jadi ibu(-ibu)

Monday, March 21

hari ini aksara berusia satu bulan, artinya tepat satu bulan juga saya kembali mengulang rutinitas tiga tahun lalu; bangun ditengah malam, menyusui, mengganti popok nyaris setiap satu jam sekali. berdasarkan pengalaman pagi dulu, artinya saya harus menghapus kamus "tidur enak" dari kehidupan setidaknya selama dua tahun kedepan.

sudah satu bulan, saya punya status baru sebagai ibu(-ibu) dengan dua anak. biasanya beberapa teman yang kebetulan baru mempunyai satu anak datang menjenguk dengan pertanyaan "gimana rasanya?" sedangkan yang sudah lebih dulu berstatus seperti saya sialnya hanya tersenyum menggoda penuh makna sambil melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab; "seru kan, jeng?" hahahahaha.

jadi ibu untuk yang kedua kalinya tidak lantas membuat saya khatam segala hal berbau parenting. justru, jadi ibu dengan dua anak membuat saya belajar lebih banyak lagi dan lagi. kalau saya berpendapat, punya anak pertama itu sangat melelahkan secara fisik maka punya anak untuk yang kedua kalinya sangat membutuhkan kesiapan emosional.

biasanya, ketika punya anak pertama.. pasangan muda hanya euphoria pada kehadiran bayi mungilnya, tapi tidak menyiapkan mental dan stamina untuk proses setelahnya yang jauh lebih panjang. iya, itu saya dan pak ery dulu. kami benar lupa (atau tidak tau) bahwa sebenarnya selain waktu kelahiran yang membahagiakan ada waktu yang tidak kalah penting untuk disiapkan kedua orangtua, yaitu satu bulan pertama setelah kelahiran. kami tidak menyangka bahwa satu bulan pertama setelah kelahiran adalah waktu yang sangat menguji ketahanan fisik. belum pulih dari proses melahirkan yang melelahkan, sudah harus kekurangan jam tidur secara drastis, kebingungan membaca ritme bayi, ditambah harus tetap menerima banyak tamu yang datang berkunjung. badan rasanya remuk redam saat itu.

kelahiran anak kedua, saya jauh lebih siap. saya tau bahwa satu bulan pertama kehadiran aksara akan sangat menguras energi. tapi, tetap ada yang luput, bahwa selain menguras energi, ada kesabaran yang juga sering ikut tergerus. kesabaran yang erat sekali kaitannya dengan si anak pertama. sebenarnya, pagi tidak cemburu atas kehadiran adiknya. bahkan sejauh ini dia cukup kooperatif, dia selalu gembira membantu jika saya memintanya mengambilkan handuk, kapas, atau baju adik. tapi, pagi tetaplah anak kecil berusia tiga tahun dengan segala fase yang sedang dijalaninya.. kadang drama, kadang membantah, kadang tantrum, dan kadang ibu belum siap menerima itu.

diam-diam saya berharap supaya pagi tidak perlu menangis untuk hal-hal sepele, berharap supaya interaksi saya dan dia less-drama, lebih mudah jika diminta mandi, membereskan mainan atau mematikan televisi. saya seperti kehabisan stok untuk merayu dan membuat kesepakatan damai seperti yang biasa kami lakukan. tiba-tiba sumbu sabar jadi lebih pendek dari biasanya.. harus diakui, sejak fisik yang terkuras dibulan pertama aksara lahir, kadang saya tidak cukup ikhlas memenuhi permintaan pagi yang sebenarnya sah saja, seperti meminta dibacakan buku ketiga sebelum tidur, atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang ajaib. pokoknya saya jadi lebih sering menuntut pagi untuk jadi lebih dewasa dari usianya.

tentu saja perasaan sedih dan bersalah kerap datang ketika pagi tidur. kalau sudah ada disituasi itu saya jadi drama, berurai air mata. saya percaya hampir semua ibu yang menaikkan intonasi suara ketika berbicara dengan anak kecilnya sadar bahwa mereka tidak seharusnya melakukan itu. sayangnya tidak semua ibu tercipta dengan level kesabaran setinggi bu elly risman atau teh kiki barkiah kan? dan dalam kehidupan nyata, ilmu parenting tidak semudah teori yang tautannya selalu kita bagikan lewat sosial media, yang tentu sudah khatam kita baca berkali-kali. saya sendiri masih jauh dari kategori ibu ideal, masi perlu banyaaaaakk belajar meluaskan hati dan meninggikan tingkat kesabaran diri.

sekolah bagus (dan mahal)

Friday, March 11

berawal saat beberapa waktu lalu saya membagikan salah satu posting blog tentang biaya masuk beberapa SD swasta favorit di bandung, yang menuai banyak respon, maka malam ini saya mau meracau tentang dunia pendidikan. eh tapi sebelum mulai nulisnya saya mau bilang terimakasih dulu sama pemilik blog yang link-nya sudah saya bagikan di laman facebook, hatur nuhun informasinya ya mbak ines ;)

sebenarnya sejak pendidikan anak menjadi hot topic dikalangan ibu-ibu muda di kantor, pertanyaan "sekolah dimana?" nyaris selalu terlontar disetiap obrolan makan siang disertai pertanyaan lain yang berkaitan, seperti "ada jemputan gak?", "bayarannya gimana?" dan lain sebagainya. sebenarnya pagi memang belum akan masuk sekolah dasar, mungkin masih 3 atau 4 tahun lagi. pagi bukan juga yang pasti saya daftarkan untuk duduk disalah satu sekolah dalam daftar tersebut. saya baru melihat nama-nama sekolah beserta tabel biayanya saja kok, meski itu sudah cukup untuk membuat pegawai negeri seperti saya senyum-senyum pasrah sambil membatin "apa kabar angka-angka ini tiga tahun lagi?" hahahahaha

saya dan pak ery sepakat, sejauh ini belum  punya niatan mendaftarkan pagi disekolah terbaik dan termahal menurut daftar di blognya mbak ines. alasan pertama jujur saja karena biaya yang tidak sesuai dengan anggaran belanja rumah tangga kami, alasan kedua sebenarnya saya lebih berharap bisa menemukan sekolah yang sesuai dengan karakter pagi. bukan semata-mata terpaku dari review kualitas dan biaya pendidikannya. terlebih saya sendiri sampai sekarang belum yakin, apa iya mahal dan mutu akan selalu berjalan beriringan? seperti apa output yang "pantas" saya harapkan jika anak-anak saya bersekolah disana kelak?

kalau ibu saya bilang, jadi orangtua jaman sekarang lebih "repot", lebih banyak pertimbangan ini dan itu. berbeda dengan jaman ibu membesarkan saya dan kakak-kakak dulu. kami bebas main tanpa rasa cemas berlebihan yang menghantui ibu. apalagi tinggal di kota kecil seperti bandar lampung di tahun 90an, urusan sekolah? serahkan pada sekolah negeri. soal kurikulum dan nilai, tinggal ikut aturan dan standar pemerintah. beres. tidak ada ketakutan berlebihan seperti banyak orangtua jaman sekarang. baru akan masuk TK saja galaunya sudah level dewa hahahaha.. benar juga. tapi memang tidak fair jika membandingkan kehidupan sekarang dengan dulu. saat ini suka ataupun tidak yang namanya teknologi, pemikiran, pun kecemasan berkembang beriringan.

balik lagi ke soal sekolah, intinya saya tidak ingin ego saya dan pak ery sebagai orangtua jadi alasan untuk mendaftarkan pagi (dan adik-adiknya nanti) ke sekolah yang (katanya) terbaik dari berbagai segi itu. kami tidak ingin membuatnya terlihat lebih agamis, lalu jadi alasan untuk mendaftarkannya ke sekolah berbasis islam. kami tidak ingin menuntutnya bernilai akademis tinggi, sehingga jadi alasan untuk mendaftarkan mereka mengikuti les ini dan itu. kami ingin memberikan pilihan senetral dan sebanyak mungkin.. kemudian membiarkan mereka menentukan sendiri apa-apa yang menurut mereka baik dan menyenangkan. kami ingin anak-anak bisa menjadi dirinya sendiri, menjadi individu bahagia dan berbeda dari kami orangtuanya.


 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS