rumah

Tuesday, June 21

memasuki tahun ke lima usia pernikahan, isu rumah kembali muncul disetiap obrolan saya dan pak ery. sejujurnya, proses membangun rumah sudah jadi impian kami sejak dulu. tapi mau bagaimana lagi, keinginan kami yang satu ini selalu kalah dengan kenyataan deretan angka disaldo tabungan hahahaha. kebetulan saya dan pak ery punya prinsip sama yang kurang lebih begini; kalau ada uang, beli. kalau belum cukup, ya nanti. terlihat sangat selo kan? tapi percayalah, prinsip ini sangat ampuh untuk meringankan beban hidup dimasa sekarang. ditengah banyak orang yang berlomba memiliki ini dan itu secepatnya, kami malah saling berbalas emoticon happy cry ketika menyadari uang yang kami kumpulkan masih jauh dari kata cukup untuk membangun sebuah rumah.

biasanya untuk menghibur hati yang gemas-gemas bahagia itu, kami akan saling berbagi tautan gambar rumah yang paling mewakili karakter saya dan juga pak ery. rumah kecil dengan banyak jendela, rumah dengan halaman luas dan pohon-pohon rindang. tak lupa, kami juga saling bercerita tentang ruang keluarga yang nyaman, kamar kerja beraroma kopi, teras rumah yang hangat, semak liar yang kami biarkan tumbuh dihalaman juga tentang ayam-ayam yang akan kami pelihara. dari sekedar obrolan dalam layar ponsel, biasanya akan berlanjut seru sampai meja saat makan malam tiba. kami terus berandai-andai tentang apapun yang bisa menambah semangat dan keyakinan bahwa suatu saat nanti mimpi ini akan kami wujudkan dalam hari-hari yang nyata.

beberapa orang yang mungkin prihatin melihat kami terlalu selo menyarankan "pinjam saja.. keburu harga material naik" dan lain sebagainya. tapi selain karena prinsip, saya dan pak ery juga keras kepala, buat kami rumah punya nilai filosofi yang tinggi sekali. kami ingin membangunnya perlahan, dari hasil pendapatan yang kami sisihkan. tidak peduli pendapat pakar ekonomi sekalipun yang menyatakan bahwa semakin hari harga semakin naik dan tabungan kami tidak akan bisa mengejar kenaikan harga itu. lagi pula kami percaya, selalu ada banyak pelajaran yang bisa didapat dari bersabar.. intropeksi diri salah satunya. kalau kami belum "diizinkan" membangun rumah, mungkin karena ikhtiar yang belum cukup, ibadah yang belum sempurna dan rasa syukur yang harus diperbanyak lagi. iya kan? :)

gambar dari pinterest

hamil, menyusui dan puasa ramadan

Tuesday, June 7

ramadan, bulan penuh berkah yang menyimpan "pro dan kontra" untuk ibu-ibu dengan kondisi khusus seperti saya; hamil dan (atau) menyusui. perbedaan pendapat antar ulama terkait hukum wajib berpuasa atau boleh tidak berpuasa untuk ibu hamil dan menyusui selalu bersliweran di beranda laman facebook saya ketika jelang ramadan. saya sendiri sudah dua kali merasakan hamil dan menyusui di bulan ramadan. ketika hamil pagi dulu, usia kehamilan saya sekitar 4 bulan. saya menyelesaikan 20 hari puasa. ramadan tahun berikutnya, saya berganti status, sebagai ibu menyusui. usia pagi saat itu belum genap 6 bulan, sehingga saya masih memberikan asi ekslusif. saya puasa? iya, hanya 12 hari dengan kondisi fisik saat puasa yang menurut saya lebih berat dibanding saat hamil dulu.

"puasa aja, sekalian melatih bayinya.. biar nanti pas besar gak susah diajak puasa.." atau "kok gak puasa? saya dulu bisa kok asal yakin" dan masih banyak tanggapan bernada serupa yang sering saya dapat dari seseorang ketika mendengar saya tidak berpuasa.

dulu ketika memutuskan untuk berpuasa dalam kondisi hamil dan menyusui sayapun punya keyakinan penuh kalau saya bisa berpuasa. nyatanya tubuh kita punya alarm-nya sendiri. saya ingat ada hari dimana saya terpaksa membatalkan puasa dua jam jelang adzan magrib. saya sakit kepala, salah satu penyebabnya mungkin kurang asupan cairan, karena saat itu saya tetap memerah asi. setiap bangun dari duduk saya harus berpegangan selama beberapa detik karena padangan gelap. saat itu pula menyusui pagi selepas ashar menjadi hal yang memberatkan. pagi kecil yang bahkan bicarapun belum bisa, sering saya tunda waktu menyusuinya supaya saya juga bisa menunda rasa haus dan memperkecil kemungkinan serangan sakit kepala sampai jelang berbuka. kalau diingat lagi sedih sekali rasanya.

tahun lalu, saya kembali merasakan ramadan dalam kondisi hamil, bedanya saat itu usia kehamilan aksara masih sangat muda dan alhamdulillah saya juga tidak merasakan gejala morning sick. jadi saya santai saja menjalankan ibadah puasa. hanya saja di akhir ramadan dokter menyarankan untuk tidak berpuasa karena saya akan melakukan perjalanan jauh, stamina ibu, nutrisi dan kondisi janin kecil harus dijaga betul. dan tahun ini adalah ramadan kedua yang akan saya lewati dengan status sedang memberi asi ekslusif. sebelum cuti berakhir tempo hari, saya membaca (lagi) banyak pendapat ulama tentang ibu menyusui dan puasa, salah satunya artikel ini. maka berbeda dengan saat menyusui pagi dulu, tahun ini sejak awal ramadan saya memutuskan untuk tidak berpuasa.

keinginan untuk berpuasa tentu saja ada. memangnya siapa yang bahagia makan siang sendiri sementara yang lain menjalankan ibadah ramadannya? terlebih pertanyaan "kok gak puasa?" beserta saran-sarannya cukup mengusik dan membuat sedih. apa iya saya yang kurang yakin dan kurang berusaha? atau mungkin saya yang terlalu berlebihan menanggapi kondisi fisik yang lemah ketika berpuasa? tapi kalau melihat aksara dengan wajah bundar dan mata sipitnya yang lucu, saya seperti punya keyakinan baru. ya, saya memang tidak berpuasa karena ada bayi kecil yang menunggu ibunya pulang bekerja dengan oleh-oleh beberapa botol asi perah setiap hari :)

jadi, bersyukurlah ibu hamil/menyusui yang tetap bisa santai dan sehat saat menjalani puasa. percayalah, itu anugerah istimewa. tapi jangan lupa untuk berempati pada ibu yang memilih untuk tidak menjalankan puasa. tolong jangan menghakimi, karena keputusan seorang ibu hamil/menyusui untuk tidak berpuasa pastilah sudah melalui proses pertimbangan yang matang, pertimbangan yang diambil semata-mata untuk kebaikan ibu dan bayinya. lagipula kita toh tidak pernah ada di posisi mereka, tidak pernah merasakan fisik yang sama dengan mereka, jadi kita tidak pernah tau seberat apa perjuangan yang mereka rasakan saat hamil atau menyusui. iya kan?


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS