ibu dan bapak

11:03:00 am


tadi malam, mbak sari mengirimkan foto ini via messenger. foto yang baru diambil beberapa minggu lalu saat bapak dan ibu berkunjung ke pekanbaru. foto ini tiba-tiba membuat saya ingat bahwa sudah hampir sebelas tahun yang lalu sejak saya memutuskan "meninggalkan" rumah untuk menempuh pendidikan tinggi. sebelas tahun dari mulai saya jadi mahasiswa diploma, sarjana, aktif di komunitas ini dan itu, jadi volunteer, lalu cari kerja di berbagai kota, sampai akhirnya ditakdirkan jadi abdi negara, menikah, dikaruniai anak dan menetap di bandung.

saya menyadari tujuh belas tahun tinggal bersama ibu dan bapak adalah waktu yang sangat kurang, belum lagi kalau harus dipotong masa kecil yang belum mengerti apa-apa dan masa remaja yang ngeyelnya luar biasa. pasti ada banyak peristiwa bahagia yang dilalui ibu dan bapak berdua saja selama sebelas tahun belakangan. juga pasti ada banyak kesedihan dan kebimbangan yang disembunyikan ibu dan bapak dari kami anak-anaknya.

ibu terimakasih atas ilmu berkreasinya, atas kesabaran yang luar biasa karena baru ketika dewasa kami sadar, bahwa ternyata dulu kami bandel sekali. terimakasih atas senyum yang selalu ada meski lelah mengantar kami kesana kemari, seorang diri karena bapak berdinas, mengendarai katana yang ketika hujan, airnya akan masuk sampai kedalam. ibu, terimakasih atas maaf yang selalu tersedia meski si bungsu berkali-kali mendaki puncak gunung tanpa pamit demi ego masa sma. terimakasih karena sudah berlapangdada, mengijinkan anakmu ini "puas nakal" diwaktu remaja dulu.

bapak terimakasih atas isi kulkas yang selalu penuh setiap bapak pulang ke bandung, juga capcay, mie goreng, tahu kecap, sambel terasi dan semua masakan bapak yang rasanya super juara. terimakasih atas ajakan bermain dikantor ketika kami masih kecil, kami jadi bisa melihat dari dekat seperti apa wujud lokomotif dan gerbong-gerbong jika sedang diperbaiki, sehingga bisa jadi bekal cerita jumawa untuk teman-teman di sekolah dasar dulu. bapak, terimakasih karena tidak penah bosan mengajarkan kami tentang kesederhanaan dan bahwa bekerja bukan melulu soal uang, tapi soal integritas, kemampuan terbaik dan tanggung jawab.

ibu, bapak terimakasih karena tidak pernah menuntut kami jadi A, B atau C, jadi seperti X, Y atau Z. terimakasih karena mempersilahkan kami menjadi diri sendiri. terimakasih karena selalu memahami kenakalan sekaligus mimpi-mimpi kami, terimakasih karena tidak marah atas nilai-nilai akademis kami yang tidak pernah memuaskan, bahkan tertawa ketika melihat nilai merah untuk pelajaran biologi si anak bungsu karena tidak bisa menggambar anatomi belalang saat ujian. ibu, bapak terimakasih ya, matur nuwun, ngaturaken sungkem. semoga ibu dan bapak selalu dalam lindungan Allah. Amiiin.

You Might Also Like

1 comments