rumah

Wednesday, December 28

entah ini sudah tulisan ke berapa yang menyoal tentang rumah. tapi akhirnya, setelah melalui hari-hari penuh perdebatan, melewati banyak sekali keraguan juga diskusi panjang hingga larut malam. tepat di ulang tahun pernikahan yang ke lima awal bulan januari nanti, insyaAllah kami akan mulai menyatukan mimpi-mimpi dalam sebuah pekerjaan besar; membangun rumah. rasanya? campur aduk. buat saya malah seperti detik-detik panjang menjelang akad nikah. bahagia sekaligus kikuk. dibantu irfan; teman baik yang berprofesi sebagai civil engineer, saya dan pak ery menerjemahkan sendiri apa yang menjadi keinginan kami, kemungkinan, risiko jika mengambil pilihan a, b atau c dan lain sebagainya.

akhirnya memang saya dan pak ery memutuskan untuk sebisa mungkin mengurusnya sendiri. kami menurunkan ego, karena tentu jauh berbeda dengan impian kami beberapa tahun lalu; membangun rumah menggunakan jasa kontraktor dan arsitek ternama, tinggal duduk manis, menunggu beberapa bulan, lalu berkemas cantik dan pindah. tapi sungguh apapun itu, saya dan pak ery menikmati setiap prosesnya. terlebih ketika saya menyadari bahwa browsing harga bahan material itu jauh lebih menyenangkan ketimbang scroll down beranda facebook. dan bahwa ternyata mencari ide bentuk jendela melalui aplikasi pinterest itu membahagiakan sekali ya?

kami sepenuhnya sadar bahwa setelah menikah dan memiliki dua anak, membangun rumah jadi salah satu keputusan dan sebuah langkah besar lainnya dalam kehidupan rumah tangga saya dan pak ery. keluar dari zona nyaman, untuk (mungkin) segera berpindah ke zona lain yang kami belum tau seperti apa dan bagaimana nantinya. menurut mereka yang sudah berpengalaman, membangun rumah akan sangat melelahkan, menguras energi juga barisan angka-angka di tabungan. and yes, it's gonna be a loooong time. bismillahirrahmanirrahim.

dari balkon belakang rumah bapak, yang kami tempati sekarang.



tiga puluh

Wednesday, November 30

bulan ini saya memasuki usia yang ke tiga puluh, setelah beberapa kali #menolaktua toh akhirnya saya harus meninggalkan usia dua puluhan yang bagai roller coaster. buat saya sepuluh tahun terakhir kemarin merupakan masa-masa luar biasa. mulai dari mengalami kegelisahan khas anak muda, mencari jati diri, berjibaku menyelesaikan studi, menjadi pengangguran sekaligus merasakan pertama kalinya bekerja dan dibayar secara profesional, mengalami drama-drama kisah cinta *uhuk*, mengambil keputusan terbesar dalam hidup, menikah sampai akhirnya memiliki dua anak. semua terjadi di umur dua puluhan dan sekarang akhirnya saya menjejak angka tiga puluhan, usia yang belum terlalu tua untuk menggenapkan anak menjadi empat (eh, gimana?) hahahahaha.

jadi apa saja perubahan yang saya alami selama sepuluh tahun terakhir? yang jelas banyak hal yang dulu saya anggap rumit dan menakutkan, sekarang menjadi lebih sederhana, pun sebaliknya. contoh nyatanya saja, dulu buat saya teman adalah segalanya. saya tidak bisa membayangkan betapa kosongnya hidup tanpa si A yang asik jadi partner traveling, si B yang seru diajak berburu diskon, si C yang dewasa sampai Z yang hafal tempat makan murah meriah sejagat bandung. sekarang teman dan juga orang-orang disekitar saya, meskipun jumlahnya menjadi jauh lebih sedikit, menurut saya adalah orang-orang terbaik yang memang terpilih untuk menemani sisa hidup saya. bisa dibilang mereka pasti ada karena proses perubahan dalam diri yang saya alami beberapa tahun belakangan ini.

semakin tua bertambah usia yang jelas membuat semakin enggan berdebat. rasanya masih banyak hal yang lebih membahagiakan dalam hidup selain beradu argumen soal apa yang kita yakini. karena hal-hal seperti ini buat saya adalah bagian dari privasi, biasanya hanya pak ery dan orang-orang terdekat yang tau kepada siapa saya berpihak dan apa alasan keberpihakan saya tadi. tidak perlu merasa paling benar, lalu membentangkan jarak untuk orang-orang yang kita anggap tidak punya satu pemahaman. karena pertanyaan selanjutnya, untuk apa memaksa orang lain menjadi sama seperti kita? meminjam kalimat edza "selama ini kita berteman dari ketidaksamaan. tidak perlu seragam tidak perlu persis.. karena yang persis dan seragam kadang tidak indah dan tidak kaya". saya sih sepakat.

semakin hari pergeseran makna bahagia juga ikut terjadi. kalau dulu saya berambisi untuk mencapai hidup yang berlimpah, sekarang yang penting kami semua sehat dengan formasi lengkap berempat, rasanya sudah bahagia. kalau dulu membayangkan kami akan bahagia jika sering bepergian keluar negara untuk berlibur, sekarang rasanya lebih selo, menghabiskan akhir pekan dengan bermalas-malasan dirumah, memasak sarapan sederhana, menunda mandi, lalu doing nothing sepanjang hari sambil saling bercerita, mendengar pertanyaan-pertanyaan pagi untuk kemudian kami, saya dan pak ery akan saling lempar kewajiban menjawab jika pertanyaan pagi sudah melampaui level super ajaib. iya, buat saya sekarang yang seperti itu namanya kemewahan.

tiga puluh tahun, yang jelas saya mulai terbiasa untuk menerima dan menyadari bahwa perubahan dalam diri kita itu sifatnya pasti, percayalah, selain waktu, lingkungan yang berpengaruh, sebenarnya diri kita sendiri juga punya andil besar karena menyetujui dan menerima perubahan tersebut. sekarang tinggal dirayakan dan dinikmati saja prosesnya, bukankah sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang bisa kita nikmati?


jodoh dan komunitas

Sunday, November 13

bisa dibilang organisasi serius pertama yang saya ikuti adalah saat sekolah menengah atas dulu, tahun 2001 alih-alih menjadi siswa baik-baik dengan bergabung di organisasi karya ilmiah remaja atau pasukan bendera saya malah memilih untuk menjadi siswa pecinta alam yang hampir semua anggotanya punya cap khusus sebagai siswa nakal istimewa. saya sendiri dulu tak terhitung berapa kali harus berdiri menghadap tiang bendera sepanjang siang. penyebabnya beragam; mendukung teman berkelahi, mangkir upacara 17 agustus karena memilih mendaki gunung, sampai yang paling remeh dan paling sering; membolos kelas karena malas hahahaha. memang sering berbuat onar sekaligus kritis adalah ciri sebagian besar anggota pecinta alam sekolah saat itu. tapi kalau boleh jujur, organisasi pecinta alam inilah yang punya peran besar membentuk pola berfikir juga karakter saya sampai hari ini.
 
tahun 2004, status sebagai mahasiswa baru membuat runutan acara himpunan mahasiswa seolah wajib untuk saya ikuti. jadi sebenarnya saat itu tidak ada motivasi khusus menjadi anggota himpunan mahasiswa selain kepasrahan. mulai dari orientasi dan pengenalan kampus, sampai malam silaturahmi yang menampilkan senior-senior berbadan besar dan bersuara lantang di puncak acaranya saya ikuti dengan penuh hikmat. penderitaan tentu belum berakhir, menjabat sebagai pengurus himpunan, mengadakan berbagai kegiatan selama satu tahun, lalu menghadapi senior dengan pertanyaan-pertanyaan menyudutkan menggemaskan saat laporan pertanggung jawaban membuat kami semua sadar, dunia tidak selalu indah seperti apa yang kami impikan setiap hari hahahaha. tapi kepasrahan saya dulu berbuah manis kok, sampai saat ini setelah belasan tahun berlalu teman-teman himpunan mahasiswa masih menjadi yang terbaiks! teman-teman yang sangat bully-able dan masih menjadi tempat bercerita juga berdiskusi tentang apa saja.  

lepas dari status mahasiswa di tahun 2007, saya menjadi anggota Rotaract Club Bandung Sentral Kota Kembang. klab yang membuka mata saya, sekaligus membuat saya sadar bahwa kota Bandung adalah surganya komunitas, nyatanya kota ini memang menjadi "hidup" karena berbagai komunitasnya. mau cari komunitas apa saja disini, rasanya semua ada. mulai dari komunitas sehat, seperti yoga, renang, bersepeda dengan spesifikasi khusus seperti fixie, folding sampai downhill, komunitas kreatif seperti merajut, berkreasi dengan clay, origami, hand lettering, komunitas literasi, yang rutin mengadakan kegiatan bedah buku dan film, komunitas yang bergerak di bidang sosial-enterpreneur yang selalu berbaris paling depan dalam urusan kemanusiaan, sampai komunitas yang menggawangi isu-isu lingkungan, semua ada. kita hanya tinggal tentukan minat, lalu silahkan merapat ke barisan.

menjadi anggota rotaract membuat saya sering berinteraksi dengan banyak komunitas di bandung. yang tadinya tidak tau sama sekali, kemudian kenal dengan beberapa anggotanya. jadi memahami dan sedikit tergambar tentang apa yang menjadi tujuan mereka berkomunitas. menurut saya aktif bergabung pada komunitas yang kita minati bisa menjadi hiburan ditengah rutinitas keseharian kita. serius deh, bertemu banyak orang baru dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbeda itu menyenangkan sekali. gong dari kegemaran saya berkegitan, terjadi delapan tahun lalu saat menjabat sebagai sekretaris dan mewakili presiden klab untuk ikut rapat koordinasi hari bumi di WALHI Jabar yang saat itu sekretariatnya masih berada di Jalan Bengawan. tempat bersejarah yang menjadi lokasi bertemunya saya dengan pak ery, sang koordinator aksi. duh, bahkan saya masih ingat betul tanggal, jam dan detail rapat saat itu.

tentang pak ery, koordinator aksi sekaligus pempimpin rapat yang menyebalkan karena datang terlambat, tentang penampilan yang seadanya, tentang rambut gondrong dan suaranya yang pelan, tentang pertanyaan "ajeng dari mana?" yang dilontarkan oleh pak ery ketika kami bertemu di sela antrian wudhu. hal ini masih sering jadi topik bahasan antara saya dan pak ery. kalau sudah mulai menyebalkan, dia selalu menggoda saya tentang siapa diantara kami yang sebenarnya sangat berharap kami berjodoh. saya yang masih ingat secara detail kejadian bulan april delapan tahun silam, atau pak ery yang begitu lihat tulisan saya pada daftar hadir langsung inisiatif menyimpan nomor ponsel saya. hhh.., padahal tanpa dibahas siapa yang jatuh hati lebih dulu-pun saat ini Pagi dan Aksara sudah benar nyata ada diantara kami berdua kan? hahahahaha.  

memang bisa dibilang jalan hidup saya banyak "disponsori" oleh organisasi dan komunitas yang saya ikuti. saya tidak bisa membayangkan saya yang sekarang jika dulu tidak melalui hari-hari berat dalam diklat pecinta alam, bagaimana saya jika tidak pernah mengalami seharian duduk didepan dengan tudingan pertanyaan menyudutkan dari para alumni saat musyawarah besar himpunan mahasiswa dulu, atau seperti apa saya hari ini jika tidak pernah bertemu dengan koordinator aksi hari bumi yang dulu terlihat sangat menyebalkan itu. jadi  jangan pernah ragu bergabung dengan sebuah komunitas yang baik. karena ada banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang bisa kita dapat dan rasakan, yang tidak pernah kita pelajari sebelumnya dalam ruang kelas. pertemanan, pengalaman, life skill dan kalau beruntung seperti saya, mungkin juga jodoh ;)

himpunan mahasiswa

Thursday, October 27

saya mungkin satu dari sedikit orang yang mendukung terlaksananya kegiatan masa orientasi, ospek atau malam silaturahmi atau apapun itu istilahnya. kegiatan yang jadi momok bagi sebagian besar (maha)siswa baru sekaligus kegiatan yang banyak jadi sorotan beberapa tahun belakangan ini, sampai pada akhirnya diterapkan kebijakan untuk menghapus segala jenis kegiatan sejenisnya di berbagai jenjang pendidikan. saya tidak tau, mahasiswa baru masa kini harus bergembira atau bersedih karena akan kehilangan momen-nostalgia-paling-tak-ada-habisnya untuk diceritakan ulang. 

nostalgia itu berwujud tidur tidak enak, bangun tengah malam, gelap dengan hanya berbekal senter seadanya, berjalan di jalan setapak yang belum pernah kita lewati sebelumnya, hujan, licin, dingin, dibentak-bentak pula. lengkap sudah derita. belum lagi kalau ada rekan satu kelompok yang berpita kuning atau yang perlu diperlakukan dengan hati-hati. kami-kami yang tidak berpita dan tidak perlu diperlakukan secara khusus ini pastilah menanggung derita lebih dari yang lainnya hahahahaha. duh, rasanya saat itu ingin segera ada dirumah (lagi), atau bahkan ingin segera melompat ke satu hari berikutnya. duduk di kantin dengan jaket himpunan dan pakaian kering sambil menyantap mie instan adalah mimpi paling indah sebagian besar peserta malam itu.

tapi percaya deh, malam yang dulu paling ingin cepat kita lalui itu, akan jadi malam yang seru untuk diceritakan berkali-kali sampai belasan tahun kemudian. beberapa hari yang dulu terasa menyebalkan sekali akan jadi hari-hari paling membahagiakan ketika diceritakan lagi. tentang betapa polos dan lugunya kita saat itu, tentang betapa baik senior-senior berbadan besar dan bersuara lantang, yang tiap bertemu selalu mengajak push up minimal dua seri dengan alasan agar kami tidak merasa kedinginan *salim senior*, tentang cinta lokasi *uhuk*, tentang lampu pertromak yang susah sekali menyala, tentang betapa lelahnya panitia berlari keluar masuk hutan demi mengantar tandu untuk mengangkut peserta.

sampai sebagian besar teman himpunan saya dulu sepakat bahwa istirahat dan tidur paling nikmat adalah tidur sepulang acara malam silaturahmi. ya karena memang acara tersebut sangat menguras tenaga, terlebih sebagai panitia selain lelah secara fisik, kami juga punya tanggung jawab psikis, kepada dosen pembina, orangtua dan keselamatan adik-adik mahasiswa baru yang kami "ajak" mengikuti malam silaturahmi. selama bertahun-tahun saya setuju dengan pernyataan itu, sampai akhirnya berganti setelah saya merasakan dua kali melahirkan, maaf gais, tapi ternyata sekarang, tidur paling nikmat adalah tidur selepas proses melahirkan :p

sekarang sudah belasan tahun berlalu, tanpa malam silaturahmi, mungkin saya tidak akan bertemu banyak orang-orang baik seperti mereka. tanpa ruang himpunan yang berukuran tidak lebih dari sembilan meter persegi dulu, mungkin tidak pernah terjalin benang merah yang selalu membuat kami merasa dekat dan terhubung. selalu ada cerita seru untuk diceritakan ulang ketika bertemu. dan saya percaya, salah satu hal yang paling membuat bahagia adalah punya teman-teman yang selalu menularkan kegembiraan dan semangat. terimakasih kalian, terimakasih karena selalu mengisi amunisi tenaga dengan positive vibes dan tawa bahagia. ten years and still counting woohoo! semoga kita bisa terus berteman, saling mengingatkan untuk selalu berbagi dan terus menebar kebaikan. aamiiin.



menerima

Thursday, October 20

dulu saya tidak pernah mengira bahwa menjadi orangtua berarti belajar setiap hari. setiap hari artinya ya benar-benar setiap hari, tanpa libur satu haripun. bukan hanya belajar tentang menghadapi dan menanggapi, tapi lebih daripada itu adalah belajar menerima. belajar dengan sadar menerima bahwa anak adalah individu yang berbeda dari kita, orangtuanya. juga menerima bahwa memiliki anak artinya sepaket komplit dengan bahagia dan dramanya yang bisa terjadi kapan saja. terlihat mudah?

tunggu sampai akhirnya kita mengakui, sulit sekali untuk tidak berkomentar menghakimi, terhadap apapun pilihan yang diambil oleh anak. misalnya ketika ia memilih untuk tidak menggunakan alas kaki saat berlari di taman, ketika ia mempertahankan keinginannya untuk mengaduk sendiri adonan kue yang menyebabkan lantai dapur lengket. atau ketika ia memilih untuk menunda mandi barang beberapa menit untuk menyelesaikan istana kerajaan imajinasinya, yang dalam kacamata orang-dewasa-yang-terlalu-serius seperti kita, hanya tumpukan balok-balok kecil tak bermakna. tunggu sampai kita setuju bahwa sulit sekali untuk punya berlapis-lapis sabar ketika kita harus menghadapi rengekan tanpa henti, atau tangisan tanpa alasan mereka yang terjadi hampir setiap hari.

saya juga bukan orangtua yang selalu tenang dalam menghadapi drama-drama pagi kecil. jauh, masih jauh sekali. saya masih sering melontarkan nada tinggi ketika rasa sabar sudah sampai dilapis terakhir. masih sering membelalakkan mata untuk menunjukkan pada pagi bahwa saya tidak setuju dengan apa yang ia lakukan, bahwa saya marah dan bahwa ia harus takut akan reaksi saya tadi. sedih ya? banget. kalau sedang ada di posisi "waras" saya selalu rindu pagi, bukan hanya pagi yang manis, tapi saya bahkan rindu saat ia menangis karena tidak tau dan tidak bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan, situasi yang menurut pagi mungkin sulit sekali, situasi yang seharusnya tidak saya respon dengan emosi tinggi.  

bisa dibilang selama hampir empat tahun usia pagi, sekarang ini adalah saat-saat paling menantang untuk kami. dimana pagi kecil mulai belajar mempertahankan keinginannya, belum terbiasa bernegosiasi dengan komunikasi logis, sekaligus belum terlatih untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. bisa ditebak, nyaris semua yang tidak sesuai dengan keinginannya berakhir dengan tangisan. harus seperti apa dan bagaimana menanggapinya? rasanya clueless sekali. pernah ada satu masa dimana akhirnya saya terus melihat kebelakang, mengkoreksi apa-apa yang dulu pernah saya dan pak ery terapkan pada pagi. rasanya sudah tidak terhitung berapa kali saya menyalahkan diri sendiri. iya, sampai saat ini, saya masih jadi orangtua yang berharap anaknya bisa berperilaku menyenangkan setiap saat. saya belum bisa sepenuhnya menerima bahwa pagi suatu hari akan melewati fase drama sepanjang ini.

sekarang memang baru tiga tahun berlalu, tentu saya dan pak ery masih harus terus belajar. belajar untuk tidak memasang standar kacamata "anak manis" versi kami untuk pagi, dan tentu saja belajar menerima pagi sebagai dirinya sendiri lengkap dengan segala proses perkembangan karakter yang saat ini sedang dijalani. menerima adalah satu mata kuliah pendidikan orangtua yang tadinya kami pikir tidak sulit, ternyata malah jadi satu hal yang paling ingin kami selesaikan dengan baik dan tepat.

 



fokus

Thursday, September 29

saya ingin sekolah lagi. cita-cita yang sedikit terlambat (mungkin), mengingat umur tak lagi muda dan anak yang sudah dua. cita-cita yang sebenarnya sudah ada sejak dua tahun lalu, tapi entah kenapa selalu ragu, maju mundur, antara jadi dan tidak. bahkan pernah ada di satu masa saya sama sekali tidak mau memikirkan kemungkinan melanjutkan studi, karena kepercayaan diri yang menurun drastis. bukan tanpa alasan, pernah suatu hari saya mendengarkan sebuah video berbahasa asing dan saya sama sekali tidak mengerti apa yang dibahas dalam percakapan tersebut. saat itu saya merasa kemampuan berbahasa asing saya payah sekali. ada perasaan malu, malu karena kemampuan tidak mengimbangi cita-cita yang terlalu tinggi. juga perasaan marah yang bersamaan dengan tercoretnya satu impian saya untuk melanjutkan studi di luar indonesia.

pak ery, dan juga ibu, adalah dua orang yang tidak pernah kehabisan kata untuk memberi semangat. saat kepercayaan diri saya sudah berserakan entah kemana, mereka berdua tetap dan selalu percaya saya bisa. meskipun entah sudah berapa kali saya hanya menatap soal-soal ielts dengan tatapan kosong hahahaha drama ya? tapi memang benar, semacam, ini kenapa banyak sekali yang harus di pelajari, sampai rasanya tidak tau harus memulai darimana. saya terlalu takut mengangkat kembali mimpi yang dulu pernah saya tenggelamkan diam-diam. meskipun akhir-akhir ini, saya mulai menyadari, sebenarnya yang saya takuti bukan mimpinya, melainkan takut meninggalkan zona nyaman yang selama ini sudah saya tempati.

zona nyaman itu berwujud status abdi negara di salah satu institusi terbaik, berkantor ditempat yang bisa ditempuh hanya dengan waktu kurang dari dua puluh menit dari rumah, dipercaya untuk memimpin sebuah seksi, punya rekan kerja yang menyenangkan, juga atasan yang tak kurang-kurang baiknya. memang terlalu nyaman, nyaris tak kurang suatu apapun. lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri, kenapa zona nyaman tidak dijadikan sarana untuk mendukung apa yang saya impikan? tentu akan ada banyak sekali kemudahan datang dari lingkungan yang kondusif serta orang-orang baik sekitar saya. dan mulailah saya mengubah presepsi bukan berusaha meninggalkan zona nyaman melainkan berusaha membuat zona tersebut menjadi lebih luas dan "lebih layak huni".

pagi tadi, energi saya seolah bertambah berkali-lipat. seseorang berbaik hati membagi file untuk berlatih kemampuan bahasa inggris dengan ukuran lebih dari dua giga, terimakasih banyak sekali ya, mas hari! semoga ini merupakan salah satu sinyal agar saya tidak berhenti bermimpi. perjalanan memang masih sangat panjang, saya berdoa semoga apa yang saya usahakan saat ini dan kemudian hari membawa manfaat, dan apapun hasilnya nanti adalah yang terbaik. sekarang saatnya saya memasang kacamata kuda, mulai menentukan fokus, memanfaatkan waktu dan berusaha lebih keras dari biasanya. dear pak ery, jangan bosan mendukung istrimu yang mood swing sekali ini ya? semoga kita tidak pernah lelah untuk mewujudkan mimpi yang satu ini :)


berbagi opor

Wednesday, September 21

pertengahan september lalu, kami kembali mengadakan maparin tuangeun yang kedua. setelah bulan lalu "tayang perdana" di taman cibeunying, kali ini taman maluku menjadi tempat tujuan kedua. sama seperti bulan lalu, maparin tuangeun september ini kami laksanakan tanpa tatap muka untuk merumuskan persiapannya. segala bentuk koordinasi kami lakukan melalui aplikasi pesan berkelompok, mulai dari diskusi tempat sampai membagi tanggung jawab dan tugas-tugas kecil, sebagai petugas pembawa ember dan alat cuci, air mineral dalam galon, buah, kudapan, meja lipat, tikar, gelas, kompor portable dan yang paling utama; makanan.

karena pelaksanaan maparin tuangeun kemarin dekat dengan idul adha, salah satu hari besar umat islam yang biasanya dirayakan dengan makanan khas, maka kami memilih menu yang terbilang nekat: ketupat dan opor ayam. menu berkuah yang mengharuskan kami membawa perlengkapan makan lebih niat dari sebelumnya. kalau saat maparin tuangeun yang pertama, kami cukup membawa piring rotan dan alas daun, kemarin kami membawa piring kaca lengkap dengan sendok garpu, container, ember dan perlengkapan cucinya. maklum, piring yang kami pinjam berjumlah seadanya, membuat kami harus segera mencuci untuk sesi makan selanjutnya.

beberapa teman bertanya, kenapa kami tidak memesan saja makanan yang terbungkus untuk kemudian membagikannya. tentu akan jauh lebih mudah, praktis, cenderung menghemat waktu dan tenaga pula. tapi kalau boleh bercerita, maparin tuangeun sebenarnya lahir dari keinginan sederhana kami untuk melayani. kami ingin mengajak tunawisma dan dhuafa untuk duduk bersama, mempersilakan mereka beristirahat sambil menikmati makanan, kudapan dan buah-buahan yang kami sajikan. rasanya waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan banyak hal membahagiakan yang kami dapat dari melayani, tentu akan berbeda sekali rasanya jika kami sekedar membagikan bungkusan nasi meski dengan lauk pauk dan buah yang sama lengkapnya.

lebih jauh lagi, maparin tuangeun membuktikan kepada saya bahwa masih banyak orang yang tak segan berbagi kebaikan. banyak tanggapan positif yang saya dapat, banyak teman-teman yang ikut menyumbang waktu, berkontribusi dengan tenaga juga yang dengan ikhlas menyisihkan sebagaian dana. terimakasih banyak ya temans! harapan terbesar saya tetap sama, semoga kebaikan kecil ini bisa menular, melahirkan kebaikan lainnya, menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal serupa. percaya atau tidak, efek besar kegiatan ini sebenarnya adalah untuk kita sendiri, semacam  pengingat: there is always, aways, always something to be thankful for. betul kan?



foto hasil jepretan teman kami nrspyn

cukup

Thursday, September 15

kemarin saya melihat dan ikut berbagi tautan video singkat tentang seorang pilot, captain budi soehardi yang menjadi ayah angkat bagi ratusan anak yang tidak memiliki orangtua, atau yang dititipkan ke panti akibat kemiskinan. captain budi sudah sejak lama menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membangun panti asuhan yang saat ini dihuni lebih dari 100 anak-anak. dan saat ini, setelah pensiun dari dunia penerbangan, beliau mendedikasikan waktu sepenuhnya untuk anak-anak asuhnya.

masih hangat dalam ingatan juga ketika beberapa tahun lalu, sepasang pemulung berqurban dua ekor kambing saat hari raya idul adha setelah menabung selama tiga tahun. saya sendiri tidak bisa membayangkan betapa kuat tekat mak yati dan suaminya untuk membeli dua ekor hewan qurban dengan menyisihkan penghasilan mereka yang rata-rata perharinya hanya dua puluh lima ribu rupiah saja. sementara kita yang punya penghasilan diatas itu, masih sering merasa paling nelangsa ketika menguras tabungan untuk pengeluaran tak terduga.

ada juga cerita tentang polisi berpangkat bripka yang membangun pesantren, atau beberapa orang yang bekerja dengan ketulusan dan kerendahan hati, memperjuangkan pendidikan di garis perbatasan, pedalaman bahkan hutan belantara. tentu masih banyak cerita serupa yang membawa kehangatan dan membuat kita percaya, di negeri ini masih banyak sekali orang yang tidak segan berbagi kebaikan. orang-orang sederhana yang mungkin tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan berdampak besar dan menjadi inspirasi.

satu benang merah yang saya dapat dari captain budi, mak yati juga suaminya adalah mereka semua memiliki rasa cukup. iya, rasa cukup terhadap materi, yang dalam ajaran islam disebut dengan qana'ah, menurut saya adalah salah satu capaian tertinggi seorang manusia. ketika merasa cukup, maka seseorang berdamai dengan egonya. dimasa sekarang, saat keadaan "mengajarkan" kita memiliki segala sesuatu lebih dan lebih, lagi dan lagi, tidak banyak orang yang terlatih mencukupkan diri, melepas kemelekatan mereka terhadap materi.

tulisan ini sebagai pengingat untuk diri saya sendiri, bahwa rasa cukup dan syukur tidak akan serta merta hadir dalam diri kita. rasa cukup perlu dibiasakan dan dileburkan dalam keseharian. seperti kata gobind kita perlu melatih diri untuk melihat kedalam, mengurangi kebiasaan kita membandingkan juga bersaing. captain budi dan bripka junaidin, mengajarkan kita bahwa berbagi tidak sama dengan mengurangi. sementara cerita mak yati membuktikan kepada kita semua, rasa cukup bisa membuat seorang yang miskin sekalipun, menjadi sangat kaya :)

 

** gambar diambil dari sini

kebaikan kecil

Friday, August 26

kira-kira bulan juli lalu, seorang teman di beranda facebook membagikan tautan tentang program rutin yang diadakan sekolah relawan, nama kegiatannya free food car, tautan dan informasi selengkapnya bisa di baca disini. jujur saja, ketika pertama kali melihat dan membaca tentang kegiatan ini, yang pertama ada dipikiran saya cuma satu kata; keren! dan langsung terpikir untuk melempar ide ini ke beberapa teman.

kebetulan keluarga besar himpunan tempat saya bernaung saat masih berstatus mahasiswa dulu masih rutin mengumpulkan kas/donasi yang digunakan untuk berkegiatan sosial. hanya saja karena kami sudah bukan pemilik waktu bebas seperti sepuluh tahun lalu, kami tidak pernah berhasil mengadakan kegiatan rutin bulanan. belajar dari pengalaman tersebut akhirnya kami membuat syarat untuk kegiatan sosial; yang pertama tentu harus bermanfaat, syarat selanjutnya adalah yang bisa terselenggara dengan persiapan mudah, dalam artian semua dapat dikoordinasikan tanpa perlu bertatap muka. karena memang harus sadar diri, masing-masing dari kami bukan lagi anak kuliahan yang bisa dengan mudah bolos kelas algoritma atau pemograman dasar untuk sekedar nongkrong di kantin dan merencakan sebuah event seminar.

setelah melalui beberapa hari penuh diskusi akhirnya maparin tuangeun lahir sebagai nama kegiatan yang insyaallah akan rutin kami laksanakan. maparin tuangeun diambil dari bahasa sunda yang artinya memberi makan (secara cuma-cuma). sesuai kesepakatan awal, kami hanya berkoordinasi melalui aplikasi pesan grup untuk saling berbagi tugas saat hari H. sampai singkat cerita, maparin tuangeun yang pertama berhasil terlaksana. sabtu, 13 agustus 2016 lalu kami membuka "lapak" makan gratis untuk dhuafa dan fakir miskin di taman cibeunying. sekitar 50 lebih porsi nasi beserta lauk pauk dan buah tersedia. sasaran kami siapa saja, petugas kebersihan taman, tukang siomay, pedagang asongan, juru parkir, penjual balon, pun pengumpul sampah.

rasanya bahagia sekali ketika seorang bapak penjual jasa perbaikan sofa keliling bercerita bahwa bertemu kami adalah rejeki tak terduga, sedari tadi menahan lapar karena belum ada satupun yang memakai jasanya hari itu. atau ketika melihat dua pengumpul sampah yang duduk melepas lelah sambil mengupas jeruk dan saling bertukar cerita. atau ketika seorang bapak yang mendorong gerobak tuanya, menghampiri kami dengan malu-malu memastikan kami tidak akan memungut biaya untuk seporsi nasi yang akan disantapnya. juga seorang bapak paruh baya yang "memarkir" balon dagangannya, tersenyum pada kami sambil berkali-kali mengucap terimakasih.

fa-biayyi alaa'i rabbi kuma tukadzdzi ban. maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? ada rasa syukur yang berkali-kali kami ucapkan dalam hati, juga ada kebahagian besar yang kami bawa pulang sebagai buah tangan hari itu. sungguh kami percaya, kebaikan sekecil apapun akan menular dan melahirkan kebaikan lainnya. doakan kami bisa rutin menebar kebaikan ini setiap bulannya, agar bisa mendulang bahagia dari senyum ramah dibalik kerut-kerut wajah tua dan lelah yang kami temui di jalan :)



foto hasil jepretan teman kami nrspyn

slametan "orchestra" ala smipa

Thursday, August 18

setiap awal tahun ajaran baru, semipalar rutin mengadakan acara untuk keluarga besarnya. nama kegiatannya sederhana; slametan awal tahun smipa. ini pengalaman pertama pagi dan saya ikut acara slametan dan karena pak ery sedang ada di tengah belantara hutan kalimantan, jadi saya menghadiri acara slametan berdua saja. tahun ini slametan diadakan di mulberry hills cibodas yang kami tempuh dengan menggunakan sepeda motor. tidak usah ditanya bagaimana persiapannya, yang jelas seru karena sebelumnya saya harus mempersiapkan upacara di lapangan sabuga. lalu pulang kerumah menjemput pagi dan berganti kostum. tak lupa memastikan pagi nyaman "terikat" dengan tas pengaman di belakang sementara saya mengendarai sepeda motor melewati jalan memotong demi bisa mempersingkat waktu tempuh bandung-cibodas.

persiapan sebelum hari H sudah tentu ada. komunikasi kelompok dilakukan melalui pesan grup, koordinator kelompok membagi tugas-tugas kecil yang perlu disiapkan pada saat acara. urusan makan siang menjadi tanggung jawab tiap kelompok. kesepakatan akan bancakan/potlak/botram diputuskan bersama. makanan dan buah-buahan yang disajikan juga harus indonesia banget, jadi ada yang bertugas membawa urap, telur balado gepuk bahkan sayur lodeh lengkap sama panci-pancinya hahahaha total banget. gak lupa soal pemisahan sampah organik dan anorganik setelah makan siang juga jadi isu utama, daaaaan sampah yang dihasilkan harus dibawa kembali lagi ke bandung.. tapi kalau yang ini saya beneran lupa gak memastikan sampai akhir.

"syarat" untuk berpartisipasi dalam kegiatan ini memang terhitung rumit untuk yang terbiasa terima beres dan duduk manis di kegiatan sekolah anak. ada banyak ketentuan lain seperti setiap orangtua diminta memperhatikan kemasan makanan yang akan dibawa, mengurangi plastik, menghindari sterofoam, anak-anak juga diwajibkan membawa wadah pakai ulang. soal transportasi tidak luput dari pengawasan, setiap anggota kelompok disarankan untuk saling mengatur kendaraan (menumpang) sehingga mengurangi jejak karbon sekaligus menghemat pemakaian bahan bakar. perihal kendaraan ini juga ada kompetisinya, sampai akhir acara kemarin, kelompok 3 ditetapkan sebagai pemenang kategori "semua bangku kendaraan terisi penuh dengan personil kelompoknya" ada juga kelompok pemenang kategori "semua anggota kelompok datang tepat waktu" dan setiap anak-anak yang datang tepat waktu, diijinkan untuk memilih warna souvenir tas belanja sesuai keinginan mereka. sebuah penghargaan sederhana namun bermakna.

satu yang berbeda dari acara slametan awal tahun semipalar, tiap kelompok dibagi dengan sangat "orchestra", jadi dalam satu kelompok, ada anak dan orangtua mulai dari jenjang kelompok belajar (setara PG) sampai jenjang kelompok petualang belajar (setara SMA). selama acara, ada banyak games dan tantangan yang harus dikerjakan bersama-sama dengan seluruh anggota tim. seperti meronce pinus dan bahan alam lain sepanjang dua meter, membuat menara balok yang cara mengambilnya harus dengan estafet juga menghias lambang garuda. tidak ada istilah ini pekerjaan orang dewasa atau itu pekerjaan anak-anak, semua jadi satu. benar-benar seperti gambaran keluarga dalam jumlah yang besar, ada adik, kakak, paman, bibi, ibu, bapak semua bekerja bersama dalam sebuah tim.

terimakasih keluarga besar semipalar! acara kemarin seru sekali. semoga kita masih bisa bertemu di slametan awal tahun smipa berikutnya :)





berproses bersama #semipalar

Friday, August 5

minggu lalu, pagi melalui tiga hari trial di rumah belajar semipalar. gimana? kalau pagi sih standar anak seusianya. ada excited-nya pun ada episode berurai air mata karena merasa insecure di tempat baru. bahkan di hari terakhir pagi sempat menyatakan tidak mau kembali ke semipalar, saya sendiri tidak kaget mengingat pagi tipikal anak dengan mood yang fluktuatif sekali persis ibunya tapi setelah melakukan negosiasi damai, toh akhirnya dia melewati hari terakhirnya dengan cukup baik. malah pulang kerumah dengan membawa banyak cerita. setelah proses trial ini selesai, kami tinggal menunggu hasil pengamatan dari kakak pendampingnya.  

tentang trial dari sudut pandang saya;

saya hanya bisa mendampingi pagi selama dua hari masa trial tapi satu yang saya perhatikan, di kelas kelompok bermain, pergantian aktivitas berlangsung cukup cepat. sisi positifnya, anak-anak tidak sempat merasa bosan. tapi buat anak bertipe mesin diesel yang lima belas menit pertamanya dilalui dengan malu-malu seperti pagi, ritme ini mungkin agak membingungkan. semacam; baru juga asik, sudah berganti kegiatan. tapi mungkin ini hanya soal terbiasa atau tidak saja. oh iya, hampir semua kegiatan di semipalar dilakukan tanpa alas kaki. ini salah satu yang jadi filosofi mereka, bahwa bersentuhan langsung dengan alam merupakan suatu bentuk komunikasi batin antara manusia dengan "ibu"nya (mother earth).

selebihnya bermain diluar ruangan, mendongeng, bercerita, melukis dengan cat air, bernyanyi dan makan bersama menurut saya dilakukan dengan seru karena kakak-kakak pendamping yang ekspresif sekali. anak-anak kelompok bermain diajak terlibat dalam sekecil apapun kegiatan yang mereka lakuan seperti menyusun tempat bekal pada rak yang sudah disediakan, menyiapkan perangkat bermain, membereskan sampai menaruhnya lagi ketempat semula. yang sempat saya lihat saat sesi melukis dengan cat air, fungsi kakak pendamping/fasilitator memang sesuai namanya, benar hanya mendampingi dan memfasilitasi setiap kegiatan sementara anak-anak memiliki kebebasan penuh atas bagaimana dan pilihan warna apa yang akan dituangkan kedalam kertas.

soal penampilan para fasilitator di semipalar jadi salah satu concern saya. asik. mereka semua jauh dari kesan pengajar di sekolah kita dulu. berpakaian santai dan apa adanya, rata-rata berkostum kaos dan celana jeans, bahkan kak andy sebagai "kepala sekolah" berapa kali saya dapati mengenakan celana pendek. tak lupa mereka semua kesana kemari tanpa alas kaki. oh iya, sama seperti sekolah pada umumnya, semipalar selalu memulai dan mengakhiri kegiatan dengan berdoa dan karena semipalar adalah sekolah heterogen, maka semua doa dilafalkan dalam bahasa indonesia.

tentang hasil trial pagi;

kemarin, kami bertemu dengan kak nisa dan kak mahesti, kakak pendamping kelompok bermain, kak MJ sebagai koordinator jenjang usia dini dan kak andy untuk membahas hasil trial pagi minggu lalu. buat saya pertemuan ini menjadi kemewahan tersendiri, ditengah banyak sekolah yang sekedar menjual jasa pendidikan, semipalar memilih meluangkan waktu untuk duduk bersama orang tua. dengan intim berbagi cerita tentang karakter dan keseharian anak, tentang seperti apa gambaran sekolah dan pendidikan dalam kacamata saya dan pak ery, juga tentang harapan apa yang ingin kami wujudkan bersama kelak.

hasil trial pagi diceritakan pada selembar kertas yang berisi kotak-kotak grafik dengan jumlah bintang diatasnya. semakin banyak jumlah bintang, maka pada poin tersebutlah potensi anak paling terlihat. hasilnya nyaris sama seperti dugaan saya. motorik halus, keterlibatan berkarya dan respon terhadap lawan bicara pagi memang baik sekali, kami sudah melihatnya sejak usia pagi belum genap dua tahun. pagi tipe anak yang betah duduk diam sambil mengerjakan sesuatu, dia bisa bermain secara mandiri dan mudah memahami instruksi. sebaliknya motorik kasar dan kemampuan untuk mengungkapkan perasaannya masih jadi pekerjaan rumah untuk saya dan pak ery. ketidakmampuan pagi untuk mengungkapkan perasaannya itulah yang kami duga sebagai penyebab utama fluktuasi emosinya. 

tentang pendidikan menurut kami;

sebenarnya kalau ditanya seperti apa gambaran sekolah dan pendidikan menurut saya dan pak ery, jawabannya bisa jadi panjang sekali. seimbang adalah satu "syarat" mutlak dari kami. sejak dulu saya dan pak ery percaya ada yang jauh lebih penting untuk dipelajari setiap individu ketimbang sekedar menghafal barisan huruf dan angka. pemahaman spiritual, mengenali potensi diri sendiri, mendalami nilai-nilai kemanusiaan, dan menyelaraskan kehidupan dengan alam, harus berjalan beriringan dengan keinginan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. dan (masih) menurut kami semipalar adalah tempat yang bisa menerjemahkan itu semua kedalam satu proses pendidikan.

kami berkesempatan mengikuti kegiatan bersama para orangtua murid yang disebut taki taki. kegiatan ini secara garis besar memaparkan visi (tujuan) dan orientasi pendidikan. sepengetahuan saya setiap tahunnya semipalar mengangkat tema berbeda yang dijadikan semacam benang merah pembelajaran dan tahun ini kata kuncinya adalah transisi (transition movement). dalam sesi pleno taki taki, kami disuguhi beberapa video singkat yang membahas tentang kehidupan berkelanjutan, tentang pola konsumerisme masyarakat modern juga ketergantungan manusia terhadap industri. tentu saja setelahnya ada sesi diskusi antar orangtua. saling berbagi cerita tentang apa hal nyata yang sudah dilakukan dan komitmen apa yang akan dibuat untuk mewujudkan sustainable living itu tadi.

kegiatan bersama orangtua seperti ini menjadi salah satu dari sekian banyak alasan kenapa saya dan pak ery memilih semipalar. kami memang mencari sekolah yang banyak "merepotkan" dan melibatkan orangtua dalam setiap kegiatannya. karena saya dan pak ery percaya, pendidikan anak sepenuhnya adalah tanggung jawab kami. jadi baik pihak sekolah, anak (pagi), pun kami sebagai orangtua harus belajar dan berproses bersama. mungkin prinsip pendidikan ditangan orangtua ini juga yang membuat waktu belajar di semipalar lebih singkat dari sekolah swasta kebanyakan. saat tren full day school semakin semarak, semipalar malah menjadwal waktu belajar hanya dua sampai lima jam untuk jenjang kelompok bermain sampai sekolah dasar. 

tentang berproses bersama;

setelah mengikuti banyak kegiatan dan melalui hari-hari penuh diskusi panjang, akhirnya pagi resmi terdaftar sebagai salah satu murid kelompok bermain di semipalar. pagi, begitu juga kami akan berproses bersama (di) semipalar. saya dan pak ery sepakat untuk menata kembali prioritas keluarga kecil kami. mulai serius memikirkan pola sustainable living sederhana dalam kehidupan sehari-hari untuk dikenalkan pada pagi. membatasi konsumerisme, dimulai dari mengurangi jumlah makanan ringan berkemasan, dan mungkin dalam waktu dekat akan mengajak pagi berkebun (lagi).


 
salah satu video pendek yang diputar saat sesi taki taki memberi sedikit gambaran tentang apa itu transition movement.

pagi belajar

Thursday, July 21

awal pekan ini, linimasa saya ramai dengan tautan gambar yang berisi ajakan mengantar anak pada hari pertama sekolah. saya juga ikut merasakan keriangan dan kekhawatiran yang jadi satu diantara beberapa wajah teman sekantor. bayi-bayi kecil yang dulu hanya bisa kami gendong saat family gathering, sekarang sudah beranjak besar dan tak bisa diam. beberapa diantaranya bahkan sudah terdaftar sebagai siswa taman kanak-kanak. how time flies. bulan agustus ini usia pagi juga sudah menginjak 3.5 tahun, sudah banyak sekali stok kalimat tanya-nya. sudah mulai bisa mempertahankan keinginan dan mulai susah diajak negosiasi.

terselang waktu beberapa hari, saya dan pak ery juga mengambil keputusan yang sama. kami memutuskan untuk mulai mengenalkan pagi dengan tempat belajar selain rumah. belajar dalam lingkup definisi yang luas. bukan berhitung, bukan menghafal huruf dan angka. belajar dari bermain, dari apa yang ia (dan teman-temannya) lakukan setiap hari di rumah belajar semipalar. semipalar memang bukan sekolah yang populer. tapi semipalar sudah menjadi bahasan ringan antara saya dan pak ery bahkan jauh sebelum usia pagi genap dua tahun. lalu kenapa semipalar? karena menurut kami semipalar adalah tempat belajar yang paling mengakomodasi bayangan kami berdua tentang sistem pendidikan. sederhananya bahwa pada setiap anak, ada potensi dan keunikan yang harus ditemukan, dalam setiap individu anak juga ada kreatifitas serta imajinasi yang perlu terus dikembangkan.

rasa ragu dan khawatir tentu saja sempat ada, muncul juga perasaan takut. takut terlalu memaksakan mengingat usia pagi yang menurut beberapa teori parenting masih terlalu dini. tapi, ada satu peristiwa yang akhirnya jadi "gong" kami mengambil keputusan besar ini. suatu sore ketika saya pulang bekerja, pagi unjuk kebolehan menghafal lagu. bukan lagu biasa, melainkan lagu mars partai perindo. sedih sekaligus takjub. sedih karena selama saya bekerja, saya tidak bisa mengontrol apa yang dilihat oleh pagi.. takjub karena kemampuan menyerapnya ternyata luar biasa cepat.

sejak saat itu mengajak pagi belajar diluar rumah menjadi niat yang bulat. diskusi antara saya dan pak ery mulai mengerucut, memilah kebaikan yang bisa kami dapat sekaligus risiko yang mungkin terjadi jika keputusan ini kami ambil. setelah sebelumnya sudah menyepakati juga perihal waktu mengantar dan menjemput, barulah kami berburu jadwal gelar griya semipalar. sayangnya kami melewati gelar griya yang pertama pada akhir februari lalu. tapi istilah jodoh tak lari kemana memang ajaib. dipertengahan bulan april saya mendapat informasi bahwa gelar griya akan diadakan lagi sesaat sebelum tahun ajaran baru dimulai.

singkat cerita, kami berkunjung ke semipalar rabu jelang siang kemarin. karena malam sebelumnya saya sudah melakukan briefing dan mengatakan bahwa besok kami akan mengunjungi tempat bermain, begitu sampai semipalar yang pertama ditanya pagi adalah "kok gak ada perosotannya? ayun-ayunnya mana bu?" errr.. dasar anak play land hahahaha. tapi memang jangan bayangkan semipalar sekolah dengan warna gedung terang dan mainan yang tersebar disetiap sudutnya. sama sekali jauh dari itu. semipalar dalam kacamata saya adalah sekolah dengan gedung minim warna. tidak banyak pernak pernik eye cathing yang menjadi khas taman bermain. mungkin ini salah satu dari sekian banyak hal yang menjadikan semipalar berbeda dengan sekolah lain; mengajak anak-anak berimajinasi dan berkreasi, dengan bermain menggunakan media apa saja yang mereka temukan dalam keseharian.

kami tidak akan memaksa pun belum bisa memastikan apakah pagi akan klik dengan semipalar. yang jelas ketika malam tadi saya mengajaknya untuk kembali mengunjungi semipalar, dia berteriak gembira "aku mau!" ok! minggu depan kita trial kelas ya nak :)





mengurangi

Monday, July 11

dua pekan ini, beranda laman facebook saya dipenuhi tautan tentang kehidupan minimalis yang menjadi tren masyarakat jepang. tentang Fumio Sasaki yang konon hanya memiliki tiga kemeja, empat pasang celana, empat pasang kaos kaki dan sejumlah kecil barang-barang lain. ekstrim? iya. sangat ekstrim menurut saya. saya sendiri yakin, nyaris tidak mungkin untuk saya bisa menyamai level Fumio Sasaki. lah, mau dikemanakan puluhan buku, kain-kain yang menurut saya masuk kedalam kategori investasi masa depan itu? tapi jujur saja semakin membaca banyak tautan beritanya, saya semakin gelisah dan diam-diam setuju dengan alasan mengapa kita harus mengurangi jumlah kepemilikan barang.

beberapa waktu sebelum gaya hidup minimalis masyarakat jepang ini jadi perbincangan hangat di sosial media, beberapa teman yang masuk kedalam golongan orang-orang yang akan kekurangan oksigen jika tidak membuat kesibukan (red. sebut saja mereka shelly, guli, tehanil dan rinda) sudah berdiskusi ringan soal kepemilikan barang dalam rumah. intinya, kami merasa memiliki banyak barang dan merasa barang-barang tersebut harus "dikeluarkan" dari rumah tanpa mengurangi nilai manfaatnya. sebenarnya bisa saja kami memakai solusi umum; kumpulkan, sumbangkan. tapi apa iya dengan begitu barang-barang tadi akan kembali pada fungsinya? atau malah hanya memindahkan tumpukan dari rumah kita, ke rumah orang lain? isu tersebut yang akhirnya membuat salah satu dari kami mencetus ide, membuat satu gerakan untuk mengurangi jumlah barang di rumah dengan konsep menawarkan atau saling bertukar barang yang di butuhkan.

malam ini tadi, saya mulai gerakan mengurangi dengan membongkar keranjang mainan pagi. dengan dibantu pagi, kami memisahkan mainan. menjelaskan dengan kalimat sederhana alasan kenapa harus mengurangi jumlah mainan yang dia punya, kenapa dia harus memilih, dan kenapa mainan yang tidak dipilih perlu dikeluarkan dari keranjang mainannya. diusia pagi yang sekarang, saya yakin betul, masih sangat jauh untuk dia mengerti tentang kebutuhan dan keinginan secara harfiah. terbukti dengan beberapa kali dia menengok ke arah mainan yang tadi tidak dipilihnya sambil berkata "ibu, ini aku (masih) mau.." saya mengangguk, mempersilakan pagi mengambilnya kembali. meskipun tidak signifikan mengurangi, setidaknya malam dia sudah belajar dua hal, berbagi dan merelakan.

sekarang pekerjaan rumah terberat justru bersumber dari saya. menahan diri dari perasaan butuh yang ternyata semu *tsah*. memang mengurangi bukan berarti tidak boleh membeli dan mempunyai keinginan itu manusiawi sekali kok. kalau memang perlu dan ada manfaatnya kenapa tidak? itu yang sering diutarakan pak ery ketika saya mengajukan "proposal" pembelian barang baru, tapi syaratnya tidak boleh membeli barang dengan terburu-buru dan harus disertai 8 sampai 10 alasan kenapa harus membeli barang tersebut. jika masuk akal, proposal disetujui. biasanya pengajuan ini berlaku untuk pembelian barang yang over budget atau tidak ada dalam rencana pengeluaran bulanan rumah tangga kami. kenyataannya saya sering tidak bisa menyebutkan bahkan sekedar 5 alasan saja dan akhirnya berujung pada tabungan yang terselamatkan hahahahahaha. ngomong-ngomong tips ampuh mempertahankan saldo tabungan dari pengeluaran impulsif ini boleh di coba loh. that works for me :)



keluarga pagi

Friday, July 1

saya dan pak ery menyematkan kata pagi pada rangkaian nama Gauri Binaring Pagi, sebenarnya bukan tanpa alasan. pagi adalah satu dari sedikit kesamaan saya dan pak ery. iya, kami sama-sama menyukai suasana pagi. pagi hari menurut kami adalah waktu yang sakral. sebagai ibu yang bekerja, pagi hari buat saya adalah waktu paling sibuk sekaligus paling menantang; semacam bagaimana supaya semua urusan rumah tangga hari ini selesai dan saya tetap tidak terlambat datang ke kantor.

utuk keluarga kecil kami yang tidak punya asisten rumah tangga menginap, memastikan semuanya selesai sebelum pukul tujuh pagi setiap hari tentu punya keseruannya sendiri. terlebih saya hampir tidak pernah meninggalkan anak-anak sebelum memastikan semua keperluan mereka "aman"; sarapan, makan siang, baju ganti. dan, baru bisa berangkat bekerja dengan tenang setelah mereka selesai mandi. bahkan dulu emak sempat melayangkan kekhawatiran karena menurut emak, saya terlalu tega, memandikan pagi kecil pukul enam setiap harinya, padahal saat itu usianya belum genap tiga bulan. tapi toh saya bergeming, sampai saat ini.
 
karena terbiasa dengan ritme yang seperti itu, akhirnya keseharian pagi kecilpun ikut menyesuaikan. sejak dulu sesuai namanya, pagi selalu bangun sebelum matahari terlalu tinggi, sekarang aksara mengikuti jejak kakaknya. keriuhan rumah kami selalu dimulai bahkan sebelum lampu-lampu jalan dimatikan. dan mungkin karena pagi dan aksara selalu memulai hari dengan cepat, mereka jadi punya jadwal tidur yang super cepat juga. ini juga yang membuat saya tidak pernah punya pengalaman menemani anak bermain sampai dini hari. alhamdulillah, selama tiga tahun belakangan ini waktu rata-rata beristirahat tetap ada di pukul delapan malam, kecuali-malam-ini-demi-bisa-tidur-tenang-tanpa-tagihan-menulis.

banyak yang mengira kami menyukai pagi hari semata karena tuntutan bekerja. tapi kenyataannya kami tetap melakukan ritual pagi yang sama saat akhir pekan tiba. jika jadeal akhir pekan hanya berkeliling kota misalnya, biasanya kami sudah mulai meninggalkan rumah sebelum pukul tujuh. mencari sarapan kesukaan, berjalan kaki, mengunjungi beberapa tempat yang sudah direncanakan sebelumnya, kemudian kembali ke rumah sebelum waktu makan siang untuk selanjutnya menghabiskan sisa hari dengan beristirahat dirumah. mungkin karena kami percaya, tidak ada yang lebih serasi ketimbang suasana bandung dan pagi hari (saat akhir pekan tiba) jadi rasanya sayang sekali jika harus melewati pagi tanpa cerita.


rumah

Tuesday, June 21

memasuki tahun ke lima usia pernikahan, isu rumah kembali muncul disetiap obrolan saya dan pak ery. sejujurnya, proses membangun rumah sudah jadi impian kami sejak dulu. tapi mau bagaimana lagi, keinginan kami yang satu ini selalu kalah dengan kenyataan deretan angka disaldo tabungan hahahaha. kebetulan saya dan pak ery punya prinsip sama yang kurang lebih begini; kalau ada uang, beli. kalau belum cukup, ya nanti. terlihat sangat selo kan? tapi percayalah, prinsip ini sangat ampuh untuk meringankan beban hidup dimasa sekarang. ditengah banyak orang yang berlomba memiliki ini dan itu secepatnya, kami malah saling berbalas emoticon happy cry ketika menyadari uang yang kami kumpulkan masih jauh dari kata cukup untuk membangun sebuah rumah.

biasanya untuk menghibur hati yang gemas-gemas bahagia itu, kami akan saling berbagi tautan gambar rumah yang paling mewakili karakter saya dan juga pak ery. rumah kecil dengan banyak jendela, rumah dengan halaman luas dan pohon-pohon rindang. tak lupa, kami juga saling bercerita tentang ruang keluarga yang nyaman, kamar kerja beraroma kopi, teras rumah yang hangat, semak liar yang kami biarkan tumbuh dihalaman juga tentang ayam-ayam yang akan kami pelihara. dari sekedar obrolan dalam layar ponsel, biasanya akan berlanjut seru sampai meja saat makan malam tiba. kami terus berandai-andai tentang apapun yang bisa menambah semangat dan keyakinan bahwa suatu saat nanti mimpi ini akan kami wujudkan dalam hari-hari yang nyata.

beberapa orang yang mungkin prihatin melihat kami terlalu selo menyarankan "pinjam saja.. keburu harga material naik" dan lain sebagainya. tapi selain karena prinsip, saya dan pak ery juga keras kepala, buat kami rumah punya nilai filosofi yang tinggi sekali. kami ingin membangunnya perlahan, dari hasil pendapatan yang kami sisihkan. tidak peduli pendapat pakar ekonomi sekalipun yang menyatakan bahwa semakin hari harga semakin naik dan tabungan kami tidak akan bisa mengejar kenaikan harga itu. lagi pula kami percaya, selalu ada banyak pelajaran yang bisa didapat dari bersabar.. intropeksi diri salah satunya. kalau kami belum "diizinkan" membangun rumah, mungkin karena ikhtiar yang belum cukup, ibadah yang belum sempurna dan rasa syukur yang harus diperbanyak lagi. iya kan? :)

gambar dari pinterest

hamil, menyusui dan puasa ramadan

Tuesday, June 7

ramadan, bulan penuh berkah yang menyimpan "pro dan kontra" untuk ibu-ibu dengan kondisi khusus seperti saya; hamil dan (atau) menyusui. perbedaan pendapat antar ulama terkait hukum wajib berpuasa atau boleh tidak berpuasa untuk ibu hamil dan menyusui selalu bersliweran di beranda laman facebook saya ketika jelang ramadan. saya sendiri sudah dua kali merasakan hamil dan menyusui di bulan ramadan. ketika hamil pagi dulu, usia kehamilan saya sekitar 4 bulan. saya menyelesaikan 20 hari puasa. ramadan tahun berikutnya, saya berganti status, sebagai ibu menyusui. usia pagi saat itu belum genap 6 bulan, sehingga saya masih memberikan asi ekslusif. saya puasa? iya, hanya 12 hari dengan kondisi fisik saat puasa yang menurut saya lebih berat dibanding saat hamil dulu.

"puasa aja, sekalian melatih bayinya.. biar nanti pas besar gak susah diajak puasa.." atau "kok gak puasa? saya dulu bisa kok asal yakin" dan masih banyak tanggapan bernada serupa yang sering saya dapat dari seseorang ketika mendengar saya tidak berpuasa.

dulu ketika memutuskan untuk berpuasa dalam kondisi hamil dan menyusui sayapun punya keyakinan penuh kalau saya bisa berpuasa. nyatanya tubuh kita punya alarm-nya sendiri. saya ingat ada hari dimana saya terpaksa membatalkan puasa dua jam jelang adzan magrib. saya sakit kepala, salah satu penyebabnya mungkin kurang asupan cairan, karena saat itu saya tetap memerah asi. setiap bangun dari duduk saya harus berpegangan selama beberapa detik karena padangan gelap. saat itu pula menyusui pagi selepas ashar menjadi hal yang memberatkan. pagi kecil yang bahkan bicarapun belum bisa, sering saya tunda waktu menyusuinya supaya saya juga bisa menunda rasa haus dan memperkecil kemungkinan serangan sakit kepala sampai jelang berbuka. kalau diingat lagi sedih sekali rasanya.

tahun lalu, saya kembali merasakan ramadan dalam kondisi hamil, bedanya saat itu usia kehamilan aksara masih sangat muda dan alhamdulillah saya juga tidak merasakan gejala morning sick. jadi saya santai saja menjalankan ibadah puasa. hanya saja di akhir ramadan dokter menyarankan untuk tidak berpuasa karena saya akan melakukan perjalanan jauh, stamina ibu, nutrisi dan kondisi janin kecil harus dijaga betul. dan tahun ini adalah ramadan kedua yang akan saya lewati dengan status sedang memberi asi ekslusif. sebelum cuti berakhir tempo hari, saya membaca (lagi) banyak pendapat ulama tentang ibu menyusui dan puasa, salah satunya artikel ini. maka berbeda dengan saat menyusui pagi dulu, tahun ini sejak awal ramadan saya memutuskan untuk tidak berpuasa.

keinginan untuk berpuasa tentu saja ada. memangnya siapa yang bahagia makan siang sendiri sementara yang lain menjalankan ibadah ramadannya? terlebih pertanyaan "kok gak puasa?" beserta saran-sarannya cukup mengusik dan membuat sedih. apa iya saya yang kurang yakin dan kurang berusaha? atau mungkin saya yang terlalu berlebihan menanggapi kondisi fisik yang lemah ketika berpuasa? tapi kalau melihat aksara dengan wajah bundar dan mata sipitnya yang lucu, saya seperti punya keyakinan baru. ya, saya memang tidak berpuasa karena ada bayi kecil yang menunggu ibunya pulang bekerja dengan oleh-oleh beberapa botol asi perah setiap hari :)

jadi, bersyukurlah ibu hamil/menyusui yang tetap bisa santai dan sehat saat menjalani puasa. percayalah, itu anugerah istimewa. tapi jangan lupa untuk berempati pada ibu yang memilih untuk tidak menjalankan puasa. tolong jangan menghakimi, karena keputusan seorang ibu hamil/menyusui untuk tidak berpuasa pastilah sudah melalui proses pertimbangan yang matang, pertimbangan yang diambil semata-mata untuk kebaikan ibu dan bayinya. lagipula kita toh tidak pernah ada di posisi mereka, tidak pernah merasakan fisik yang sama dengan mereka, jadi kita tidak pernah tau seberat apa perjuangan yang mereka rasakan saat hamil atau menyusui. iya kan?


kenapa bekerja?

Friday, May 27

gambar dari sini

akhirnya minggu ini saya kembali resmi menyandang status sebagai ibu bekerja. setelah masa cuti tiga bulan yang bulan pertamanya dilewati dengan banyak drama tentu saja hahahaha. senin kemarin, saya kembali merasakan rutinitas istimewa; bangun sebelum adzan subuh berkumandang, memasak, memerah asi, memandikan pagi dan aksara, menyiapkan semua yang mereka perlukan selama saya bekerja. menyelesaikan semuanya lima belas menit sebelum jam keberangkatan agar masih punya waktu untuk menyusui aksara dan berbincang dengan pagi yang sudah mulai banyak mengerti. memintanya untuk makan makanan yang saya masak, tidak banyak nonton televisi dan membereskan mainannya sendiri jika sudah selesai bermain.

saya kembali merasakan jalanan kota bandung di awal hari, berkendara menuju bangunan besar berlambang gajah yang berdiri gagah disebelah jembatan layang icon kota bandung. bangunan yang selalu ditunjuk pagi dengan gembira ketika melewatinya "itu kantor ibu! besaaaar ada gajahnya diatas!". mulai senin kemarin saya mengulang kebiasaan yang nyaris selalu sama; memarkir kendaraan, menyapa petugas taman dan satpam penjaga, menunggu lift, membubuhkan sidik jari di mesin absen yang tidak pernah lelah mengucap terimakasih, disambut hangat oleh mereka yang sudah saya kenal sejak lama, duduk di meja kerja, menyalakan perangkat kerja, lalu bergantian menatap layar komputer dan jendela, dan seketika saya merasa hidup saya lengkap. memang agak gengsi mengakuinya, tapi mungkin benar saya rindu bekerja.

sejujurnya, ada banyak yang hilang ketika saya tidak bekerja. kemampuan untuk disiplin dan produktif salah satunya. saya sendiri heran, ketika saya bekerja.. saya hampir bisa memastikan semua "kewajiban" selesai sebelum jam tujuh pagi. yang mana hal tersebut sulit sekali dilakukan ketika angka di kalender berwarna merah, atau ketika saya cuti panjang seperti kemarin. saya mungkin satu dari sedikit sekali ibu yang merasa cocok menjadi pegawai kantoran. menjalani profesi yang akhir-akhir ini tingkat kepopulerannya semakin menurun, seiring banyaknya anjuran dan ajaran untuk menjadi enterpreneur atau freelancer. iya, memangnya siapa yang tidak tergoda dengan waktu kerja yang bisa ditentukan sendiri? tapi apakah semua orang bisa pas dengan pola seperti itu? sebagian mungkin malah menemukan feel "gue banget" ketika berada dalam rutinitas seven to five itu tadi, dan kemungkinan besar itu saya hahahaha.

meski kadang ada juga masa-masa chaos seperti ketika beban pekerjaan menekan lebih dari biasanya, salah satu personil keluarga sakit atau malah saya yang staminanya turun naik karena terlalu sering kehujanan, sementara kewajiban rumah tetap harus berjalan seperti biasa. kalau sudah begitu, biasanya dukungan dari pak ery adalah obat paling mujarab. apalagi kalau sudah jadi ibu, standar kebahagiaan memang jadi jauh lebih sederhana; dikasih kesempatan menikmati waktu tidur satu atau dua jam lebih panjang dari biasanya, sekedar didengarkan ketika mulai menangis drama atau dibawakan dua-eskrim-cair-karena-belinya-di-minimarket-yang-jauh-dari-rumah seperti malam ini saja sudah bisa bikin semangat kembali penuh. dan memang yang exhaustion dan out of balance itu sesekali perlu terjadi supaya kita tau batasan diri kan? tau kapan harus berhenti, atau mengurangi..  itu saja. selebihnya jika ada yang bertanya kenapa saya masih betah melakukan rutinitas bekerja yang menurut sebagian orang membosankan? maka jawabannya akan saya copy paste dari quote diatas :) 


ditinggalkan

Friday, May 20

saya sering mendengar beberapa orang menyarankan agar kita cepat punya anak, mumpung masih muda katanya, dan (biasanya) setelah punya satu anak, disarankan untuk punya lagi (dan lagi) supaya ketika tua nanti ada banyak yang membantu mengurus kita. atau, jangan sampai tidak punya anak perempuan, karena biasanya kepada anak perempuanlah kita "pulang" saat senja usia nanti, dan masih banyak lagi saran lainnya yang menurut saya sebenarnya sama sekali bukan hak kita sebagai manusia untuk menentukannya.

saya lahir di keluarga kecil sebagai anak bungsu dengan dua kakak. satu laki-laki yang sekarang menetap di pekanbaru, satu lagi perempuan yang tinggal di maluku utara, saya sendiri di bandung sementara bapak dan ibu berdomisili di kota rantauan pertamanya, bandar lampung. berbeda dengan pak ery yang terlahir dari keluarga yang super besar, pak ery adalah bungsu dari 13 bersaudara. silahkan bayangkan sebesar apa keluarganya jika pagi dan aksara berturut-turut adalah cucu ke 34 dan 35. meskipun sebagian besar keluarga pak ery masih menetap di provinsi yang sama. tapi ada kesamaan antara bapak-ibu (saya) dan apa-mamah (pak ery) yaitu berapapun jumlah anaknya, ketika semua anak-anak sudah membangun keluarganya sendiri, maka orangtua akan kembali ke mula; dirumah berdua saja.

kadang saya bertanya pada pak ery, kira-kira seperti apa kami saat tua nanti? mungkin kami akan menghabiskan masa tua dengan membaca buku dan traveling dengan tetap menggunakan backpack, atau mungkin kami akan rajin jalan pagi bersama; mengunjungi pagi, aksara dan mungkin anak-anak mereka. kami akan sering mengunjungi tempat-tempat yang mungkin jadi legenda kota bandung, seperti garasi merdesa misalnya. tapi dari kesemuanya itu yang paling mungkin adalah saya akan tetap banyak bicara dan pak ery tetap setia dengan diamnya hahahaha. ah, apapun yang jelas kami akan lebih banyak menghabiskan waktu berdua. seperti bapak dan ibu, apa dan mamah, atau kakek dan nenek.

bercerita tentang kakek dan nenek, beliau berdua adalah satu-satunya keluarga dekat (dari pihak bapak) yang berdomisili di bandung. kakek adalah paman bapak. sudah sejak belasan tahun lalu, kakek dan nenek tinggal berdua karena putranya (yang kebetulan hanya satu) berkeluarga dan menetap di jakarta. sepanjang ingatan saya, mengunjungi kakek dan nenek adalah hiburan tersendiri, beliau berdua sering berdebat tentang hal-hal kecil dihadapan kami. tentang kolak bikinan kakek yang menurut nenek terlalu manis, atau tentang nenek yang menurut kakek selalu mendadak sembuh dari sakit lutut jika diajak berbelanja. dimata saya, kakek dan nenek selalu tampil mesra dengan caranya sendiri. setiap habis berkunjung, saya membayangkan kakek dan nenek adalah sosok bapak dan ibu lima tahun lagi, atau mungkin pak ery dan saya puluhan tahun mendatang.

sedihnya rabu siang kemarin, kami mendapat kabar duka. nenek berpulang. innalilahi wainnailahirojiun,  berita kepergian nenek tentu membuat saya dan pak ery kaget, terakhir kami mengunjungi kakek dan nenek saat aksara berusia dua bulan. bahkan awal bulan lalu bapak dan ibu masih bersilaturahmi. malah menurut cerita ibu saat itu nenek terlihat sehat dan ceria seperti biasa meskipun sesekali mengeluhkan lututnya yang semakin sering sakit. meski dihari kepulangan nenek, kakek terlihat sangat besar hati tapi saya lantas menjadi haru, membayangkan setelah hari kemarin, kakek akan melewati hari-harinya seorang diri. membayangkan kakek yang mungkin tidak punya lagi teman bercerita dan berbagi tawa. membayangkan sepinya rumah dinas sederhana yang sudah puluhan tahun mereka tempati berdua, tanpa nenek.

untuk kembali menjadi berdua saja saat senja usia, kita memang sudah seharusnya siap. tapi untuk ditinggalkan? saya sendiri tidak bisa membayangkan apa rasanya ditinggalkan seseorang yang sudah hidup bersama selama berpuluh tahun? apa rasanya sendiri setelah sebelumnya terbiasa berbagi tentang apa saja dengan seseorang yang kita cintai? apa rasanya menangis dalam doa yang kita kirimkan untuk seseorang yang telah berpulang, yang pada hatinya kita menemukan rumah dan kehangatan? entahlah.. sejatinya manusia adalah mahluk lemah yang mungkin tidak akan pernah siap (ditinggalkan) berpulang.


diet sampah rumah tangga

Friday, May 6

grup #1minggu1cerita yang saya ikuti sejak dua bulan kemarin punya kesepakatan baru; menulis dengan tema yang sama diminggu pertama setiap bulannya. buat saya jadinya menantang sekaligus menggemaskan. gemas karena dengan tema yang ditentukan ini bikin saya berlama-lama didepan komputer dengan alasan merangkai cerita tapi malah selalu berujung dengan dua atau tiga perlengkapan bayi yang dibeli dari halaman belanja online. internet memang racun buat ibu baru seperti saya hahahaha.

oke, jadi karena tema minggu ini adalah lingkungan.. maka mari bercerita santai tentang lingkungan dari kacamata saya sebagai ibu dengan dua anak. sampai sekarang buat saya menjaga lingkungan itu gampang-gampang susah. saya yakin, sebagian besar dari kita yang sudah dewasa sadar kok kalau menjaga lingkungan tidak cukup sampai tindakan buang sampah pada tempatnya. melainkan jauh lebih luas dari itu. ada prinsip mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang atau yang lebih populer dengan sebutan reduce, reuse, recycle. kita tau artinya, paham maksudnya tapi butuh kebulatan niat dan tekad yang kuat untuk benar-benar bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

kalau saya sendiri kesadaran menjaga lingkungan dilakukan lebih karena alasan logis. seperti ketika pagi bayi dulu, saya lebih memilih menggunakan popok kain ketimbang popok sekali pakai. repot? tentu saja. tapi saya membayangkan tentu tidak nyaman memakai popok sekali pakai seharian selama berbulan bulan. gerah. meskipun jika sudah ada dititik lelah sesekali saya berlibur dari rutinitas mencuci popok kain dan memanjakan diri sendiri dengan menggunakan popok sekali pakai seharian hahahaha. alasan kedua, tentu karena pengeluaran untuk popok sekali pakai akan jauh-jauh-jauh lebih besar ketimbang jika menggunakan popok kain. bayangkan jika dalam satu hari membutuhkan minimal lima popok sekali pakai seharga masing-masing dua ribu rupiah maka silahkan hitung berapa yang harus kita keluarkan dalam satu tahun. 

seiring bertambahnya usia pagi, saya mulai menyadari bahwa limbah  rumah tangga terbesar bukan hanya berasal dari popok sekali pakai, melainkan juga dari mainan. sesungguhnya panggilan untuk membahagiakan anak salah satunya memang datang dalam bentuk memberi mainan. orangtua mana sih yang tidak bahagia melihat anak gembira karena membuka bungkus plastik mainannya (-yang nyampah banget itu). tapi coba deh dipikir lagi, sebenarnya yang diperlukan anak-anak itu jenis mainannya, atau orangtua yang duduk dan ikut main bersamanya? lagipula percayalah, tidak ada mainan yang benar-benar awet untuk anak balita yang masih ada difase selalu ingin tau. anak usia satu tahun melihat semua mainannya sebagai teether and pacifier, pokoknya apapun mainan yang diberikan akan digigit dan dicicipi. lalu ketika dua tahun kemampuannya meningkat, menjadi ahli dalam melempar dan melenyapkan mainan. setelah tiga tahun  rasa ingin taunya disalurkan untuk merusak membongkar dan memisahkan bagian-bagian mainannya. begitu seterusnya sampai akhirnya mainan-mainan itu berlabuh ditempat sampah.

pemikiran itu jugalah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk lebih sering mengajak pagi membuat mainannya sendiri. saya mencari banyak ide bermain dan membuat mainan dengan memanfaatkan barang bekas yang sudah tidak terpakai seperti kardus, map, kertas bekas dan toilet roll paper. ini salah satu cara saya berdiet sampah rumah tangga dan saking seringnya saya mengumpulkan barang-barang tidak terpakai seperti itu, petugas kebersihan toilet kantor sampai sering berinisiatif menyetorkan toilet roll paper setiap jumat sore untuk saya bawa kerumah :p oh iya, dokumentasi mainan yang saya buat bersama pagi ada dalam satu album dan hashtag berjudul #pagimain dilaman facebook dan instagram. tapi meskipun sering membuatkan mainan untuk pagi, saya juga masih membeli mainan pabrikan kok, tentunya dengan frekuensi yang bisa dibilang jarang. terakhir saya membelikan ambulance bertenaga baterai yang bisa berkeliling rumah untuk pagi. mungkin karena lebih sering punya mainan yang terbuat dari kardus bekas, pagi terlihat sangat gembira ketika menerima dan membuka bungkusnya :)

jujur saja, saya sendiri masih jauh sekali dari perilaku nol sampah seperti yang sudah khatam dilakukan teteh kece yang ini. suatu hari sih cita-citanya pengen jauh lebih punya niat dan tekat dalam usaha diet persampahan rumah tangga. kalau sekarang ini sih ke supermarket saja beberapa kali masih nambah plastik karena tas belanjanya gak cukup *salim teh anil* :p tapi setidaknya berusaha dan (masih) gagal adalah jauh lebih baik ketimbang diam dan tidak peduli, kan?


jodoh

Friday, April 29

bulan april buat saya adalah bulan bertemu jodoh. tahun ini artinya sudah april ke delapan sejak pertama kali saya bertemu pak ery dalam sebuah rapat koordinasi aksi hari bumi di sekretariat wahana lingkungan hidup. saya masih inget kesal yang saat itu saya rasakan karena menunggu koordinator aksi yang datang terlambat, pun ketika berbicara memimpin pertemuan suaranya pelan sekali. jauh dari kesan garang yang selama ini disandang aktivis lingkungan. iya, itu adalah pak ery.

delapan tahun lalu, jangankan membayangkan akan berjodoh, bertemu saja kami nyaris tidak pernah. apalagi pak ery sama sekali tidak termasuk kategori pria idaman saya yang dulu sama seperti standar menantu idaman banyak mertua di indonesia; rapi, wangi, berkemeja, ramah dan terdaftar sebagai salah satu karyawan perusahaan ternama. memangnya siapa yang tertarik dengan pria gondrong irit bicara yang terkesan angkuh dan bekerja sebagai jurnalis lepas, ditengah hutan terpencil pula?

singkat cerita kami melewati hari, minggu, bulan dan tahun dengan hubungan yang memang tidak ada apa-apa dan bukan siapa-siapa. lokasi tinggal kamipun berjauhan saya di meriahnya kota bandung, pak ery di sepinya perbatasan kalimantan. maka jika kisah diangkat dalam sebuat layar FTV nyaris mustahil ceritanya berakhir dengan happy ending :p

tapi tentu beda ceritanya kalau tangan Tuhan yang bermain. tahun berlalu ketika suatu pagi sepulang dari kalimantan, pak ery mengajak saya berkeliling kota dengan berjalan kaki. kami menelusuri aspal basah jejak hujan malam sebelumnya dan jalan-jalan sempit yang ada dibelakang gedung-gedung pencakar langit. jangan bayangkan kami akan ngobrol asik sepanjang jalan. sama sekali tidak. tapi kalau boleh norak, disitulah untuk pertama kalinya saya merasakan he's the right one. semacam ini yang saya cari sejak dulu. seseorang yang tidak  banyak bicara tapi bisa membuat saya merasa cukup.

cerita dibalik layarnya tentu saja tidak semulus ini. drama? ada dooong. banyak malah. terlebih bukan tidak pernah saya menjalani hubungan yang nyaris serius dengan orang lain sebelumnya *batuk cantik* yah, kalau anak muda bilang namanya galau, nyaris tiap hari ada perdebatan hati antara "saya yakin ini orangnya" dengan "tapi yang itu gimana" hahahahahaha syedep. jelang melaksankan resepsi pernikahan juga tak kalah drama, karena jodoh tidak hanya berhenti didua kata; saya dan dia. tapi juga ada keluarga, budaya dan hal lainnya yang melekat dan mengikat.

pernikahan yang masih seumur kacang hijau berubah jadi kecambah ini juga bukan tidak pernah diwarnai persoalan. percayalah, kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan semulus foto mesra di sosial media :p jangan bayangkan ketika sudah bertemu jodoh maka segalanya berubah jadi indah tanpa cela. karakter saya dan pak ery yang jauh berbeda membuat gesekan kerap terjadi. tapi ya sebatas drama-drama kecil yang 98%nya banyak diperankan oleh saya hahahahaha.

sekali lagi pepatah namanya jodoh gak bakal kemana membuktikan keabsahannya. mau kita terpisah jarak waktu kayak apa juga, kalau garis takdirnya sudah sama C, D atau E(ry) maka jadilah. akhirnya kami menikah empat tahun setelah pertemuan pertama yang jauh dari kesan romantis itu. pria yang tadinya bukan tipe saya banget itu, lama-kelamaan jadi pria yang paling tau saya banget, yang kepadanya saya bisa tiba-tiba jadi ratu drama, menangis dan bercerita tentang apa saja.

sampai hari ini, saya masih sering tersenyum membayangkan bagaimana saya dan pak ery bisa menikah. betapa kata jodoh itu ajaib sekali ya. seandainya rapat hari bumi tidak pernah ada, seandainya jalan kaki berkeliling kota tidak terlaksana, mungkin saya tidak pernah sebahagia hari ini :)

mencatat ide

Thursday, April 21

pasti pernah dong, mengalami satu masa dimana tiba-tiba kita jadi semangat banget melakukan banyak hal. tiba-tiba kepikiran banyak sekali ide (yang kita anggap) cemerlang, ide-ide yang bermunculan dalam waktu yang nyaris bersamaan, dengan jumlah yang sering tak hingga. tentu saja sepaket dengan perasaan menggebu-gebu juga keyakinan semesta akan mendukung dan dunia berpihak pada kita. tsah, cakep.

yang bikin gak cakep adalah, (selalu) ketika si ide itu terlalu deras mengalir kita mulai halu. tidak bisa membedakan mana yang sebenarnya paling masuk akal untuk segera di realisasikan dan yang sebenarnya bisa ditunda bahkan sampai satu dua tahun kedepan. tidak bisa mengurutkan prioritas, semua utama, semua ingin segera. lalu berujung dengan tragis, gagal fokus. si ide melebar ambyar gak karuan. sounds familiar? iya. dulu saya juga sering jadi "korban" dari ide yang terlalu banyak itu. kalimat too much idea will kill you buat saya nyata adanya. si ide yang terlalu banyak seringnya malah bikin capek mikir, apalagi status sebagai pekerja kantoran membuat saya sering mencari pembenaran untuk akhirnya tidak merealisasikan ide-ide tersebut. kalau orang bilang "zona nyaman" bikin otak kanan banyak nganggur, mau tidak mau saya setuju.

minggu-minggu ini adalah masa dimana saya kebanjiran ide. tiba-tiba saya rindu menjahit, tiba-tiba saya merasa #HaloPagi harus mulai produksi ini ini ini dan ini lagi. saya mencuri waktu untuk merealisasikan ide-ide itu disela keriaan mendampingi satu balita dan bayi mungil berusia dua bulan yang tentu saja sudah menguras 75% energi saya setiap hari. dan saya sadar sepenuhnya, bahwa dengan keadaan saya yang sekarang ide-ide ini tidak bisa dibiarkan menghuni kepala saja. bisa-bisa tertumpuk dengan urusan biaya sekolah pagi dan rencana masak apa seminggu kedepan :p
maka saya memilih melakukan manajemen ide dengan cara "tradisional". karena secanggih apapun teknologi, saya tetap jatuh hati dengan kertas dan pena. sampai sekarang saya masih setia dengan jurnal catatan gado-gado yang seringnya saya gunakan untuk mencatat hasil rapat, padahal didalamnya kertas berisi tulisan dan gambar yang sama sekali tidak relevan dengan pekerjaan kantor hahahaha *salim pak direktur*. karena memang menurut saya menyimpan catatan di media digital itu kurang greget (lah trus kenapa ngeblog? hahahaha) maksudnya untuk kasus-kasus mencatat pikiran dadakan, lebih seru dituangkan diatas kertas, bisa kelihatan spontanitas dan jejaknya, karena di kertas tidak ada tombol delete dan backspace.

selain itu mencatat ide juga bisa membuat kita lebih selo dan waras, karena ketika dibaca ulang, kita akan otomatis merunut ulang mana yang memungkinkan atau masuk akal dan mana yang sebaiknya ditunda atau bahkan dicoret dari daftar. pengalaman saya sih, kalau membaca ulang catatan ide, rencana dan target jadinya malah banyak yang dicoret karena disesuaikan dengan keadaan saat ini. seringnya jadi makin mengerucut dan makin fokus. malah jauh lebih baik kan? jadi, sudahkah anda mencatat ide yang muncul tiba-tiba hari ini?



siapa yang lebih lelah?

Friday, April 8

masih ingat tentang artikel perbedaan uang nafkah dan uang belanja untuk istri yang tempo hari sangat heits di situs jejaring facebook? seolah mendapat pembenaran, tautan artikel tersebut-pun dibagikan oleh banyak perempuan berstatus istri dengan mengikutsertakan atau men-tag sosial media milik pasangannya sambil disertai kode-kode manja atau kalimat perintah "nih, baca ya ayah.." meskipun tujuan sebenarnya tentu tidak berhenti sampai membaca, melainkan agar pasangannya segera mewujudkan apa yang katanya sudah menjadi sunnah agama tersebut. sebenarnya selain bahasan artikelnya yang tidak bisa membuat saya mengangguk setuju sampai akhirnya membahas dalam satu posting blog ini, saya juga cukup heran dengan fenomena tagging pasangan tadi, memangnya obrolan dapur seperti itu tidak bisa dibahas saat pillow talk ya?

nah, kali ini yang tidak kalah viral adalah soal pengakuan bahwa menjadi ibu itu super sekaligus luar biasa melelahkan. saya setuju. yang saya tidak setuju kemudian jadi banyak ibu yang merasa paling lelah karena sudah mengurus pekerjaan rumah tangga 1x24 jam sehari, 7 hari seminggu tanpa libur. buat saya kurang fair sih. karena sadar atau tidak, meskipun terlihat cool, pasangan kita juga mungkin merasakan lelah yang sama, bahkan kadang lebih. karena ada tanggung jawab keluarga yang ia pikul, secara dunia, terlebih secara agama. yang membuat terlihat jauh berbeda adalah kemampuan mereka (laki-laki) menyembunyikan ekspresi lelahnya. laki-laki cenderung tidak butuh pengakuan dalam kasus ini. beda banget sama kita (perempuan) yang ekspresif dan moodnya fluktuatif sekali. capek dikit, nangis. ada yang gak sesuai dikit baper *ngetik sambil ngaca*

memang perempuan diciptakan dengan kemampuan multitasking yang akan semakin mumpuni ketika ia sudah berstatus ibu. kemampuan yang sayangnya bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan. kelebihannya tentu saja jadi banyak pekerjaan yang bisa diselesaikan lebih cepat dalam satu waktu. dear para suami, tolong akui kehebatan kami yang satu ini hahahahaha. tapi sekaligus menjadi kekurangan karena sejujurnya multitasking itu melelahkan sekali. belum selesai urusan ini sudah disambi pekerjaan yang itu. sambil membereskan mainan, sambil mengecek persediaan makanan di kulkas. raga masih dikantor, pikiran sudah mendarat sampai pasar baru di rumah. sambung menyambung, terus menerus. kalau pengalaman pribadi, inilah yang akhirnya membuat perempuan lebih mudah lelah baik secara fisik maupun psikis.

tapi tetap bukan berarti bisa jadi pembenaran untuk setiap perempuan merasa paling berhak atas gelar lelah loh ya.. dalam kehidupan berumahtangga misalnya, menurut saya yang membedakan hanya jenis tanggung jawabnya saja. suami atau laki-laki tanggungjawabnya lebih future alias masa depan, meskipun misalnya berjodoh dengan istri yang bekerja, tetap saja tanggung jawab nafkah dan masa depan keluarga ada di pundak suami. sedangkan istri lebih mengurus keperluan yang lebih present, alias saat ini. mulai motong wortel sambil ngantuk dari sebelum adzan subuh, sampai tidur sambil duduk setiap malam demi menyusui. memastikan semua anggota keluarganya sehat, cukup makan, cukup istirahat dan bahagia. dalam lingkup keluarga, tanggung jawab perempuan biasanya memang lebih domestik. nah dalam bagian tanggung jawab itu pasti ada porsi lelahnya masing-masing. selebihnya susah-senang ditanggung bersama, kan sudah teken kontrak sehidup semati sama yang diatas.

jadi menurut saya baik istri ataupun suami, sama lelahnya, sama hebatnya. karena suami istri itu satu tim, dipertemukan dalam ikatan keluarga untuk saling menguatkan dan memberi dukungan. hanya saja kalau istri lebih cerewet banyak bercerita, ya dimaklum saja. itu memang sudah kodratnya. namanya juga perempuan :D

jadi ibu(-ibu)

Monday, March 21

hari ini aksara berusia satu bulan, artinya tepat satu bulan juga saya kembali mengulang rutinitas tiga tahun lalu; bangun ditengah malam, menyusui, mengganti popok nyaris setiap satu jam sekali. berdasarkan pengalaman pagi dulu, artinya saya harus menghapus kamus "tidur enak" dari kehidupan setidaknya selama dua tahun kedepan.

sudah satu bulan, saya punya status baru sebagai ibu(-ibu) dengan dua anak. biasanya beberapa teman yang kebetulan baru mempunyai satu anak datang menjenguk dengan pertanyaan "gimana rasanya?" sedangkan yang sudah lebih dulu berstatus seperti saya sialnya hanya tersenyum menggoda penuh makna sambil melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab; "seru kan, jeng?" hahahahaha.

jadi ibu untuk yang kedua kalinya tidak lantas membuat saya khatam segala hal berbau parenting. justru, jadi ibu dengan dua anak membuat saya belajar lebih banyak lagi dan lagi. kalau saya berpendapat, punya anak pertama itu sangat melelahkan secara fisik maka punya anak untuk yang kedua kalinya sangat membutuhkan kesiapan emosional.

biasanya, ketika punya anak pertama.. pasangan muda hanya euphoria pada kehadiran bayi mungilnya, tapi tidak menyiapkan mental dan stamina untuk proses setelahnya yang jauh lebih panjang. iya, itu saya dan pak ery dulu. kami benar lupa (atau tidak tau) bahwa sebenarnya selain waktu kelahiran yang membahagiakan ada waktu yang tidak kalah penting untuk disiapkan kedua orangtua, yaitu satu bulan pertama setelah kelahiran. kami tidak menyangka bahwa satu bulan pertama setelah kelahiran adalah waktu yang sangat menguji ketahanan fisik. belum pulih dari proses melahirkan yang melelahkan, sudah harus kekurangan jam tidur secara drastis, kebingungan membaca ritme bayi, ditambah harus tetap menerima banyak tamu yang datang berkunjung. badan rasanya remuk redam saat itu.

kelahiran anak kedua, saya jauh lebih siap. saya tau bahwa satu bulan pertama kehadiran aksara akan sangat menguras energi. tapi, tetap ada yang luput, bahwa selain menguras energi, ada kesabaran yang juga sering ikut tergerus. kesabaran yang erat sekali kaitannya dengan si anak pertama. sebenarnya, pagi tidak cemburu atas kehadiran adiknya. bahkan sejauh ini dia cukup kooperatif, dia selalu gembira membantu jika saya memintanya mengambilkan handuk, kapas, atau baju adik. tapi, pagi tetaplah anak kecil berusia tiga tahun dengan segala fase yang sedang dijalaninya.. kadang drama, kadang membantah, kadang tantrum, dan kadang ibu belum siap menerima itu.

diam-diam saya berharap supaya pagi tidak perlu menangis untuk hal-hal sepele, berharap supaya interaksi saya dan dia less-drama, lebih mudah jika diminta mandi, membereskan mainan atau mematikan televisi. saya seperti kehabisan stok untuk merayu dan membuat kesepakatan damai seperti yang biasa kami lakukan. tiba-tiba sumbu sabar jadi lebih pendek dari biasanya.. harus diakui, sejak fisik yang terkuras dibulan pertama aksara lahir, kadang saya tidak cukup ikhlas memenuhi permintaan pagi yang sebenarnya sah saja, seperti meminta dibacakan buku ketiga sebelum tidur, atau menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang ajaib. pokoknya saya jadi lebih sering menuntut pagi untuk jadi lebih dewasa dari usianya.

tentu saja perasaan sedih dan bersalah kerap datang ketika pagi tidur. kalau sudah ada disituasi itu saya jadi drama, berurai air mata. saya percaya hampir semua ibu yang menaikkan intonasi suara ketika berbicara dengan anak kecilnya sadar bahwa mereka tidak seharusnya melakukan itu. sayangnya tidak semua ibu tercipta dengan level kesabaran setinggi bu elly risman atau teh kiki barkiah kan? dan dalam kehidupan nyata, ilmu parenting tidak semudah teori yang tautannya selalu kita bagikan lewat sosial media, yang tentu sudah khatam kita baca berkali-kali. saya sendiri masih jauh dari kategori ibu ideal, masi perlu banyaaaaakk belajar meluaskan hati dan meninggikan tingkat kesabaran diri.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS