siapa yang lebih lelah?

5:30:00 pm

masih ingat tentang artikel perbedaan uang nafkah dan uang belanja untuk istri yang tempo hari sangat heits di situs jejaring facebook? seolah mendapat pembenaran, tautan artikel tersebut-pun dibagikan oleh banyak perempuan berstatus istri dengan mengikutsertakan atau men-tag sosial media milik pasangannya sambil disertai kode-kode manja atau kalimat perintah "nih, baca ya ayah.." meskipun tujuan sebenarnya tentu tidak berhenti sampai membaca, melainkan agar pasangannya segera mewujudkan apa yang katanya sudah menjadi sunnah agama tersebut. sebenarnya selain bahasan artikelnya yang tidak bisa membuat saya mengangguk setuju sampai akhirnya membahas dalam satu posting blog ini, saya juga cukup heran dengan fenomena tagging pasangan tadi, memangnya obrolan dapur seperti itu tidak bisa dibahas saat pillow talk ya?

nah, kali ini yang tidak kalah viral adalah soal pengakuan bahwa menjadi ibu itu super sekaligus luar biasa melelahkan. saya setuju. yang saya tidak setuju kemudian jadi banyak ibu yang merasa paling lelah karena sudah mengurus pekerjaan rumah tangga 1x24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa libur. buat saya kurang fair sih. karena sadar atau tidak, meskipun terlihat cool, pasangan kita juga mungkin merasakan lelah yang sama, bahkan kadang lebih. karena ada tanggung jawab keluarga yang ia pikul, secara dunia, terlebih secara agama. yang membuat terlihat jauh berbeda adalah kemampuan mereka (laki-laki) menyembunyikan ekspresi lelahnya. laki-laki cenderung tidak butuh pengakuan dalam kasus ini. beda banget sama kita (perempuan) yang ekspresif dan moodnya fluktuatif sekali. capek dikit, nangis. ada yang gak sesuai dikit baper *ngetik sambil ngaca*

memang perempuan diciptakan dengan kemampuan multitasking yang akan semakin mumpuni ketika ia sudah berstatus ibu. kemampuan yang sayangnya bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan. kelebihannya tentu saja jadi banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih cepat dalam satu waktu. dear para suami, tolong akui kehebatan kami yang satu ini hahahahaha. tapi sekaligus menjadi kekurangan karena sejujurnya multitasking itu melelahkan sekali. belum selesai urusan ini sudah disambi pekerjaan yang itu. sambil membereskan mainan, sambil mengecek persediaan makanan di kulkas. raga masih dikantor, pikiran sudah mendarat sampai pasar baru di rumah. sambung menyambung, terus menerus. kalau pengalaman pribadi, inilah yang akhirnya membuat perempuan lebih mudah lelah baik secara fisik maupun psikis.

tapi tetap bukan berarti bisa jadi pembenaran untuk setiap perempuan merasa paling berhak atas gelar lelah loh ya.. dalam kehidupan berumahtangga misalnya, menurut saya yang membedakan hanya jenis tanggung jawabnya saja. suami atau laki-laki tanggungjawabnya lebih future alias masa depan, meskipun misalnya berjodoh dengan istri yang bekerja, tetap saja tanggung jawab nafkah dan masa depan keluarga ada di pundak suami. sedangkan istri lebih mengurus keperluan yang lebih present, alias saat ini. mulai motong wortel sambil ngantuk dari sebelum adzan subuh, sampai tidur sambil duduk setiap malam demi menyusui. memastikan semua anggota keluarganya sehat, cukup makan, cukup istirahat dan bahagia. dalam lingkup keluarga, tanggung jawab perempuan biasanya memang lebih domestik. nah dalam bagian tanggung jawab itu pasti ada porsi lelahnya masing-masing. selebihnya susah-senang ditanggung bersama, kan sudah teken kontrak sehidup semati sama yang diatas.

jadi menurut saya baik istri ataupun suami, sama lelahnya, sama hebatnya. karena suami istri itu satu tim, dipertemukan dalam ikatan keluarga untuk saling menguatkan dan memberi dukungan. hanya saja kalau istri lebih cerewet banyak bercerita, ya dimaklum saja. itu memang sudah kodratnya. namanya juga perempuan :D

You Might Also Like

0 comments