kelas jauh, kampung cileeur

Tuesday, October 6

masih euphoria dengan keriaan rombongan sirkus akhir pekan kemarin. jadi, ceritanya rombongan sirkus adalah kami orang-orang dengan latar belakang yang sangat random. beberapa diantara kami berprofesi sebagai pengajar, ada juga penggerak lingkungan yang pertemuan semuanya bermula dari satu komunitas bernnama aleut. saya sendiri mengenal beberapa diantara mereka melalui pak ery. saat menikah dulu, opan dan budhi, adalah dua orang yang berjasa menjadi pemain musik dipernikahan kami. singkat cerita, rombongan sirkus yang jarang banget bertemu ini, dipertemukan kembali dalam acara pernikahan salah satu personilnya. yang mana kami semua tiba-tiba menjelma jadi panitia dekorasi profesyenel hahahaha, eh tapi acaranya sakssses loh! dan karena dianggap sukses (oleh kami sendiri), sebulan kemudian.. kami berkumpul kembali di acara pernikahan yang lain sebagai panitia dengan status yang tetap sama.

disela-sela mempersiapkan acara pernikahan teman baik kami itulah, muncul ide berkunjung ke cileeur, salah satu kampung di kawasan gunung patuha, jawa barat. beberapa diantara kami termasuk pak ery, sudah pernah berkunjung kesana. teh yuni, salah satu anggota rombongan sirkus adalah guru lepas yang banyak berbagi tenaga dan pikirannya untuk anak-anak di desa kecil tujuan kami itu. kebetulan momennya tepat berdekatan dengan hari raya qurban, jadi kami menyimpan sebagian daging kurban untuk dibagikan disana. setelah melalui proses rapat seadanya karena nyaris selalu dilakukan via ponsel pintar. akhirnya kami tiba pada hari H.

berjumlah 8 orang dewasa dan 1 anak kecil yang sedang ada dalam fase selalu ingin tau, kami berangkat hari sabtu menggunakan satu kendaraan yang alhamdulillah cukup, meskipun harus berdesakan dengan barang bawaan dan puluhan kantong daging hahahaha. bersyukur karena sepanjang perjalanan pagi cukup kooperatif, yaa.. kalau rewel dikit pasti ada, namanya anak kecil diajak bepergian dengan jarak tempuh jauh, waktu tempuh lama, medan tempuh cukup ekstrim dan menggunakan kendaraan yang minim kenyamanan pula. tapi, pada dasarnya pagi senang bepergian dan senang jika banyak orang dewasa yang turut pergi bersamanya. terlebih karena orang-orang disekitarnya gembira, maka pagipun mudah terbawa suasana. sepanjang jalan dia selalu bernyanyi dan hanya benar-benar berhenti ketika tidur.

perjalanan ditempuh nyaris selama 5 jam untuk sampai ketempat tujuan. haduh jangan tanya gimana rasanya ibu hamil berguncang berjam-jam diatas jalan rusak berbatu menggunakan landrover, rontok deh rasanya pinggang ini hahahaha.. tapi, senang sekali karena lelahnya perjalanan langsung terbayar lunas dengan apa yang tersaji didepan mata. kabut turun dan perkebunan teh hijau yang luas berbukit-bukit. desa persinggahan pertama kami bernama sintok, kami kesana untuk berkunjung kerumah pak ustad, beristirahat sholat dan... mmm, (numpang) makan siang. hahahahaha. disini pertama kalinya saya mengenal tumis pucuk waluh yang dipetik langsung dari kebun, dan langsung menjadikannya sebagai salah satu makanan surga dunia. ya ampun, enak banget *nangis haru*
 


diatas ini adalah foto kampung sintok dari kejauhan sesaat setelah kami meninggalkannya untuk menuju cileeur. berada di perkebunan ini kadang membuat saya tidak percaya bahwa ini adalah jawa barat, bahwa lokasi ini tidak terlalu jauh dari pusat keramaian kota, bahwa anak-anak disini kesulitan mendapat akses pendidikan yang layak dan bahwa kampung-kampung kecil berada diantara lembah hijau yang membentang dengan jalan berbatu yang kerusakannya mencapai 95%. kalau saya dengar cerita dari teh yuni, mereka yang tinggal disini memang bukan penduduk asli, melainkan pekerja perkebunan teh. jadi kampung-kampung mereka sebenarnya adalah kavling "rumah dinas" pekerja.

kami tiba di kampung cileeur sekitar 45 menit kemudian, alhamdulillah. kelegaan saya yang pertama adalah; akhirnya kami berhenti digoyang jalan berbatu. entahlah kalau perjalanan masih dua jam lagi, mungkin saya akan memutuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki saja, hahahahaha. kelegaan yang kedua, karena disini sama sekali tidak ada sinyal provider. kapan lagi bisa berkumpul dengan teman-teman baik yang kesemuanya berpuasa media sosial. iya kan? pagi kecil tentu saja langsung gembira, tidak perlu lama untuk dia beradaptasi dan berlarian kesana kemari. ada banyak tempat baru untuk bereksplorasi, ada banyak anjing kecil lucu dan malu-malu untuk disapa. kami akan menghabiskan malam disini, menginap disalah satu rumah penduduk yang baik hati berbagi tungku masak dan ruang seadanya untuk kami.

sore harinya kami berbagi tugas antar personil, ada yang bertugas membagikan daging, memasak, mengajak pagi bermain; ini termasuk bagian dari tugas karena anaknya gak bisa diem banget, hahahahaha. saya dan kris bertugas membuat hiasan kertas kokoru untuk pinsil yang akan dibagikan sebagai hadiah untuk anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan kami disesi dongeng selepas magrib yang akan dipimpin bapak dongeng dunia, pak budhi. ah, rasanya hangat sekali melihat anak-anak duduk melingkar dan memperhatikan dengan antusias. menjelang pukul 9 malam, suhu kampung cileeur seolah turun drastis. satu persatu kami berguguran dalam kantung sleeping bag. sayup saya mendengar pak farhan sang tuan rumah masih bercerita banyak hal tentang kampungnya kepada beberapa diantara kami yang masih terjaga. saya masih bisa menangkap inti cerita meski tidak ikut terlibat dalam pembicaraan itu, inti cerita yang hampir selalu dialami setiap masyarakat dari kampung yang tertinggal; tentang kesejahteraan dan pendidikan layak untuk anak-anak. 


 


         


1 comment:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS