pagi belajar

11:56:00 am

awal pekan ini, linimasa saya ramai dengan tautan gambar yang berisi ajakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. saya juga ikut merasakan keriangan dan kekhawatiran yang jadi satu diantara beberapa wajah teman sekantor. bayi-bayi kecil yang dulu hanya bisa kami gendong saat family gathering, sekarang sudah beranjak besar dan tak bisa diam. beberapa diantaranya bahkan sudah terdaftar sebagai siswa taman kanak-kanak. how time flies. bulan agustus ini usia pagi juga sudah menginjak 3.5 tahun, sudah banyak sekali stok kalimat tanya-nya. sudah mulai bisa mempertahankan keinginan dan mulai susah diajak negosiasi.

terselang waktu beberapa hari, saya dan pak ery juga mengambil keputusan yang sama. kami memutuskan untuk mulai mengenalkan pagi dengan tempat belajar selain rumah. belajar dalam lingkup definisi yang luas. bukan berhitung, bukan menghafal huruf dan angka. belajar dari bermain, dari apa yang ia (dan teman-temannya) lakukan setiap hari di rumah belajar semipalar. semipalar memang bukan sekolah yang populer. tapi semipalar sudah menjadi bahasan ringan antara saya dan pak ery bahkan jauh sebelum usia pagi genap dua tahun. lalu kenapa semipalar? karena menurut kami semipalar adalah tempat belajar yang paling mengakomodasi bayangan kami berdua tentang sistem pendidikan. sederhananya bahwa pada setiap anak, ada potensi dan keunikan yang harus ditemukan, dalam setiap individu anak juga ada kreatifitas serta imajinasi yang perlu terus dikembangkan.

rasa ragu dan khawatir tentu saja sempat ada, muncul juga perasaan takut. takut terlalu memaksakan mengingat usia pagi yang menurut beberapa teori parenting masih terlalu dini. tapi, ada satu peristiwa yang akhirnya jadi "gong" kami mengambil keputusan besar ini. suatu sore ketika saya pulang bekerja, pagi unjuk kebolehan menghafal lagu. bukan lagu biasa, melainkan lagu mars partai perindo. sedih sekaligus takjub. sedih karena selama saya bekerja, saya tidak bisa mengontrol apa yang dilihat oleh pagi.. takjub karena kemampuan menyerapnya ternyata luar biasa cepat.

sejak saat itu mengajak pagi belajar diluar rumah menjadi niat yang bulat. diskusi antara saya dan pak ery mulai mengerucut, memilah kebaikan yang bisa kami dapat sekaligus risiko yang mungkin terjadi jika keputusan ini kami ambil. setelah sebelumnya sudah menyepakati juga perihal waktu mengantar dan menjemput, barulah kami berburu jadwal gelar griya semipalar. sayangnya kami melewati gelar griya yang pertama pada akhir februari lalu. tapi istilah jodoh tak lari kemana memang ajaib. dipertengahan bulan april saya mendapat informasi bahwa gelar griya akan diadakan lagi sesaat sebelum tahun ajaran baru dimulai.

singkat cerita, kami berkunjung ke semipalar rabu jelang siang kemarin. karena malam sebelumnya saya sudah melakukan briefing dan mengatakan bahwa besok kami akan mengunjungi tempat bermain, begitu sampai semipalar yang pertama ditanya pagi adalah "kok gak ada perosotannya? ayun-ayunnya mana bu?" errr.. dasar anak play land hahahaha. tapi memang jangan bayangkan semipalar sekolah dengan warna gedung terang dan mainan yang tersebar disetiap sudutnya. sama sekali jauh dari itu. semipalar dalam kacamata saya adalah sekolah dengan gedung minim warna. tidak banyak pernak pernik eye cathing yang menjadi khas taman bermain. mungkin ini salah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan semipalar berbeda dengan sekolah lain; mengajak anak-anak berimajinasi dan berkreasi, dengan bermain menggunakan media apa saja yang mereka temukan dalam keseharian.

kami tidak akan memaksa pun belum bisa memastikan apakah pagi akan klik dengan semipalar. yang jelas ketika malam tadi saya mengajaknya untuk kembali mengunjungi semipalar, dia berteriak gembira "aku mau!" ok! minggu depan kita trial kelas ya nak :)





You Might Also Like

8 comments

  1. Share terus kegiatannya di semipalar yaa... Aku jadi kepo..

    ReplyDelete
  2. akupun sudah mengeceng sekolahan buat endo sejak dia usia 4 bln
    dan sekolahan yg kami kecengin itu sekolah alam pelopor yang ada di rancaekek (ada untungnya jg rumah ada di bandung coret ihihhi)

    tapi aku lg mempelajari semipalar ini nih.. buat referensi lain kalau ga cocok di alam pelopor ihihi

    thanks sharingnya buajeng!

    ReplyDelete
  3. keren.. *komen idem dengan atas* :)
    Kalo biayanya gimana kah? *saya suka stress kalo liat biaya uang sekolah anak* -_-

    ReplyDelete
  4. Ah, atuhlah.
    Kenapa dekat rumah, sekolah sejenis biayanya melambung super tinggi? :|

    Lanjutkan cerita Semipalarnya, Bu Ajeng. :D *komen sama kayak diatas*

    ReplyDelete
  5. rekomendasi nih mba jeng..

    sayang saya belom pnya anak.. :))
    karena alam selalu membawa dan mengajarkan kita untuk berimajinasi..

    ReplyDelete
  6. Meluncur ah..lihat-lihat ke sana

    ReplyDelete
  7. sama kayak neng Opi, secara kami tinggal di Bandung-coret, ngeceng Alam Pelopor, tapi waktu dirimuh ngepost Semipalar jadi kepo juga ihh... (etapi jauh ti imah aku) *meehhh*

    ReplyDelete