menjadi kaya

Wednesday, February 17

masih pada inget gak obsesi masa mudanya apa?
saya masih. jadi orang yang berlebih secara materi salah satunya.
dulu, saya berfikir tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak ingin jadi orang kaya. makanya saya menganggap obsesi saya dulu normal saja, namanya juga anak muda visi misinya masih gak bisa jauh dari gengsi. pokoknya bertekad sekolah yang bener, kuliah yang bener, cari kerja yang bener, berkarir dan dapat gaji delapan digit. karena dalam kacamata remaja saat itu, menjadi kaya sama artinya dengan menjadi sukses, dua kata yang identik dengan tujuan hidup banyak orang yaitu; bahagia. 

tapi itu dulu. 
sekarang saya menyadari bahwa cita-cita menjadi kaya itu terlalu lucu. lucu, karena saya bahkan tidak pernah tau, setelah jadi orang kaya, lalu saya mau apa? jawaban awalnya mungkin ingin punya gadget canggih, lalu kendaraan, lalu hunian di lokasi strategis yang lusa harganya naik, lalu menyekolahkan anak-anak ditempat paling bergengsi sebandung raya, lalu berlibur kesana kemari tanpa pusing memikirkan dari mana uangnya. sudah cukup? tentu belum, karena semakin tinggi pendapatan maka lima jawaban tadi akan terus di-upgrade levelnya. beli gadget keluaran terbaru, beli mobil yang lebih mahal, tujuan destinasi liburan-pun sampai ke ujung dunia, terus menambah dan meninggikan daftar keinginan lagi dan lagi. percayalah, tidak pernah ada jawaban akhir untuk satu pertanyaan itu saja.

saya sendiri pada akhirnya jadi ragu, kalau saya jadi orang kaya.. apa iya saya tetap bisa biasa-biasa saja? yakin gak bakal nambah keinginan lagi dan lagi? yakin gak bakal upload foto tangan yang memakai jam mahal dengan latar tas jutaan yang merk-nya sengaja diblur dengan efek tilt shift-nya instagram tapi tetap kelihatan. atau update current situation saat berlibur yang kalau kata daniel radcliffe "isn't about having a good time, it's about SHOWING PEOPLE you're having a good time" jadi mungkin tuhan tidak belum menjadikan saya kaya karena saya masih punya potensi besar untuk menjadi menyebalkan seperti itu. lalu pertanyaannya jadi bertambah.. sebenarnya sekedar ingin kaya? atau butuh pengakuan dari orang lain bahwa kita kaya?

oke balik lagi soal orang kaya. teman saya, bobby pernah tiba-tiba mengirim pesan singkat pada saya demi mengutarakan teorinya "jeng, menurut gue.. orang kaya adalah orang yang gak punya cicilan apapun" saat itu saya cuma tertawa. tapi setelah lama dipikir, eh bener juga.. 

seorang petugas pengantar surat disalah satu unit kantor saya, mungkin jadi salah satu contoh orang kaya seperti yang dimaksud bobby. konon ceritanya, sejak dulu sampai usianya jelang purna bakti sekarang ini, beliau belum pernah kenal dengan yang namanya hutang, apalagi cicilan. tapi tetap bisa punya rumah, tetap bisa menyekolahkan dan mengantar anak-anaknya ke kehidupan yang lebih baik. keren kan? mungkin si bapak pengantar surat tidak memegang gadget keluaran terbaru seperti kita tapi beliau adalah contoh orang kaya yang sebenarnya. kalau ditanya "kok bisa sih?", maka dengan santai beliau menjawab "sabar dan jangan banyak maunya, neng.." oh jleb. jawaban yang cukup untuk membuat saya berfikir dan mulai menggugurkan satu persatu daftar keinginan tidak tau diri saya hahahahaha.

sebenarnya kita semua kaya, asal pandai bersyukur. klise. tapi memang benar kok, kalau tolak ukurnya hanya pendapatan, mungkin orang yang berpenghasilan lima puluhan juta perbulan-pun belum bisa disebut kaya dan sukses, selama bill gates dan warren buffett masih eksis di dunia persilatan. tapi kenyatannya dua kata itu punya definisi yang luas, luas sekali. sepertinya teori masa muda saya menjadi terbalik, bukan kekayaan dan kesuksesan yang membuat kita bersyukur lalu bahagia, tapi karena bersyukur dan bahagia maka dengan sendirinya kita menjadi kaya tanpa harus mendapat pengakuan dari orang lain. karena langit tidak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi, people know you're good, if you're good :)

2 comments:

  1. oh.my.god. jleb.jleb.jleb.


    makasih ibu pagiiiii...sudah mau sharing ini...

    ReplyDelete
  2. saya punya temen, yang patuh pada amanah pada orangtuanya: nggak boleh punya utang. Dan itu terus dipegangnya sampe sekarang. Yang ada seringkali kalo pas makan bareng, dia yang maksa mau ntraktir mulu, justru kesel kalo ditraktir. Temen saya itu langka adanya, kan?

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS