ngaturaken sungkem, yangti.

3:54:00 pm

yang saya ingat dulu saya tidak pernah dekat dengan yangti (eyang putri). maklum saja, bapak merantau ke bandar lampung sejak tahun 1984, saya sendiri lahir dan besar dikota itu, sementara yangti menetap di surabaya. saya hanya bertemu sesekali, seperti pada musim lebaran. itupun jika bapak dan ibu punya cukup tabungan untuk biaya perjalanan dua orang dewasa dan tiga anak dengan rute lampung-surabaya-lampung. jika tidak, saya harus menunggu momen lebaran tahun berikutnya atau berikutnya lagi untuk bertemu yangti.

yang saya ingat dulu yangti kaku sekali. kalau beliau bicara saya merasa ada jarak yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang nenek dan cucunya. tidak ada kedekatan khusus seperti dalam cerita-cerita drama bahagia. mungkin karena kami memang jarang bertemu, ah lagi pula waktu itu saya tidak terlampau peduli. lebih asyik bermain bersama para sepupu.. bertukar kertas surat, membaca buku atau mengunjungi tunjungan plasa yang (waktu itu) megah sekali.

yang saya ingat dulu saya mencium tangannya, membawa kopernya turun dari kereta turangga, membantu beliau masuk ke mobil lalu pulang menuju rumah, saya yang kala itu remaja, mulai banyak bertanya pada sosok perempuan yang sangat disayangi bapak itu. dan sejak saat itu yangti resmi menetap di bandung. bersama bapak, mas dimas, mbak sari dan saya sendiri. yangti sangat fasih berbahasa sunda, jadi tidak sulit bagi beliau beradaptasi dikomplek tempat kami tinggal. dalam beberapa bulan berbagai pengajian ibu-ibu sudah diikuti, dengan tukang sayur keliling pun seperti akrab sekali.

yang saya ingat hampir tiga tahun kami tinggal bersama, soto ayam, capcay, lontong kupang, semur, ayam ungkep, sambel goreng ati, sayur asem, tahu kecap, dengan rasa yang tidak pernah gagal selalu tersaji dimeja makan. kami selalu bilang kalau yangti harusnya bikin rumah makan saja, karena semua masakannya enak sekali. oh pernah juga beliau membuatkan lumpia basah untuk saya, supaya saya gak jajan diluar katanya, "gak sehat itu.." begitu beliau selalu menasehati. ah, seandainya waktu itu sudah musim seblak, pasti yangti akan membuatkan untuk saya dengan rasa yang paling juara :D

yang saya ingat oktober tahun lalu kami terakhir bertemu, waktu itu yangti sudah terlihat sepuh sekali. tubuh rentanya ditopang kursi roda. tapi beliau masih bisa menunaikan kewajiban sholatnya, masih bisa meracik bumbu pecel yang menurut saya paling enak sedunia, masih senang tersenyum dan memangku pagi kecil yang bergelar cicit ke sembilan. berkali-kali yangti minta didoakan supaya lekas diberi kesembuhan, ingin main ke bandung lagi katanya. "iya yangti.. amiiin" saya menjawab sambil mencium tangannya, memeluk tubuh rentanya dan berpamitan pulang.

yang saya ingat, minggu kemarin bapak dan ibu mengabari sedang dalam perjalanan menuju bandara untuk terbang ke surabaya. tentu saya tak perlu bertanya kenapa dan sampai kapan. diwaktu yang berbeda beberapa waktu lalu, hal ini juga pernah terjadi. saya hanya mengirim pesan singkat melalui ibu, mengirim salam untuk yangti. selama seminggu kemarin bapak dan ibu agak susah dihubungi, saya maklum. tentu bukan perkara mudah mengurus banyak keperluan selama di rumah sakit tempat yangti dirawat.

dan yang akan saya ingat seumur hidup adalah tepat hari ini yangti berpulang, setelah lebih dari satu minggu mengalami koma dan melewati beberapa kali masa kritis. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu. akhirnya selang-selang yang beberapa hari terakhir menempel di tubuh yangti dan membuat saya ngilu setiap melihat kiriman foto dari ibu bisa dilepas, jarum-jarum infusnya juga, jadi gak bikin sakit lagi kan yangti? selamat jalan yangti, salam buat eyang kakung disana ya yangti.

la tahzan iInnallaha ma'ana. ngaturaken sungkem, yangti.


You Might Also Like

0 comments