menerima

1:21:00 pm

dulu saya tidak pernah mengira bahwa menjadi orangtua berarti belajar setiap hari. setiap hari artinya ya benar-benar setiap hari, tanpa libur satu haripun. bukan hanya belajar tentang menghadapi dan menanggapi, tapi lebih daripada itu adalah belajar menerima. belajar dengan sadar menerima bahwa anak adalah individu yang berbeda dari kita, orangtuanya. juga menerima bahwa memiliki anak artinya sepaket komplit dengan bahagia dan dramanya yang bisa terjadi kapan saja. terlihat mudah?

tunggu sampai akhirnya kita mengakui, sulit sekali untuk tidak berkomentar menghakimi, terhadap apapun pilihan yang diambil oleh anak. misalnya ketika ia memilih untuk tidak menggunakan alas kaki saat berlari di taman, ketika ia mempertahankan keinginannya untuk mengaduk sendiri adonan kue yang menyebabkan lantai dapur lengket. atau ketika ia memilih untuk menunda mandi barang beberapa menit untuk menyelesaikan istana kerajaan imajinasinya, yang dalam kacamata orang-dewasa-yang-terlalu-serius seperti kita, hanya tumpukan balok-balok kecil tak bermakna. tunggu sampai kita setuju bahwa sulit sekali untuk punya berlapis-lapis sabar ketika kita harus menghadapi rengekan tanpa henti, atau tangisan tanpa alasan mereka yang terjadi hampir setiap hari.

saya juga bukan orangtua yang selalu tenang dalam menghadapi drama-drama pagi kecil. jauh, masih jauh sekali. saya masih sering melontarkan nada tinggi ketika rasa sabar sudah sampai dilapis terakhir. masih sering membelalakkan mata untuk menunjukkan pada pagi bahwa saya tidak setuju dengan apa yang ia lakukan, bahwa saya marah dan bahwa ia harus takut akan reaksi saya tadi. sedih ya? banget. kalau sedang ada di posisi "waras" saya selalu rindu pagi, bukan hanya pagi yang manis, tapi saya bahkan rindu saat ia menangis karena tidak tau dan tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan, situasi yang menurut pagi mungkin sulit sekali, situasi yang seharusnya tidak saya respon dengan emosi tinggi.  

bisa dibilang selama hampir empat tahun usia pagi, sekarang ini adalah saat-saat paling menantang untuk kami. dimana pagi kecil mulai belajar mempertahankan keinginannya, belum terbiasa bernegosiasi dengan komunikasi logis, sekaligus belum terlatih untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. bisa ditebak, nyaris semua yang tidak sesuai dengan keinginannya berakhir dengan tangisan. harus seperti apa dan bagaimana menanggapinya? rasanya clueless sekali. pernah ada satu masa dimana akhirnya saya terus melihat kebelakang, mengkoreksi apa-apa yang dulu pernah saya dan pak ery terapkan pada pagi. rasanya sudah tidak terhitung berapa kali saya menyalahkan diri sendiri. iya, sampai saat ini, saya masih jadi orangtua yang berharap anaknya bisa berperilaku menyenangkan setiap saat. saya belum bisa sepenuhnya menerima bahwa pagi suatu hari akan melewati fase drama sepanjang ini.

sekarang memang baru tiga tahun berlalu, tentu saya dan pak ery masih harus terus belajar. belajar untuk tidak memasang standar kacamata "anak manis" versi kami untuk pagi, dan tentu saja belajar menerima pagi sebagai dirinya sendiri lengkap dengan segala proses perkembangan karakter yang saat ini sedang dijalani. menerima adalah satu mata kuliah pendidikan orangtua yang tadinya kami pikir tidak sulit, ternyata malah jadi satu hal yang paling ingin kami selesaikan dengan baik dan tepat.

 



You Might Also Like

7 comments

  1. Thank you for writing this, kak. Aku jadi sedikit bisa memahami dari sudut pandang orangtua aku juga. Maklum belum jadi orangtua jd belum tau rasanya :')

    ReplyDelete
  2. inspirasi mba! hehehe ketika suatu hari nanti tiba hehe

    ReplyDelete
  3. syamaaaa buajeng akupun merasakannya...

    "anak adalah refleksi diri kita sendiri"

    ReplyDelete
  4. Belajar,belajar dan belajar...pelajaran informal yang kudu dicari tahu oleh kita2 yang berstatus orang tua..sampai skrng aja Jeng..anaku yg sulung udah 8 tahun msh menjadi ajang pelajaran sabar bagi aku..suamiku sll bilang..ibu marah ama amira,pdhal ibu tuh sifatnya kayak amira,itu namanya marah sama diri sendiri..hehehe

    ReplyDelete
  5. I feel you Buajeng dan ibu-ibu lain...belajar tiada henti kita - Tatat

    ReplyDelete