan dan kekhawatiran yang jadi satu diantara beberapa wajah teman sekantor. bayi-bayi kecil yang dulu hanya bisa kami gendong saat family gathering, sekarang sudah beranjak besar dan tak bisa diam. beberapa diantaranya bahkan sudah terdaftar sebagai siswa taman kanak-kanak. how time flies. bulan agustus ini usia pagi juga sudah menginjak 3.5 tahun, sudah banyak sekali stok kalimat tanya-nya. sudah mulai bisa mempertahankan keinginan dan mulai susah diajak negosiasi.

terselang waktu beberapa hari, saya dan pak ery juga mengambil keputusan yang sama. kami memutuskan untuk mulai mengenalkan pagi dengan tempat belajar selain rumah. belajar dalam lingkup definisi yang luas. bukan berhitung, bukan menghafal huruf dan angka. belajar dari bermain, dari apa yang ia (dan teman-temannya) lakukan setiap hari di rumah belajar semipalar. semipalar memang bukan sekolah yang populer. tapi semipalar sudah menjadi bahasan ringan antara saya dan pak ery bahkan jauh sebelum usia pagi genap dua tahun. lalu kenapa semipalar? karena menurut kami semipalar adalah tempat belajar yang paling mengakomodasi bayangan kami berdua tentang sistem pendidikan. sederhananya bahwa pada setiap anak, ada potensi dan keunikan yang harus ditemukan, dalam setiap individu anak juga ada kreatifitas serta imajinasi yang perlu terus dikembangkan.

rasa ragu dan khawatir tentu saja sempat ada, muncul juga perasaan takut. takut terlalu memaksakan mengingat usia pagi yang menurut beberapa teori parenting masih terlalu dini. tapi, ada satu peristiwa yang akhirnya jadi "gong" kami mengambil keputusan besar ini. suatu sore ketika saya pulang bekerja, pagi unjuk kebolehan menghafal lagu. bukan lagu biasa, melainkan lagu mars partai perindo. sedih sekaligus takjub. sedih karena selama saya bekerja, saya tidak bisa mengontrol apa yang dilihat oleh pagi.. takjub karena kemampuan menyerapnya ternyata luar biasa cepat.

sejak saat itu mengajak pagi belajar diluar rumah menjadi niat yang bulat. diskusi antara saya dan pak ery mulai mengerucut, memilah kebaikan yang bisa kami dapat sekaligus risiko yang mungkin terjadi jika keputusan ini kami ambil. setelah sebelumnya sudah menyepakati juga perihal waktu mengantar dan menjemput, barulah kami berburu jadwal gelar griya semipalar. sayangnya kami melewati gelar griya yang pertama pada akhir februari lalu. tapi istilah jodoh tak lari kemana memang ajaib. dipertengahan bulan april saya mendapat informasi bahwa gelar griya akan diadakan lagi sesaat sebelum tahun ajaran baru dimulai.

singkat cerita, kami berkunjung ke semipalar rabu jelang siang kemarin. karena malam sebelumnya saya sudah melakukan briefing dan mengatakan bahwa besok kami akan mengunjungi tempat bermain, begitu sampai semipalar yang pertama ditanya pagi adalah "kok gak ada perosotannya? ayun-ayunnya mana bu?" errr.. dasar anak play land hahahaha. tapi memang jangan bayangkan semipalar sekolah dengan warna gedung terang dan mainan yang tersebar disetiap sudutnya. sama sekali jauh dari itu. semipalar dalam kacamata saya adalah sekolah dengan gedung minim warna. tidak banyak pernak pernik eye cathing yang menjadi khas taman bermain. mungkin ini salah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan semipalar berbeda dengan sekolah lain; mengajak anak-anak berimajinasi dan berkreasi, dengan bermain menggunakan media apa saja yang mereka temukan dalam keseharian.

kami tidak akan memaksa pun belum bisa memastikan apakah pagi akan klik dengan semipalar. yang jelas ketika malam tadi saya mengajaknya untuk kembali mengunjungi semipalar, dia berteriak gembira "aku mau!" ok! minggu depan kita trial kelas ya nak :)





mengurangi

Monday, July 11

dua pekan ini, beranda laman facebook saya dipenuhi tautan tentang kehidupan minimalis yang menjadi tren masyarakat jepang. tentang Fumio Sasaki yang konon hanya memiliki tiga kemeja, empat pasang celana, empat pasang kaos kaki dan sejumlah kecil barang-barang lain. ekstrim? iya. sangat ekstrim menurut saya. saya sendiri yakin, nyaris tidak mungkin untuk saya bisa menyamai level Fumio Sasaki. lah, mau dikemanakan puluhan buku, kain-kain yang menurut saya masuk kedalam kategori investasi masa depan itu? tapi jujur saja semakin membaca banyak tautan beritanya, saya semakin gelisah dan diam-diam setuju dengan alasan mengapa kita harus mengurangi jumlah kepemilikan barang.

beberapa waktu sebelum gaya hidup minimalis masyarakat jepang ini jadi perbincangan hangat di sosial media, beberapa teman yang masuk kedalam golongan orang-orang yang akan kekurangan oksigen jika tidak membuat kesibukan (red. sebut saja mereka shelly, guli, tehanil dan rinda) sudah berdiskusi ringan soal kepemilikan barang dalam rumah. intinya, kami merasa memiliki banyak barang dan merasa barang-barang tersebut harus "dikeluarkan" dari rumah tanpa mengurangi nilai manfaatnya. sebenarnya bisa saja kami memakai solusi umum; kumpulkan, sumbangkan. tapi apa iya dengan begitu barang-barang tadi akan kembali pada fungsinya? atau malah hanya memindahkan tumpukan dari rumah kita, ke rumah orang lain? isu tersebut yang akhirnya membuat salah satu dari kami mencetus ide, membuat satu gerakan untuk mengurangi jumlah barang di rumah dengan konsep menawarkan atau saling bertukar barang yang di butuhkan.

malam ini tadi, saya mulai gerakan mengurangi dengan membongkar keranjang mainan pagi. dengan dibantu pagi, kami memisahkan mainan. menjelaskan dengan kalimat sederhana alasan kenapa harus mengurangi jumlah mainan yang dia punya, kenapa dia harus memilih, dan kenapa mainan yang tidak dipilih perlu dikeluarkan dari keranjang mainannya. diusia pagi yang sekarang, saya yakin betul, masih sangat jauh untuk dia mengerti tentang kebutuhan dan keinginan secara harfiah. terbukti dengan beberapa kali dia menengok ke arah mainan yang tadi tidak dipilihnya sambil berkata "ibu, ini aku (masih) mau.." saya mengangguk, mempersilakan pagi mengambilnya kembali. meskipun tidak signifikan mengurangi, setidaknya malam dia sudah belajar dua hal, berbagi dan merelakan.

sekarang pekerjaan rumah terberat justru bersumber dari saya. menahan diri dari perasaan butuh yang ternyata semu *tsah*. memang mengurangi bukan berarti tidak boleh membeli dan mempunyai keinginan itu manusiawi sekali kok. kalau memang perlu dan ada manfaatnya kenapa tidak? itu yang sering diutarakan pak ery ketika saya mengajukan "proposal" pembelian barang baru, tapi syaratnya tidak boleh membeli barang dengan terburu-buru dan harus disertai 8 sampai 10 alasan kenapa harus membeli barang tersebut. jika masuk akal, proposal disetujui. biasanya pengajuan ini berlaku untuk pembelian barang yang over budget atau tidak ada dalam rencana pengeluaran bulanan rumah tangga kami. kenyataannya saya sering tidak bisa menyebutkan bahkan sekedar 5 alasan saja dan akhirnya berujung pada tabungan yang terselamatkan hahahahahaha. ngomong-ngomong tips ampuh mempertahankan saldo tabungan dari pengeluaran impulsif ini boleh di coba loh. that works for me :)



keluarga pagi

Friday, July 1

saya dan pak ery menyematkan kata pagi pada rangkaian nama Gauri Binaring Pagi, sebenarnya bukan tanpa alasan. pagi adalah satu dari sedikit kesamaan saya dan pak ery. iya, kami sama-sama menyukai suasana pagi. pagi hari menurut kami adalah waktu yang sakral. sebagai ibu yang bekerja, pagi hari buat saya adalah waktu paling sibuk sekaligus paling menantang; semacam bagaimana supaya semua urusan rumah tangga hari ini selesai dan saya tetap tidak terlambat datang ke kantor.

utuk keluarga kecil kami yang tidak punya asisten rumah tangga menginap, memastikan semuanya selesai sebelum pukul tujuh pagi setiap hari tentu punya keseruannya sendiri. terlebih saya hampir tidak pernah meninggalkan anak-anak sebelum memastikan semua keperluan mereka "aman"; sarapan, makan siang, baju ganti. dan, baru bisa berangkat bekerja dengan tenang setelah mereka selesai mandi. bahkan dulu emak sempat melayangkan kekhawatiran karena menurut emak, saya terlalu tega, memandikan pagi kecil pukul enam setiap harinya, padahal saat itu usianya belum genap tiga bulan. tapi toh saya bergeming, sampai saat ini.
 
karena terbiasa dengan ritme yang seperti itu, akhirnya keseharian pagi kecilpun ikut menyesuaikan. sejak dulu sesuai namanya, pagi selalu bangun sebelum matahari terlalu tinggi, sekarang aksara mengikuti jejak kakaknya. keriuhan rumah kami selalu dimulai bahkan sebelum lampu-lampu jalan dimatikan. dan mungkin karena pagi dan aksara selalu memulai hari dengan cepat, mereka jadi punya jadwal tidur yang super cepat juga. ini juga yang membuat saya tidak pernah punya pengalaman menemani anak bermain sampai dini hari. alhamdulillah, selama tiga tahun belakangan ini waktu rata-rata beristirahat tetap ada di pukul delapan malam, kecuali-malam-ini-demi-bisa-tidur-tenang-tanpa-tagihan-menulis.

banyak yang mengira kami menyukai pagi hari semata karena tuntutan bekerja. tapi kenyataannya kami tetap melakukan ritual pagi yang sama saat akhir pekan tiba. jika jadeal akhir pekan hanya berkeliling kota misalnya, biasanya kami sudah mulai meninggalkan rumah sebelum pukul tujuh. mencari sarapan kesukaan, berjalan kaki, mengunjungi beberapa tempat yang sudah direncanakan sebelumnya, kemudian kembali ke rumah sebelum waktu makan siang untuk selanjutnya menghabiskan sisa hari dengan beristirahat dirumah. mungkin karena kami percaya, tidak ada yang lebih serasi ketimbang suasana bandung dan pagi hari (saat akhir pekan tiba) jadi rasanya sayang sekali jika harus melewati pagi tanpa cerita.


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS