belum ikhlas jadi mantan

Wednesday, March 18

maret bisa dibilang bulan sibuk yang tak terduga, sampai saya terpaksa harus merelakan berminggu-minggu tanpa menulis. jangankan merangkai kata menjadi cerita, mengetik dua tiga kalimat saja, saya enggan. energi seolah terkuras habis sepanjang delapan jam dikantor, begitu sampai dirumah, sisa-sisa tenaga saya habiskan untuk menemani pagi bermain, lalu mengantarnya tidur dan tentu saja segera setelah itu saya ikut menyusul. saya meliburkan sesi menjahit dengan penuh kepasrahan, meninggalkan tumpukan kain dan antrian pesanan. tak jarang ritual makan malam juga ikut terlewat begitu saja. iya, lalu saya mengucapkan selamat datang di dunia pekerja kantoran.. dunia yang entah kenapa bisa saya cintai.

awal maret kemarin adalah mula cerita. setelah diijinkan libur berdinas menginap selama dua tahun penuh oleh pak bos baik hati, tanggal 6 maret lalu batas cuti dinas saya berakhir.. sesuai kesepakatan, saya harus berangkat, menginap, tiga hari dua malam. rasanya tidak pantas menolak.. sudah diijinkan bebas tugas menginap selama dua tahun saja bersyukur sekali, masih tega untuk minta lebih? coba.. kantor mana yang bosnya bisa sebaik bos saya? rela menggantikan bawahannya berdinas kemana-mana selama dua tahun, demi memenuhi permohonan saya untuk bisa menyusui selama dua tahun penuh. tapi, memenuhi surat perintah tugas itu juga berarti drama buat saya. pagi belum disapih, dan saya memang belum ingin menyapih. itu masalah utamanya.

seminggu sebelum berangkat, saya mencoba menyapih dadakan. salah, iya saya mengakui itu. menyapih tiba-tiba tanpa mau memberikan obat merah, atau plester atau mengoleskan bratawali. keras kepala, yes i am. entah kenapa saya sangat menghindari menyapih dengan cara-cara seperti itu.. menurut saya, akan jauh lebih bijak (dan tentu saja lebih sulit) berterus terang pada anak mengenai alasan kenapa dia harus berhenti menyusu, ketimbang harus membohonginya dengan cara halus. dan untuk hal ini, masery sependapat. maka yang terjadi selanjutnya adalah drama sepanjang malam hahahahahahahhaha..

singkat cerita, kami sudah melewati masa begadang karena harus menunggu pagi mengantuk. saya sudah berkali-kali berurai air mata karena tidak tega melihat pagi kehilangan sesuatu yang biasanya membuat dia nyaman. jam tidur pagi berkurang drastis, yang biasanya jam 7 malam sudah tidur, kali ini jam 10 malam masih gelisah. belum lagi kalau malam harus terbangun karena ritual minum susu yang tidak terpenuhi. pagi akan menangis, disusul kemudian oleh saya. duh, rasanya saat itu ingin segera melompati waktu. meskipun saya tau, mengkhayal tentang mesin percepat waktu yang mustahil itu malah akan membuat saya lebih terbebani.

sampai akhirnya hari H tiba. saya berkali-kali mengucap terimakasih pada masery yang bersedia menjaga pagi selama saya berdinas. saya pergi dengan berbekal satu hal sakti yang bernama sugesti. katanya, suasana hati anak sama dengan suasana hati ibunya. jadi saya berusaha ikhlas sambil terus mensugesti diri bahwa pagi akan baik-baik saja. benar saja, malam pertama berjalan mulus.. pagi lancar tertidur tanpa menangis mencari ibu. begitupun malam kedua yang akhirnya berlalu begitu saja. saya tidak menyangka, ternyata pagi jauh lebih pintar dan lebih pengertian dari yang saya duga. alhamdulillah. sepulang dari berdinas, saya kembali pada peran lama. banyak yang menyayangkan, termasuk ibu saya sendiri. tapi untuk yang satu ini, saya memang belum rela, saya belum ikhlas berganti status dari ibu menyusui menjadi mantan ibu menyusui :)


No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS