cerita pagi

Friday, September 4

kemarin seorang teman yang kuliah dijurusan psikologi bertanya pada saya "teh, pagi sudah kelihatan belum tertarik sama apa?" seketika saya ingat, sudah lama sekali tidak bercerita tentang pagi. bulan ini pagi melewati usianya yang ke dua tahun enam bulan. sudah mulai besar, sudah banyak sekali perkembangannya, sudah banyak bicara dan bertanya banyak hal. sudah bisa bercerita apa yang seharian dikerjakan bersama emak ketika saya bekerja. pokoknya sudah pintar macam-macam, termasuk pintar menguras emosi ibunya hahahaha. tapi sejauh ini, hanya saya loh yang terkuras emosinya, entah kenapa kalau pak ery selalu bisa terlihat adem ayem menghadapi se-crancky apapun pagi. iya, artinya memang saya kok yang mesti banyak intropeksi, hahahaha.

saya jadi flashback selama dua tahun kebelakang, pagi bukan temasuk anak yang perkembangan motorik kasarnya cepat. saat bayi dulu dia baru lancar duduk saat memasuki injury time dan baru bisa berjalan diusia lima belas bulan. sampai saat ini-pun, saya perhatikan pagi kurang bisa mengendalikan motorik kasarnya, dia cenderung sering terjatuh saat berlari, bahkan jika berjalan dengan kurang hati-hati. berbeda dengan saya, kalau emak, sebagai orangtua yang tidak mengenal teori ilmiah dan masih kental dengan mitos, meyakini bahwa pagi sering terjatuh semata-mata karena akan punya adik. lalu menyarankan supaya saya dan pak ery melakukan ritual ini dan itu, agar pagi segera bisa melewati periode berlari-dan-terjatuh-nya. kami hanya meng-iya-kan, sekedar untuk menghargai emak. tanpa pernah melakukan apapun ritual yang beliau sarankan.

sebaliknya, sejak dulu perkembangan motorik halus pagi terbilang baik. pagi kecil adalah penyuka hal-hal detail. dia selalu tertarik dengan benda yang nyaris tidak terlihat oleh orang dewasa. seperti pesawat terbang yang warnanya sudah nyaris blend dengan langit saking jauhnya, sehelai benang yang menyembul dibalik selimut, atau klip kecil yang terjatuh dilantai. diusianya yang baru menginjak 2 tahun, pagi sudah lancar meronce dengan lubang kancing yang kecil, dia bisa memisahkan manik-manik kecil berdasarkan bentuknya, menyusun balok dengan tinggi dan presisi juga mengupas kulit telur puyuh atau bawang merah dengan rapi. sekarang pagi mulai bisa melepas stiker tanpa bantuan saya, terakhir sore kemarin saya dibuat takjub dengan kemampuannya menyusun piramida gelas plastik dengan sempurna, sampai nyaris menyamai tinggi badannya sendiri.

sebenarnya, saya tidak punya tips khusus untuk menstimulasi motorik halus pagi. semboyan less toys more play dan hashtag #pagimain yang ada diinstagram adalah murni bersumber naluri. tidak seperti banyak ibu kreatif yang berpedoman pada teori montessori, saya bahkan sering tidak tau tujuan saya membuat mainan ini dan itu untuk pagi. saya hanya merasa senang ketika saya dan pagi bersama-sama menciptakan mainan versi kami sendiri, saya senang melihat pagi gembira memegang mainan hasil buatan kami, meski kadang bentuknya tidak sesuai harapan hahahaha. saya hanya sedang ingin mengajarkan pagi bahwa banyak mainan yang bisa kamu buat sendiri dan itu akan jauh lebih menyenangkan daripada menukarnya dengan beberapa lembar uang ditoko mainan. dan saya benar-benar bahagia karena setiap pulang bekerja ada anak kecil yang menyambut dengan wajah ceria sambil bertanya "ibu bawa apa? ibu mau bikin apa?"


 

2 comments:

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS