diet sampah rumah tangga

Friday, May 6

grup #1minggu1cerita yang saya ikuti sejak dua bulan kemarin punya kesepakatan baru; menulis dengan tema yang sama diminggu pertama setiap bulannya. buat saya jadinya menantang sekaligus menggemaskan. gemas karena dengan tema yang ditentukan ini bikin saya berlama-lama didepan komputer dengan alasan merangkai cerita tapi malah selalu berujung dengan dua atau tiga perlengkapan bayi yang dibeli dari halaman belanja online. internet memang racun buat ibu baru seperti saya hahahaha.

oke, jadi karena tema minggu ini adalah lingkungan.. maka mari bercerita santai tentang lingkungan dari kacamata saya sebagai ibu dengan dua anak. sampai sekarang buat saya menjaga lingkungan itu gampang-gampang susah. saya yakin, sebagian besar dari kita yang sudah dewasa sadar kok kalau menjaga lingkungan tidak cukup sampai tindakan buang sampah pada tempatnya. melainkan jauh lebih luas dari itu. ada prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang atau yang lebih populer dengan sebutan reduce, reuse, recycle. kita tau artinya, paham maksudnya tapi butuh kebulatan niat dan tekad yang kuat untuk benar-benar bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

kalau saya sendiri kesadaran menjaga lingkungan dilakukan lebih karena alasan logis. seperti ketika pagi bayi dulu, saya lebih memilih menggunakan popok kain ketimbang popok sekali pakai. repot? tentu saja. tapi saya membayangkan tentu tidak nyaman memakai popok sekali pakai seharian selama berbulan bulan. gerah. meskipun jika sudah ada dititik lelah sesekali saya berlibur dari rutinitas mencuci popok kain dan memanjakan diri sendiri dengan menggunakan popok sekali pakai seharian hahahaha. alasan kedua, tentu karena pengeluaran untuk popok sekali pakai akan jauh-jauh-jauh lebih besar ketimbang jika menggunakan popok kain. bayangkan jika dalam satu hari membutuhkan minimal lima popok sekali pakai seharga masing-masing dua ribu rupiah maka silahkan hitung berapa yang harus kita keluarkan dalam satu tahun. 

seiring bertambahnya usia pagi, saya mulai menyadari bahwa limbah  rumah tangga terbesar bukan hanya berasal dari popok sekali pakai, melainkan juga dari mainan. sesungguhnya panggilan untuk membahagiakan anak salah satunya memang datang dalam bentuk memberi mainan. orangtua mana sih yang tidak bahagia melihat anak gembira karena membuka bungkus plastik mainannya (-yang nyampah banget itu). tapi coba deh dipikir lagi, sebenarnya yang diperlukan anak-anak itu jenis mainannya, atau orangtua yang duduk dan ikut main bersamanya? lagipula percayalah, tidak ada mainan yang benar-benar awet untuk anak balita yang masih ada difase selalu ingin tau. anak usia satu tahun melihat semua mainannya sebagai teether and pacifier, pokoknya apapun mainan yang diberikan akan digigit dan dicicipi. lalu ketika dua tahun kemampuannya meningkat, menjadi ahli dalam melempar dan melenyapkan mainan. setelah tiga tahun  rasa ingin taunya disalurkan untuk merusak membongkar dan memisahkan bagian-bagian mainannya. begitu seterusnya sampai akhirnya mainan-mainan itu berlabuh ditempat sampah.

pemikiran itu jugalah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk lebih sering mengajak pagi membuat mainannya sendiri. saya mencari banyak ide bermain dan membuat mainan dengan memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai seperti kardus, map, kertas bekas dan toilet roll paper. ini salah satu cara saya berdiet sampah rumah tangga dan saking seringnya saya mengumpulkan barang-barang tidak terpakai seperti itu, petugas kebersihan toilet kantor sampai sering berinisiatif menyetorkan toilet roll paper setiap jumat sore untuk saya bawa kerumah :p oh iya, dokumentasi mainan yang saya buat bersama pagi ada dalam satu album dan hashtag berjudul #pagimain dilaman facebook dan instagram. tapi meskipun sering membuatkan mainan untuk pagi, saya juga masih membeli mainan pabrikan kok, tentunya dengan frekuensi yang bisa dibilang jarang. terakhir saya membelikan ambulance bertenaga baterai yang bisa berkeliling rumah untuk pagi. mungkin karena lebih sering punya mainan yang terbuat dari kardus bekas, pagi terlihat sangat gembira ketika menerima dan membuka bungkusnya :)

jujur saja, saya sendiri masih jauh sekali dari perilaku nol sampah seperti yang sudah khatam dilakukan teteh kece yang ini. suatu hari sih cita-citanya pengen jauh lebih punya niat dan tekat dalam usaha diet persampahan rumah tangga. kalau sekarang ini sih ke supermarket saja beberapa kali masih nambah plastik karena tas belanjanya gak cukup *salim teh anil* :p tapi setidaknya berusaha dan (masih) gagal adalah jauh lebih baik ketimbang diam dan tidak peduli, kan?


1 comment:

  1. selalu jatuh cinta sama post nya ibu (ibu) yang satu ini... inspiratif!
    bener bu, usia skr lg hobby lempar banting, boneka barbie nggak ada yang sempurna, semua dimutilasi sama Nandut hahaha..

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS