pagi di bukit bintang

Thursday, November 13

segala sesuatu yang tidak terencana seringnya memang lebih menyenangkan. untuk beberapa hal menurut saya, hal-hal yang tidak direncanakan itu mencegah perasaan kecewa. sebenarnya bukan mencegah sih ya, tapi karena tidak terencana, jadi kita tidak punya ekspektasi lebih terhadap apa yang akan kita jalani dan hadapi. kalau ternyata jadinya seru, kita pasti senang sekali.. kalau ternyata biasa-biasa saja, kita lebih maklum, karena yaaa.. namanya juga tanpa rencana. sudah tak terhitung berapa kali kami pergi tanpa rencana, dan herannya kami tidak pernah jera. padahal bepergian tanpa perbekalan tentu saja berujung rasa lapar. ah buat saya yang penting pagi sudah makan.. kalau masery dan (terutama) saya sih asal piranti dokumentasi menyala sudah cukup. lagi pula kami sudah terbiasa dengan rasa lapar dalam praktek kegiatan survival ala pecinta alam tempo dulu. dulu sekali hahahahaha.

minggu pagi kemarin, tiba-tiba masery mengajak kami pergi ke daerah caringin. caringin tilu adalah salah satu dataran tinggi di bandung timur, kira-kira lima tahun lalu saya pernah kesana.. waktu itu malam hari, dan menakjubkan sekali. disana kita bisa memandang ribuan kerlip lampu kota dari atas bukit yang memiliki tinggi 1.200an meter diatas permukaan laut. tapi justru karena malam hari dan menggunakan mobil yang pengemudinya baru saja lulus dari ujian sim a, saya malah sama sekali tidak menikmati perjalanan. yang ada malah sibuk berdoa karena jalanan sempit yang diapit lembah tinggi membuat kadar cemas meningkat drastis. maka kali ini dengan sedikit analisa, masery memutuskan akan lebih mudah jika kami pergi dengan mengendarai sepeda motor karena jika ditempuh dari rumah ada jalan memotong menuju tempat tujuan yang membuat jarak tempuh jadi lebih dekat dan masery menduga jalan tersebut tidak bisa dilewati kendaraan roda empat.

sepanjang perjalanan, beberapa kali masery menepikan motor untuk bertanya pada penduduk setempat, arah jalan menuju caringin tilu. iya, kami memang pernah kesana tapi waktu itu menggunakan jalur umum yang tergambar di peta resmi kabupaten bandung. kami belum pernah melewati jalan pintas yang karakter jalannya bermacam-macam seperti kemarin. beberapa kilometer kami menemukan jalan menanjak yang ramah karena permukaannya rata oleh aspal beton. tapi kemudian kami harus menempuh jalan liku berbatu yang membuat mesin motor matic tua yang kami tumpangi mengeluh dan guncangan suspensinya jadi lebih dramatis. beberapa kali saya sempat tidak yakin dengan kemampuan motor dan menawarkan untuk turun, berjalan kaki sambil menggendong pagi, supaya masery lebih mudah mengendalikan laju motornya. tapi alhamdulillah sampai tempat tujuan, saya cukup turun satu kali, itupun karena kami salah jalan dan harus memutar dijalan yang sempit.

dan perjalanan tanpa rencana kami terbayar lunas dengan memandang barisan pohon pinus di kawasan bukit bintang, caringin tilu. masyaallah, kereeeen sekali. kata masery, kawasan ini memang dikelola oleh perhutani. dan memang terbilang baru dibuka untuk umum. jadi mungkin karena itu juga tempatnya bersih dan tertata rapi. keranjang tempat sampah dari jalinan bambu tersedia dihampir setiap meter, membuat pengunjung tidak punya alasan untuk membuang sampah sembarangan. pokoknya bersih, di tanahnya nyaris tidak ada sampah kecuali daun-daun pinus yang menumpuk mengering. katakan saya berlebihan, tapi hari itu saya bahagia sekali dan saya yakin pagi juga. selama disana dia gembira sekali lari kesana-kemari, lalu berhenti sebentar untuk mengumpulkan ranting-ranting kering (tetep) dan berlari lagi. jadi memang benar, sejauh ini menurut kami memang belum ada tempat yang lebih menyenangkan untuk mengajak pagi bermain selain taman kota dan hutan raya.




No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS