belajar seimbang

Thursday, February 27

sudah sebulan ini, saya sedang senang sekali berurusan dengan mesin jahit. tapi karena saya bekerja, maka waktu luang untuk menjahit hanyalah malam hari, setelah selesai menyiapkan makan malam untuk masery dan memastikan pagi kecil tertidur pulas. waktu inilah yang saya sebut sebagai super-mega-quality-me-time versi saya. kalau sudah berurusan dengan kain, jarum dan benang, maka saya mudah sekali bahagia. macam habis dinner bareng joseph gordon-levitt saja :p

penyakit akutnya adalah, ketika sudah memegang mesin jahit, maka saya akan susah sekali untuk berhenti. tidak peduli alarm tubuh sudah meraung lelah. seringnya saya baru benar-benar berhenti di menjelang jam 12 malam. taukan apa akibatnya? kurang tidur, bangun jadi lebih siang dari biasanya, menyiapkan segala sesuatu keperluan pagi dengan amat terburu-buru, tidak sempat lagi mengajaknya bermain apalagi menggendongnya sambil berjalan di sekitar komplek sebelum berangkat kerja seperti yang biasa saya lakukan.

efeknya berlanjut sampai ke sore setelah pulang kerja, pagi meminta "jatahnya" untuk bermain lebih lama dengan saya, sehingga jam tidurnya mundur jauh. yang biasanya setelah magrib sudah menguap ngantuk, sekarang jam delapanpun masih segar bugar, kalau dikondisikan supaya tidur, diajak masuk kamar, diajak memasang lampu tidur, makan setelahnya akan disusul dengan adegan drama berurai air mata. duh cobaan banget. sempat ada kalimat membatin "nak, ayolah.. ibuk capek" tapi buru-buru saya koreksi, setelah sadar bahwa siklus tidurnya berubah ya karena saya.

pelan-pelan saya mulai menurunkan standar hobi saya. yang biasanya dalam satu hari harus bisa mennyelesaikan a, b, c maka sekarang a saja sudah cukup, kalau beruntung maka saya tambah bonus menyiapkan b untuk dikerjakan keesokan harinya. saya belajar untuk menikmati "jam malam" bersama pagi yang memang tinggal tersisa sedikit dengan tanpa menuntut apapun, tidak lupa sebisa mungkin saya mengatur jam tidur menjadi minimal 6 jam dalam sehari.  supaya tak ada lagi efek samping emosional *sungkem masery* dan mood yang fluktuatif.

jadi intinya segala sesuatu, baik peran maupun yang kita kerjakan harus diperhatikan porsinya. work hard boleh banget, tapi bukan berarti melupakan batas kemampuan diri sendiri kan. bukankah menjadi seimbang itu penting sekali? dan yang tau persis soal keseimbangan hidup tentu kita sendiri. seperti kata jana kingsford "balance is not something you find, it's something you create" nah kan :D

ngaturaken sungkem, yangti.

Monday, February 10

yang saya ingat dulu saya tidak pernah dekat dengan yangti (eyang putri). maklum saja, bapak merantau ke bandar lampung sejak tahun 1984, saya sendiri lahir dan besar dikota itu, sementara yangti menetap di surabaya. saya hanya bertemu sesekali, seperti pada musim lebaran. itupun jika bapak dan ibu punya cukup tabungan untuk biaya perjalanan dua orang dewasa dan tiga anak dengan rute lampung-surabaya-lampung. jika tidak, saya harus menunggu momen lebaran tahun berikutnya atau berikutnya lagi untuk bertemu yangti.

yang saya ingat dulu yangti kaku sekali. kalau beliau bicara saya merasa ada jarak yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang nenek dan cucunya. tidak ada kedekatan khusus seperti dalam cerita-cerita drama bahagia. mungkin karena kami memang jarang bertemu, ah lagi pula waktu itu saya tidak terlampau peduli. lebih asyik bermain bersama para sepupu.. bertukar kertas surat, membaca buku atau mengunjungi tunjungan plasa yang (waktu itu) megah sekali.

yang saya ingat dulu saya mencium tangannya, membawa kopernya turun dari kereta turangga, membantu beliau masuk ke mobil lalu pulang menuju rumah, saya yang kala itu remaja, mulai banyak bertanya pada sosok perempuan yang sangat disayangi bapak itu. dan sejak saat itu yangti resmi menetap di bandung. bersama bapak, mas dimas, mbak sari dan saya sendiri. yangti sangat fasih berbahasa sunda, jadi tidak sulit bagi beliau beradaptasi dikomplek tempat kami tinggal. dalam beberapa bulan berbagai pengajian ibu-ibu sudah diikuti, dengan tukang sayur keliling pun seperti akrab sekali.

yang saya ingat hampir tiga tahun kami tinggal bersama, soto ayam, capcay, lontong kupang, semur, ayam ungkep, sambel goreng ati, sayur asem, tahu kecap, dengan rasa yang tidak pernah gagal selalu tersaji dimeja makan. kami selalu bilang kalau yangti harusnya bikin rumah makan saja, karena semua masakannya enak sekali. oh pernah juga beliau membuatkan lumpia basah untuk saya, supaya saya gak jajan diluar katanya, "gak sehat itu.." begitu beliau selalu menasehati. ah, seandainya waktu itu sudah musim seblak, pasti yangti akan membuatkan untuk saya dengan rasa yang paling juara :D

yang saya ingat oktober tahun lalu kami terakhir bertemu, waktu itu yangti sudah terlihat sepuh sekali. tubuh rentanya ditopang kursi roda. tapi beliau masih bisa menunaikan kewajiban sholatnya, masih bisa meracik bumbu pecel yang menurut saya paling enak sedunia, masih senang tersenyum dan memangku pagi kecil yang bergelar cicit ke sembilan. berkali-kali yangti minta didoakan supaya lekas diberi kesembuhan, ingin main ke bandung lagi katanya. "iya yangti.. amiiin" saya menjawab sambil mencium tangannya, memeluk tubuh rentanya dan berpamitan pulang.

yang saya ingat, minggu kemarin bapak dan ibu mengabari sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk terbang ke surabaya. tentu saya tak perlu bertanya kenapa dan sampai kapan. diwaktu yang berbeda beberapa waktu lalu, hal ini juga pernah terjadi. saya hanya mengirim pesan singkat melalui ibu, mengirim salam untuk yangti. selama seminggu kemarin bapak dan ibu agak susah dihubungi, saya maklum. tentu bukan perkara mudah mengurus banyak keperluan selama di rumah sakit tempat yangti dirawat.

dan yang akan saya ingat seumur hidup adalah tepat hari ini yangti berpulang, setelah lebih dari satu minggu mengalami koma dan melewati beberapa kali masa kritis. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. akhirnya selang-selang yang beberapa hari terakhir menempel di tubuh yangti dan membuat saya ngilu setiap melihat kiriman foto dari ibu bisa dilepas, jarum-jarum infusnya juga, jadi gak bikin sakit lagi kan yangti? selamat jalan yangti, salam buat eyang kakung disana ya yangti.

la tahzan iInnallaha ma'ana. ngaturaken sungkem, yangti.


jadi satu

Saturday, February 8

*abaikan penampakan tandon air yang tidak pada tempatnya*

setahun sudah saya dan masery jadi orangtua. macam-macam sekali rasanya, ya seneng, ya kadang capek, ya kadang emosional, ya sering drama, ya bahagia luar biasa. alhamdulillahirabbil'alamin. review satu tahun jadi orangtua? oh bisa abis sembilan postingan blog deh kayaknya, saking banyak dan seru ceritanya. yang jelas dan paling diingat sih proses melahirkan, drama menyusui, kehebohan mpasi, rasa takjub yang terjadi hampir setiap saat, melalui hari demi hari yang membuat saya makin bersyukur punya suami yang keren sekali :D

"the moment a child is born, the mother is also born" siapapun yang menciptakan quotes ini, aku padamu sekali. memang perubahan terbesar yang terjadi dalam hidup saya bukan ketika saya memutuskan untuk menikah, melainkan ketika status saya berubah menjadi seorang ibu. banyak hal seperti nonton bioskop, pulang dini hari, nongkrong sana-sini, bikin kegiatan ini itu, semua hal yang saya beri label kesenangan, yang rasanya (waktu itu) tidak mungkin saya tinggalkan. namun ketika pagi lahir saya dengan mudah meninggalkan itu semua, tanpa sedikitpun merasa berat.

setahun sudah keluarga kami lengkap menjadi bahagia. semoga selamanya ya bap.. and well selamat jadi satu dear gauri binaring pagi. terimakasih karena sudah memberi warna terang dan ceria dihati ibuk dan bapak. semoga sehat selalu ya nak, makin pinter, makin bageur dan jadi anak soleha. we love you, to the moon and back *ciyum*

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS