belajar seimbang

9:44:00 am

sudah sebulan ini, saya sedang senang sekali berurusan dengan mesin jahit. tapi karena saya bekerja, maka waktu luang untuk menjahit hanyalah malam hari, setelah selesai menyiapkan makan malam untuk masery dan memastikan pagi kecil tertidur pulas. waktu inilah yang saya sebut sebagai super-mega-quality-me-time versi saya. kalau sudah berurusan dengan kain, jarum dan benang, maka saya mudah sekali bahagia. macam habis dinner bareng joseph gordon-levitt saja :p

penyakit akutnya adalah, ketika sudah memegang mesin jahit, maka saya akan susah sekali untuk berhenti. tidak peduli alarm tubuh sudah meraung lelah. seringnya saya baru benar-benar berhenti di menjelang jam 12 malam. taukan apa akibatnya? kurang tidur, bangun jadi lebih siang dari biasanya, menyiapkan segala sesuatu keperluan pagi dengan amat terburu-buru, tidak sempat lagi mengajaknya bermain apalagi menggendongnya sambil berjalan di sekitar komplek sebelum berangkat kerja seperti yang biasa saya lakukan.

efeknya berlanjut sampai ke sore setelah pulang kerja, pagi meminta "jatahnya" untuk bermain lebih lama dengan saya, sehingga jam tidurnya mundur jauh. yang biasanya setelah magrib sudah menguap ngantuk, sekarang jam delapanpun masih segar bugar, kalau dikondisikan supaya tidur, diajak masuk kamar, diajak memasang lampu tidur, makan setelahnya akan disusul dengan adegan drama berurai air mata. duh cobaan banget. sempat ada kalimat membatin "nak, ayolah.. ibuk capek" tapi buru-buru saya koreksi, setelah sadar bahwa siklus tidurnya berubah ya karena saya.

pelan-pelan saya mulai menurunkan standar hobi saya. yang biasanya dalam satu hari harus bisa mennyelesaikan a, b, c maka sekarang a saja sudah cukup, kalau beruntung maka saya tambah bonus menyiapkan b untuk dikerjakan keesokan harinya. saya belajar untuk menikmati "jam malam" bersama pagi yang memang tinggal tersisa sedikit dengan tanpa menuntut apapun, tidak lupa sebisa mungkin saya mengatur jam tidur menjadi minimal 6 jam dalam sehari.  supaya tak ada lagi efek samping emosional *sungkem masery* dan mood yang fluktuatif.

jadi intinya segala sesuatu, baik peran maupun yang kita kerjakan harus diperhatikan porsinya. work hard boleh banget, tapi bukan berarti melupakan batas kemampuan diri sendiri kan. bukankah menjadi seimbang itu penting sekali? dan yang tau persis soal keseimbangan hidup tentu kita sendiri. seperti kata jana kingsford "balance is not something you find, it's something you create" nah kan :D

You Might Also Like

1 comments

  1. Semangat mbak, tapi jangan terlalu memaksakan diri juga, kesian badannya :)

    ReplyDelete