jadi sederhana

Monday, December 1


dipenghujung tahun saat banyak orang mereview resolusi, target dan meyiapkan tiket untuk liburan besar akhir tahun, saya dan masery malah resmi menyadur sapa mas dan mbak di spbu pertamina; "dimulai dari nol ya.." hahahahaha. bagaimana tidak, tepat dibulan november ini, pundi-pundi rupiah yang sedari dulu kami kumpulkan habis terpakai untuk melunasi sebidang tanah yang sudah jadi impian kami sejak lama. yang tersisa di buku tabungan hanya tinggal record angka pemindah bukuan dengan jumlah bilangan seadanya. sebidang tanah yang tidak terlalu luas ini adalah satu dari sekian banyak mimpi kami. drama negosiasi jual belinya nyaris berlangsung selama satu tahun. sampai akhirnya saya harus percaya kata-kata masery bahwa dalam hidup, kita akan berjodoh pada tiga hal; 1. pasangan, 2. kendaraan, 3. hunian.

dan alhamdulillah kami berjodoh. lalu setelah semua proses pindah kepemilikan ini hampir selesai, kami seolah mendapat energi berlipat untuk menata kembali skala prioritas dan merapikan susunan mimpi-mimpi kami. lagi pula ini semacam titik balik untuk saya. sejujurnya saya bukan istri/ibu yang cakap dalam kegiatan hemat berhemat. walaupun saya tidak sering membeli baju dan tidak punya banyak pilihan sepatu, pengeluaran "entertain"-pun tidak besar, saya tidak suka menonton bioskop, tidak harus mengabsen restoran ternama setiap akhir pekan, juga tidak suka bermanja-manja di salon langganan. memang sekilas tampak sederhana, tapi.. kacaunya saya tidak pernah membuat batas maksimal pengeluaran dalam satu bulan dan terlebih tidak pernah mengevaluasi jika dalam satu bulan jumlah uang yang saya keluarkan menjadi berlipat.

hari ini tepat satu bulan menuju tahun yang baru, saya mencoba keluar dari zona nyaman, saya ingin mulai belajar teratur, dan solusi termudah adalah mencatat. apapun, sekecil apapun, supaya semuanya bisa terukur. dan mungkin resolusi saya tahun depan akan dikemas jadi lebih sederhana, berkebun misalnya, memulai hidup sehat, membuat jadwal memasak dan meningkatkan intensitas berkemah atau sekedar piknik hore. harapan untuk memanggul ransel dan menginjakkan kaki di kathmandu tentu tetap ada, tapi tidak lagi utama mengingat kami masih harus ekstra menabung dan mengencangkan ikat pinggang supaya satu atau dua tahun lagi bisa membangun rumah mungil berhalaman yang luas dengan yu sing sebagai arsiteknya. amiiin :)


2 comments:

  1. kunjungan perdana, pemandangannya kelihatan indah ya... salam perkenalan ^_^

    ReplyDelete
  2. setuju..
    ikutan ketawa waktu baca "dimulai dari angka nol yah".. karena sedang mengalami hal serupa..dan sedang menantang diri sendiri utk konsisten dalam "pembukuan" *ah ini selalu gagal..

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS