cukup

8:53:00 am

kemarin saya melihat dan ikut berbagi tautan video singkat tentang seorang pilot, captain budi soehardi yang menjadi ayah angkat bagi ratusan anak yang tidak memiliki orangtua, atau yang dititipkan ke panti akibat kemiskinan. captain budi sudah sejak lama menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun panti asuhan yang saat ini dihuni lebih dari 100 anak-anak. dan saat ini, setelah pensiun dari dunia penerbangan, beliau mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk anak-anak asuhnya.

masih hangat dalam ingatan juga ketika beberapa tahun lalu, sepasang pemulung berqurban dua ekor kambing saat hari raya idul adha setelah menabung selama tiga tahun. saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa kuat tekat mak yati dan suaminya untuk membeli dua ekor hewan qurban dengan menyisihkan penghasilan mereka yang rata-rata perharinya hanya dua puluh lima ribu rupiah saja. sementara kita yang punya penghasilan diatas itu, masih sering merasa paling nelangsa ketika menguras tabungan untuk pengeluaran tak terduga.

ada juga cerita tentang polisi berpangkat bripka yang membangun pesantren, atau beberapa orang yang bekerja dengan ketulusan dan kerendahan hati, memperjuangkan pendidikan di garis perbatasan, pedalaman bahkan hutan belantara. tentu masih banyak cerita serupa yang membawa kehangatan dan membuat kita percaya, di negeri ini masih banyak sekali orang yang tidak segan berbagi kebaikan. orang-orang sederhana yang mungkin tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan berdampak besar dan menjadi inspirasi.

satu benang merah yang saya dapat dari captain budi, mak yati juga suaminya adalah mereka semua memiliki rasa cukup. iya, rasa cukup terhadap materi, yang dalam ajaran islam disebut dengan qana'ah, menurut saya adalah salah satu capaian tertinggi seorang manusia. ketika merasa cukup, maka seseorang berdamai dengan egonya. dimasa sekarang, saat keadaan "mengajarkan" kita memiliki segala sesuatu lebih dan lebih, lagi dan lagi, tidak banyak orang yang terlatih mencukupkan diri, melepas kemelekatan mereka terhadap materi.

tulisan ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, bahwa rasa cukup dan syukur tidak akan serta merta hadir dalam diri kita. rasa cukup perlu dibiasakan dan dileburkan dalam keseharian. seperti kata gobind kita perlu melatih diri untuk melihat kedalam, mengurangi kebiasaan kita membandingkan juga bersaing. captain budi dan bripka junaidin, mengajarkan kita bahwa berbagi tidak sama dengan mengurangi. sementara cerita mak yati membuktikan kepada kita semua, rasa cukup bisa membuat seorang yang miskin sekalipun, menjadi sangat kaya :)

 

** gambar diambil dari sini

You Might Also Like

10 comments

  1. Suka sekaliii! Sangat setuju. Bisa bilang 'Cukup' itu skill yang semakin langka sekarang.

    ReplyDelete
  2. rasanya akuh selalu merasa ga pernah cukup...

    ReplyDelete
  3. "Cukup", kunci kebahagiaan menurutku:')

    ReplyDelete
  4. Ah...bener banget...mengingatkan lagi untuk terus berlatih merasa "cukup" :)

    ReplyDelete
  5. karena memang cukup aja gak cukup.
    It's human.. hahhaa

    berkaca sama diri sendiri, karena cukup itu bagian dari sederhana..

    ReplyDelete
  6. Bener pisan...

    Berhenti karena merasa cukup itu sulit. Kecuali kalau lagi olahraga, satu keliling lapang juga udah cukup :)

    ReplyDelete
  7. membaca tulisan ini, menjadikan saya mengurungkan niat utk kembali pindah blog ke wordpress..pokoknya membuat saya begitu, jadi terimakasih, haturnuhun

    ReplyDelete
  8. Tulisannya cukup membuat aku ....
    Hiks jadi inget diri sendiri yang suka mengeluh

    ReplyDelete
  9. iya.. susah ya merasa cukup.. apalagi kalo yang berasa kuranggg melulu.. :(

    ReplyDelete