diet swalayan

6:45:00 am

sudah sejak akhir tahun kemarin, saya dan masery memutuskan untuk berdiet swalayan. ide ini muncul dengan tidak disengaja saat kami berbicara tentang cost pengeluaran bulanan terbesar keluarga yang menurut kami disebabkan oleh kunjungan ke swalayan. memang sih, kebutuhan bulanan rumah tangga tetap tidak bisa dihindari. tapi setidaknya dengan diet swalayan saya tidak punya alasan untuk memasukkan banyak item tak terduga kedalam keranjang belanja dengan dalih lapar mata ketika berkeliling swalayan.

jadi kami kembali pada cara lama, membuat list kebutuhan setiap bulan dan mampir ke toko grosir jika memang ada kesempatan. hasilnya? tentu saja masih berantakan hahahahahahaha. seperti minggu lalu, saya kehabisan margarin selama berhari-hari dan baru saja kemarin saya lupa membeli garam dapur yang menyebabkan masery harus berkunjung ke warung terdekat disubuh buta. sedikit kecau karena memang sebelumnya kami terbiasa membeli apa saja dalam satu tempat, sekarang tidak lagi. tapi ada kalanya menunda membeli sesuatu yang dibutuhkan itu lebih baik ketimbang harus membeli sesuatu hanya karena merasa butuh saja, iya kan?

seorang teman bertanya soal selisih harga yang harus kami bayar jika berbelanja di toko grosir, pasti ada sih. tapi sejauh ini menurut saya tidak signifikan, berkisar 500 sampai (paling mahal) 1500 rupiah untuk satu item keperluan rumah tangga yang saya butuhkan. jika saya membeli 20 item dikali dengan selisih harga termahal artinya saya harus membayar 30000 lebih mahal. bandingkan jika saya berbelanja di swalayan, saya akan menghabiskan lebih dari 50000 rupiah untuk memenuhi hasrat lapar mata seorang ibu rumah tangga.

diet swayalan ini juga berlaku untuk kebutuhan sayur mayur. saya ingat ketiga pagi memulai mpasinya dulu, saya mengunjungi swalayan setidaknya tiga kali dalam seminggu untuk membeli bahan masakan (yang terlihat) segar, termasuk sayur mayur. kalau dulu alasan saya; hanya supermarket yang buka sampai malam, swalayan/supermarket bisa "menunggu" sampai saya selesai bekerja. waktu itu sama sekali tidak terpikir untuk bangun lebih pagi, mengunjungi mang mamat si tukang sayur yang menggelar dagangannya di lapangan basket komplek perumahan. kalau sekarang sih beda, saya sudah setia sama gerobak mang mamat, mulai ayam kampung sampai ubi cilembu siap makan semua ada, juwara!

eh saya bukan (atau belum) anti swayalan loh ya, apalagi untuk beberapa bahan makanan seperti sosis, nugget atau butter dengan merk tertentu, agak sulit ditemukan dipasar tradisional. jadi sesekali saya masih mampir swalayan untuk memburu minyak goreng diskon membeli yang benar-benar tidak bisa dicari ditoko grosir. dan menurut saya sejauh ini keputusan kami berdiet swalayan menantang sekaligus menyenangkan, meski karena belanja yang "dicicil" itu beberapa kali saya lupa membawa kantong belanja sendiri, nanti kalau masa adaptasinya sudah selesai, gak bakal lupa lagi kok *salim sama aktifis lingkungan seindonesia*

You Might Also Like

0 comments