yang kedua

Thursday, July 30

halo!
banyak sekali cerita yang belum sempat ditulis di blog selama bulan juli ini. ada cerita mudik bertiga dengan kendaraan pribadi yang baru pertama kali kami jalani, seru dan tentu saja melelahkan hahahaha. nanti deh, dibahas dalam satu posting.. kalau saya tidak malas hahahaha. nah, sekarang mari membahas soal berita utama, yaitu tentang garis dua pada alat pendeteksi kehamilan. alhamdulillah apa yang sudah direncanakan sejak bulan februari lalu dijawab diwaktu terbaik oleh Allah. saya, pak ery dan pagi dapat kabar gembira di akhir ramadhan kemarin. insyaallah kami bertiga akan punya status baru, pagi akan jadi teteh, pak ery akan jadi bapak dua anak dan saya jadi ibu hamil lagi. Alhamdulillah.

rasanya gimana? senang sekali! eh agak bingung juga sih, macam.. ini serius saya hamil lagi? nanti kontrolnya ke dokter siapa? lahirannya dimana? asli nge-blank kayak jaman pertama kali hamil. jadi siapa yang bilang hamil kedua perencanaannya dan mentalnya akan lebih matang? siapa? hahahahahaha. tapi secara keseluruhan bener kok senang sekali. dikasih kepercayaan lagi, dikasih kesempatan untuk kedua kalinya tanpa harus menunggu lama. alhamdulillah. lalu apa yang membuat kami memutuskan untuk menambah anggota keluarga? sebenarnya tidak ada alasan khusus selain, saya dan pak ery sama-sama senang punya saudara kandung. terlebih pak ery memang lahir dan tumbuh di keluarga yang super besar. buat kami saudara kandung adalah teman berbagi banyak hal. jadi punya anak lebih dari satu memang sudah jadi keinginan sejak awal menikah.

kalau soal kerepotan dan pembiayaan rumah tangga yang akan berlipat alhamdulillah saya dan pak ery tidak punya kekhawatiran berlebih soal itu. repot pastilah, anak satu saja sudah terasa kok, tapi kalau saya merasanya kita sekarang ini kan sudah hidup di jaman praktis, ada banyak pilihan untuk mengurangi kerepotan seorang ibu. kalau dulu ibu-ibu kita dengan keterbatasan biaya dan teknologi saja bisa "lulus" dengan beberapa anak, seharusnya kita bisa lebih baik kan? soal biaya yang akan jadi berlipat juga kami percaya rejeki sudah diatur, meski kami berdua bukan pasangan dengan pengahasilan berlebih, tapi kata ibu asal selalu bersyukur dan tidak pernah berusaha insyaallah rejeki bisa datang dari mana saja. saya sadar kok, mungkin ini masih teori sekali, karena toh sampai sekarang saya baru akan jadi ibu dua anak. tapi insyaallah, saya percaya semua proses ini akan bisa kami lewati dengan baik. amiiin.

oh iya, katanya setiap kehamilan akan punya ciri khasnya sendiri. tapi sejauh ini, saya merasa hamil yang dulu dan sekarang hampir sama. alhamdulillah sama-sama tidak rewel, saya cenderung bisa memakan apa saja, tapi seingat saya, waktu hamil pagi saya menyukai semua makanan manis, hamil yang sekarang saya jatuh cinta sekali sama rasa pedas. yang paling terasa bedanya hanya tingkat kemalasan yang naik drastis, ya ampuuun.. sungguh saya jadi pemalas sekali. saya yang biasanya mudah sekali bangun pagi sekarang sama sekali tidak. saya membiarkan pakaian kotor menumpuk dibelakang pintu, membiarkan baju-baju pada lemari pagi tidak tersusun rapi, saya tidak tertarik membersihkan dapur apalagi menjahit. tapi memang rencananya setelah picnic wedding project yang sedang saya kerjakan ini selesai, saya akan berhenti dulu dari aktifitas jahit menjahit komersil. mau menikmati masa kehamilan kedua tanpa banyak deadline.

jadi mohon doanya supaya kehamilan yang sekarang sehat dan lancar sampai nanti hari H melahirkan ya :)

ibu dan bapak

Thursday, July 2


tadi malam, mbak sari mengirimkan foto ini via messenger. foto yang baru diambil beberapa minggu lalu saat bapak dan ibu berkunjung ke pekanbaru. foto ini tiba-tiba membuat saya ingat bahwa sudah hampir sebelas tahun yang lalu sejak saya memutuskan "meninggalkan" rumah untuk menempuh pendidikan tinggi. sebelas tahun dari mulai saya jadi mahasiswa diploma, sarjana, aktif di komunitas ini dan itu, jadi volunteer, lalu cari kerja di berbagai kota, sampai akhirnya ditakdirkan jadi abdi negara, menikah, dikaruniai anak dan menetap di bandung.

saya menyadari tujuh belas tahun tinggal bersama ibu dan bapak adalah waktu yang sangat kurang, belum lagi kalau harus dipotong masa kecil yang belum mengerti apa-apa dan masa remaja yang ngeyelnya luar biasa. pasti ada banyak peristiwa bahagia yang dilalui ibu dan bapak berdua saja selama sebelas tahun belakangan. juga pasti ada banyak kesedihan dan kebimbangan yang disembunyikan ibu dan bapak dari kami anak-anaknya.

ibu terimakasih atas ilmu berkreasinya, atas kesabaran yang luar biasa karena baru ketika dewasa kami sadar, bahwa ternyata dulu kami bandel sekali. terimakasih atas senyum yang selalu ada meski lelah mengantar kami kesana kemari, seorang diri karena bapak berdinas, mengendarai katana yang ketika hujan, airnya akan masuk sampai kedalam. ibu, terimakasih atas maaf yang selalu tersedia meski si bungsu berkali-kali mendaki puncak gunung tanpa pamit demi ego masa sma. terimakasih karena sudah berlapangdada, mengijinkan anakmu ini "puas nakal" diwaktu remaja dulu.

bapak terimakasih atas isi kulkas yang selalu penuh setiap bapak pulang ke bandung, juga capcay, mie goreng, tahu kecap, sambel terasi dan semua masakan bapak yang rasanya super juara. terimakasih atas ajakan bermain dikantor ketika kami masih kecil, kami jadi bisa melihat dari dekat seperti apa wujud lokomotif dan gerbong-gerbong jika sedang diperbaiki, sehingga bisa jadi bekal cerita jumawa untuk teman-teman di sekolah dasar dulu. bapak, terimakasih karena tidak penah bosan mengajarkan kami tentang kesederhanaan dan bahwa bekerja bukan melulu soal uang, tapi soal integritas, kemampuan terbaik dan tanggung jawab.

ibu, bapak terimakasih karena tidak pernah menuntut kami jadi A, B atau C, jadi seperti X, Y atau Z. terimakasih karena mempersilahkan kami menjadi diri sendiri. terimakasih karena selalu memahami kenakalan sekaligus mimpi-mimpi kami, terimakasih karena tidak marah atas nilai-nilai akademis kami yang tidak pernah memuaskan, bahkan tertawa ketika melihat nilai merah untuk pelajaran biologi si anak bungsu karena tidak bisa menggambar anatomi belalang saat ujian. ibu, bapak terimakasih ya, matur nuwun, ngaturaken sungkem. semoga ibu dan bapak selalu dalam lindungan Allah. Amiiin.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS