kenapa bekerja?

Friday, May 27

gambar dari sini

akhirnya minggu ini saya kembali resmi menyandang status sebagai ibu bekerja. setelah masa cuti tiga bulan yang bulan pertamanya dilewati dengan banyak drama tentu saja hahahaha. senin kemarin, saya kembali merasakan rutinitas istimewa; bangun sebelum adzan subuh berkumandang, memasak, memerah asi, memandikan pagi dan aksara, menyiapkan semua yang mereka perlukan selama saya bekerja. menyelesaikan semuanya lima belas menit sebelum jam keberangkatan agar masih punya waktu untuk menyusui aksara dan berbincang dengan pagi yang sudah mulai banyak mengerti. memintanya untuk makan makanan yang saya masak, tidak banyak nonton televisi dan membereskan mainannya sendiri jika sudah selesai bermain.

saya kembali merasakan jalanan kota bandung di awal hari, berkendara menuju bangunan besar berlambang gajah yang berdiri gagah disebelah jembatan layang icon kota bandung. bangunan yang selalu ditunjuk pagi dengan gembira ketika melewatinya "itu kantor ibu! besaaaar ada gajahnya diatas!". mulai senin kemarin saya mengulang kebiasaan yang nyaris selalu sama; memarkir kendaraan, menyapa petugas taman dan satpam penjaga, menunggu lift, membubuhkan sidik jari di mesin absen yang tidak pernah lelah mengucap terimakasih, disambut hangat oleh mereka yang sudah saya kenal sejak lama, duduk di meja kerja, menyalakan perangkat kerja, lalu bergantian menatap layar komputer dan jendela, dan seketika saya merasa hidup saya lengkap. memang agak gengsi mengakuinya, tapi mungkin benar saya rindu bekerja.

sejujurnya, ada banyak yang hilang ketika saya tidak bekerja. kemampuan untuk disiplin dan produktif salah satunya. saya sendiri heran, ketika saya bekerja.. saya hampir bisa memastikan semua "kewajiban" selesai sebelum jam tujuh pagi. yang mana hal tersebut sulit sekali dilakukan ketika angka di kalender berwarna merah, atau ketika saya cuti panjang seperti kemarin. saya mungkin satu dari sedikit sekali ibu yang merasa cocok menjadi pegawai kantoran. menjalani profesi yang akhir-akhir ini tingkat kepopulerannya semakin menurun, seiring banyaknya anjuran dan ajaran untuk menjadi enterpreneur atau freelancer. iya, memangnya siapa yang tidak tergoda dengan waktu kerja yang bisa ditentukan sendiri? tapi apakah semua orang bisa pas dengan pola seperti itu? sebagian mungkin malah menemukan feel "gue banget" ketika berada dalam rutinitas seven to five itu tadi, dan kemungkinan besar itu saya hahahaha.

meski kadang ada juga masa-masa chaos seperti ketika beban pekerjaan menekan lebih dari biasanya, salah satu personil keluarga sakit atau malah saya yang staminanya turun naik karena terlalu sering kehujanan, sementara kewajiban rumah tetap harus berjalan seperti biasa. kalau sudah begitu, biasanya dukungan dari pak ery adalah obat paling mujarab. apalagi kalau sudah jadi ibu, standar kebahagiaan memang jadi jauh lebih sederhana; dikasih kesempatan menikmati waktu tidur satu atau dua jam lebih panjang dari biasanya, sekedar didengarkan ketika mulai menangis drama atau dibawakan dua-eskrim-cair-karena-belinya-di-minimarket-yang-jauh-dari-rumah seperti malam ini saja sudah bisa bikin semangat kembali penuh. dan memang yang exhaustion dan out of balance itu sesekali perlu terjadi supaya kita tau batasan diri kan? tau kapan harus berhenti, atau mengurangi..  itu saja. selebihnya jika ada yang bertanya kenapa saya masih betah melakukan rutinitas bekerja yang menurut sebagian orang membosankan? maka jawabannya akan saya copy paste dari quote diatas :) 


2 comments:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS