ditinggalkan

8:48:00 pm

saya sering mendengar beberapa orang menyarankan agar kita cepat punya anak, mumpung masih muda katanya, dan (biasanya) setelah punya satu anak, disarankan untuk punya lagi (dan lagi) supaya ketika tua nanti ada banyak yang membantu mengurus kita. atau, jangan sampai tidak punya anak perempuan, karena biasanya kepada anak perempuanlah kita "pulang" saat senja usia nanti, dan masih banyak lagi saran lainnya yang menurut saya sebenarnya sama sekali bukan hak kita sebagai manusia untuk menentukannya.

saya lahir di keluarga kecil sebagai anak bungsu dengan dua kakak. satu laki-laki yang sekarang menetap di pekanbaru, satu lagi perempuan yang tinggal di maluku utara, saya sendiri di bandung sementara bapak dan ibu berdomisili di kota rantauan pertamanya, bandar lampung. berbeda dengan pak ery yang terlahir dari keluarga yang super besar, pak ery adalah bungsu dari 13 bersaudara. silahkan bayangkan sebesar apa keluarganya jika pagi dan aksara berturut-turut adalah cucu ke 34 dan 35. meskipun sebagian besar keluarga pak ery masih menetap di provinsi yang sama. tapi ada kesamaan antara bapak-ibu (saya) dan apa-mamah (pak ery) yaitu berapapun jumlah anaknya, ketika semua anak-anak sudah membangun keluarganya sendiri, maka orangtua akan kembali ke mula; dirumah berdua saja.

kadang saya bertanya pada pak ery, kira-kira seperti apa kami saat tua nanti? mungkin kami akan menghabiskan masa tua dengan membaca buku dan traveling dengan tetap menggunakan backpack, atau mungkin kami akan rajin jalan pagi bersama; mengunjungi pagi, aksara dan mungkin anak-anak mereka. kami akan sering mengunjungi tempat-tempat yang mungkin jadi legenda kota bandung, seperti garasi merdesa misalnya. tapi dari kesemuanya itu yang paling mungkin adalah saya akan tetap banyak bicara dan pak ery tetap setia dengan diamnya hahahaha. ah, apapun yang jelas kami akan lebih banyak menghabiskan waktu berdua. seperti bapak dan ibu, apa dan mamah, atau kakek dan nenek.

bercerita tentang kakek dan nenek, beliau berdua adalah satu-satunya keluarga dekat (dari pihak bapak) yang berdomisili di bandung. kakek adalah paman bapak. sudah sejak belasan tahun lalu, kakek dan nenek tinggal berdua karena putranya (yang kebetulan hanya satu) berkeluarga dan menetap di jakarta. sepanjang ingatan saya, mengunjungi kakek dan nenek adalah hiburan tersendiri, beliau berdua sering berdebat tentang hal-hal kecil dihadapan kami. tentang kolak bikinan kakek yang menurut nenek terlalu manis, atau tentang nenek yang menurut kakek selalu mendadak sembuh dari sakit lutut jika diajak berbelanja. dimata saya, kakek dan nenek selalu tampil mesra dengan caranya sendiri. setiap habis berkunjung, saya membayangkan kakek dan nenek adalah sosok bapak dan ibu lima tahun lagi, atau mungkin pak ery dan saya puluhan tahun mendatang.

sedihnya rabu siang kemarin, kami mendapat kabar duka. nenek berpulang. innalilahi wainnailahirojiun,  berita kepergian nenek tentu membuat saya dan pak ery kaget, terakhir kami mengunjungi kakek dan nenek saat aksara berusia dua bulan. bahkan awal bulan lalu bapak dan ibu masih bersilaturahmi. malah menurut cerita ibu saat itu nenek terlihat sehat dan ceria seperti biasa meskipun sesekali mengeluhkan lututnya yang semakin sering sakit. meski dihari kepulangan nenek, kakek terlihat sangat besar hati tapi saya lantas menjadi haru, membayangkan setelah hari kemarin, kakek akan melewati hari-harinya seorang diri. membayangkan kakek yang mungkin tidak punya lagi teman bercerita dan berbagi tawa. membayangkan sepinya rumah dinas sederhana yang sudah puluhan tahun mereka tempati berdua, tanpa nenek.

untuk kembali menjadi berdua saja saat senja usia, kita memang sudah seharusnya siap. tapi untuk ditinggalkan? saya sendiri tidak bisa membayangkan apa rasanya ditinggalkan seseorang yang sudah hidup bersama selama berpuluh tahun? apa rasanya sendiri setelah sebelumnya terbiasa berbagi tentang apa saja dengan seseorang yang kita cintai? apa rasanya menangis dalam doa yang kita kirimkan untuk seseorang yang telah berpulang, yang pada hatinya kita menemukan rumah dan kehangatan? entahlah.. sejatinya manusia adalah mahluk lemah yang mungkin tidak akan pernah siap (ditinggalkan) berpulang.


You Might Also Like

1 comments

  1. Tapi pada akhirnya kita akan menghadapi kematian itu sendirian, tidak peduli sebanyak apapun orang2 disekitar.

    ReplyDelete