karena (cara) menyapih adalah pilihan

8:49:00 pm

halo! 
ini sudah hari kelima sejak saya dan masery menjalani keseharian kami tanpa pagi. saya merelakan pagi menghabiskan sepuluh hari penuh di lampung bersama eyang putri juga dua kakak sepupunya. duh, sudah jangan ditanya rasanya berpisah berhari-hari. sebagian besar hati ini seperti kosong dan hilang. tapi kalau balik lagi ke tujuan utama, ya harus ikhlas dan berbesar hati sih. toh ini karena ketidakmampuan saya sendiri. jadi memang misi utama saya adalah menyapih pagi.

kalau dulu sekali saya punya cita-cita akan terus menyusui sampai nanti, sampai pagi yang memutuskan untuk menyelesaikan kebiasaannya sendiri. mengingat perjuangan menyusui di awal-awal kelahiran pagi dulu, rasanya tidak rela kalau harus cepat menyapih. tapi kalau dilihat berapa minggu kebelakang.. pagi semakin sering bangun malam, semakin susah makan, semakin latah untuk menempel terus pada ibunya. ntahlah, saya percaya semua itu berkaitan dengan extended breastfeeding-nya. jadi gagasan menyapih memang muncul dari situ. walaupun selain itu juga harus diakui kalau saya mulai lelah dan mmmm.. bosan.

soal cara menyapih, saya mengaku amat cemen. meski di usia pagi ke 25 bulan kemarin, saya pernah mencoba menyapih dan langsung menyerah. saya tidak sanggup jika harus mengulang dan mencoba melakukannya lagi. jadi setelah melewati proses diskusi yang cukup panjang, saya dan masery memutuskan untuk mengambil cara menyapih yang ini. lagipula sudah sejak lama ibu menawarkan membantu proses menyapih pagi. jadi kebetulan sekali kan? pertimbangan utamanya juga karena ibu mempunyai daycare. disana pagi bisa punya banyak teman dan bermain dengan fasilitas cukup, artinya pagi punya banyak pengalih yang menyenangkan. semoga.

dan benar saja, sejak hari pertama ditinggal, masalah utama pagi hanya saat memulai tidur. karena memang terbiasa tidur dengan menyusu, ketika saya tidak ada, ya dia tidak punya pengantar tidur. tapi alhamdulillah drama pengantar tidurnya hanya berlangsung tiga hari. selebihnya pagi mulai terbiasa tidur sendiri. bahkan tidur siang-pun sudah tidak perlu "diantar" lagi. mungkin karena meniru teman-temannya yang memang dibiasakan tidur sendiri. tapi, pagi masih bangun malam, sambil menangis tentu saja. meski frekuensinya sudah tidak sesering saat masih menyusui dulu.

ini sudah hari kelima, rencananya kemarin, saya dan masery akan menjemput pagi di jumat ini. tapi ibu menyarankan kami bersabar, toh dalam keseharian pagi tidak pernah rewel mencari saya. nafsu makannya membaik, sudah mau minum susu (tadinya tidak sama sekali) dan yang paling penting, setiap hari pagi gembira sekali karena punya banyak teman baru. dibilang rela, rela kok.. tapi ya rindu sekali. jadi mulai malam ini saya mulai menghitung hari.. tak sabar bertemu hari dimana saya bisa menjemput pagi. insyallah minggu depan ibu bapak ke lampung ya anak baik.

so, kalau diluaran sana ada banyak ibu yang berhasil menyapih dengan cinta, saya salut atas kesabarannya. yang juga sukses menyapih dengan "tega" karena memang sudah waktunya, saya angkat jempol atas kebesaran hatinya. karena saya bukan keduanya. tapi saya percaya every mom has her own battle, kan? termasuk soal cara menyapih :)


You Might Also Like

3 comments

  1. Aku nangis lho bacanya. Duh, ini gimana nanti pas nyapih anakku

    ReplyDelete
  2. G kebayang gimana kangenya....salam kecup buat pagi dari zahra dan ibuknya...

    ReplyDelete
  3. benar mba, menyapih selain karena emang waktunya, aku jg ngerasa mulai cape dan bosan. Barra kalo tidur siang musti ditungguin sampe bangun lg, aku br nyampe pintu mau keluar kamar, dia pasti nangis. Aku pegeeel banget. udah saatnya disapih dan bikin kebiasaan baru.

    Bismillah..bismillah..aku masih berjuang WWL, tapi belum yang serius banget. Drama sebenarnya akan dimulai setelah tiup lilin mungkin ya. Semangat buat kita mba, 2 tahun yang berharga! :')

    ReplyDelete