balada bbm bersubsidi

Wednesday, September 10

jujur saja, baru awal agustus kemarin saya mulai membiasakan si kendaraan pribadi mengkonsumsi bbm non subsidi. kenapa? karena memang baru sekarang saya ingin menjadi bagian dari solusi permasalahan negara ini. terdengar sedikit naif, tapi benar, sepenuh hati saya ingin mendukung pemerintahan yang sekarang. saya memang masih masuk kedalam golongan kelas menengah, tapi saya tidak mau menjadi bagian dari kelas-menengah-ngehek. punya mobil bagus, gadget canggih, tujuan liburan lombok, bali, singapore, ngopi haha hihi di cafe setiap minggu tapi sekalinya bbm naik, atau jadi langka sehingga harus isi petramax langsung merasa dirugikan oleh pemerintah. posting status keluh kesah  menunggu antrian bbm subsidi, didalam mobil pribadi dengan menggunakan perangkat komunikasi yang baderol harganya tiga bahkan sampai delapan jutaan. seems familiar? iya, di timeline facebook saya masih banyak yang seperti itu.

berganti konsumsi bahan bakar menjadi petramax memang tidak murah. saya juga tidak menyalahkan mereka yang pada akhirnya masih memilih bbm bersubsidi. teman saya yang bekerja disalah satu bank swasta ternama secara terang-terangan menyatakan tidak sanggup jika kendaraannya harus "jajan" bahan bakar non subsidi, dengan teori beban kpr, biaya hidup sehari-hari dan ongkos yang harus dia keluarkan setiap minggu untuk mengunjungi istri tercintanya. oke, fair gak masalah kok. yang masalah itu kalau sudah memakai bahan bakar subsidi tapi masih jadi menyebalkan dengan mengumpat, menyalahkan, menyerahkan semuanya sebagai tanggung jawab pemerintah. gerombolan orang-orang seperti ini sepertinya tidak pernah mengambil pelajaran berharga atas kekejaman senior saat ospek dulu.

saya sama sekali tidak mendukung pemerintah mencabut subsidi bbm jika kondisinya tidak dibarengi dengan pembenahan-pembenahan lain, semacam "mempersulit" proses kepemilikan kendaraan pribadi. seorang teman bercerita bahwa ketika musim lebaran kemarin, di salah satu pasar tradisional ada gelaran promo kendaraan roda dua. siapa yang berminat tinggal bermodal kartu tanda penduduk, kartu keluarga dan uang tunai dua ratus lima puluh ribu rupiah saja sudah bisa membawa pulang kendaraan gress.. fresh from the dealer. masalahnya masih banyak masyarakat indonesia yang belum bisa mengukur kemampuan finansialnya sampai dua tiga tahun kedepan. dengan bangga mengambil cicilan motor baru, satu tahun pertama lancar, tahun kedua pembayaran tersendat, tahun ketiga bunga cicilan bersemi lalu berujung penyitaan. motor melayang hutang terpampang nyata. tragis.

sebenarnya menurut saya, yang paling penting dari balada tak bertepi ini adalah soal penyediaan transportasi publik yang memadai, pemerintah harusnya memang tidak pernah menyerah pada usaha perbaikan transportasi publik. memang harus diakui masih banyak masyarakat yang ogah naik kereta, metromini, transjakarta bahkan angkot. alasan pembelaannya bisa macam-macam mulai dari angkot ngetem memakan waktu tempuh lebih lama sampai soal keamanaan transportasi publik yang rawan sekali. tapi ditengah ngetemnya angkot, ngebulnya emisi bus damri tua beberapa teman kece yang saya kenal masih konsisten menggunakan transportasi publik, atau beberapa teman lain yang lebih memilih bersepeda dengan sehat dan bahagia bahkan ada sekolompok yang membentuk komunitas pejalan kaki meski trotoar jalan sering termakan separuh oleh pedagang kaki lima.

beberapa dari kita mungkin masih jauh dari predikat keren seperti teman-teman pengguna transportasi publik dan sepeda. saya sendiri sama, dengan beberapa alasan untuk kegiatan sehari-hari saya berpendapat masih lebih efisien jika menggunakan kendaraan roda dua. yaaah.. intinya masing-masing harus mulai sadar bahwa kita semua, iya KITA SEMUA adalah bagian dari sistem. kalau menuntut semua membaik tapi tidak memulainya dari diri sendiri ya akan percuma jadinya. jangan bermental bossy, apa-apa maunya selesai tuntas, cepat dan menguntungkan. jangan jadi generasi yang tinggal terima hasil tidak peduli seperti apa kerumitan prosesnya. dan yang terpenting jangan jadi beban teman-teman baik disekitar kita dengan menebar energi negatif :D

  

5 comments:

  1. Suka banget kak postingnya :D Setuju seratus persen!

    ReplyDelete
  2. Akoo juga pake pertamaxxx. Gegara red platsss tapi wahahaha

    ReplyDelete
  3. @dita : iyakan. jangan sampe deh kita masuk kedalam kelompok kelas menengah ngehek :3

    @ariewidiaputra : hahahaha.. ya kalo pake aset negara harus mendukung program negara juga dong ah

    ReplyDelete
  4. Sukaaa bgt sama tulisannya mba ajeng yg ini. Istilahnya kelompok kelas menengah ngehek bisa di pinjen nih mba

    ReplyDelete
  5. gw suka ending postingannya :
    "dan yang terpenting jangan jadi beban teman-teman baik disekitar kita dengan menebar energi negatif"

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS