pagi dan buku

Wednesday, October 30


sejak pagi berumur dua bulan, saya memang sering membacakan buku untuk pagi. waktu itu sih niatnya buat killing time aja. saya masih cuti, jadi masih punya banyak waktu untuk deket-deket sama pagi lagian bayi umur segitu kan belum bisa bangun dari tempat tidur untuk main ya.. jadi mending dibacain buku aja. dan karena belum punya banyak koleksi buku anak, yang saya bacakan ya buku seadanya saja. kalau bosan baru saya ganti dengan koleksi national geographic kepunyaan bapaknya atau katalog greenpeace yang dikirim kerumah setiap bulan :p

ketika pagi sudah mulai bisa berinteraksi, walaupun tidak rutin setiap menjelang tidur, saya sering membacakan dongeng untuknya. favorit pagi adalah buku berjudul elmer si gajah perca. duh ini buku kesukaan banget deh, saya baru ambil bukunya aja, pagi udah senyum girang bener. dan saking seringnya dibolak balik buat dibaca, sebagian besar halaman bukunya sampai lepas, dan saya sebagai ibu yang irit baik, bela-belain ke tukang fotocopy untuk menjilid ulang si buku elmer :D

mungkin karena dari dulu udah dikenalin sama buku, sekarang pagi demeeeen banget kalo liat buku nganggur. dikasih mainan selain buku gak tahan lama antengnya. tapi kalau dikasih buku.. wiiiih, dipanggil berkali-kali sama ibuknya, gak nengok. problemnya satu sih, buku kan kertas yang gampang banget sobek ya.. jadi ya siap-siap perang kalau pagi keduluan pegang buku. pilihannya kalau gak dimasukin mulut ya diremet kertasnya hahahahaha.

kemarinan sempet saya beliin softbook yang dari kain. tujuannya sih biar gak bahaya, ujungnya gak tajem dan bisa puas diremet-remet sama pagi. lagian kayaknya lebih sesuai sama umurnya aja kan ya, kalau bayi pegang softbook keliatannya jadi makin lucu-lucu gimana gitu. tapi kenyataannya? gak lakuuuuu. cuma dipegang berapa menit trus ditinggalin gitu aja dan beralih ke buku dari kertas. yaudahlah ya, lagian dari awal dikenalin buku juga udah sama buku beneran. jadi gak heran kalo sekarang anaknya gak demen buku-bukuan :p

si tukang lupa

Friday, October 25

saya, iya saya.
parah. parah banget.

dalam satu bulan ini aja, udah gak keitung berapa kali saya kelupaan macem-macem. sekedar ketinggalan handphone sama dompet sih udah biasa banget buat saya, lupa menaruh kacamata juga hampir jadi keseharian. seringnya sebel sendiri, udah sadar tukang lupa, tapi tetep kalau mengerjakan sesuatu buru-buru, gak bisa tenang. akhirnya malah makin memperparah ingatan.

tempo hari waktu di bandara, pas semuanya sudah boarding, sudah siap masuk pesawat. saya baru sadar kalau handphone gak ada dan sama sekali gak dapet clue ketinggalan dimana. untungnya masery ikhlas turun dari boarding room, ngecek ke mobil yang waktu itu memang sengaja kita parkir di bandara. ketemu, alhamdulillah.

dan baru saja beberapa hari lalu, saya kelupaan dimana menyimpan kunci gudang. gudang kantor, dimana ruangan itu adalah markas besar tempat buibu pumping setiap hari. sebel kan? sebel bangeeeeeeeeet. tapi gimana dong, mau dipaksa inget dimana terakhir kali nyimpen juga tetep aja gak inget. namanya juga orang lupa :s

gak cukup sampai disitu, sampai detik inipun saya masih berusaha mengingat-ngingat dimana atm operasional rumah tangga saya simpan. di dompet gak ada, di tas gak ada, di saku celana gak ada, di atas kulkas gak ada. stuck. sampai akhirnya saya putus asa. udah deh mau ke bank-nya aja, urus kehilangan yang konon katanya ribet banget itu. biarin, kali aja kejadian ini bikin saya kapok lupa :p

delapan yang ke-delapan

Tuesday, October 8

selamat delapan bulan Gauri Binaring Pagi, alhamdulillah. sehat terus ya anak manis. maaf bulan ini ibu sibuk sekali. berkali-kali harus pulang lebih sore dan lembur diakhir pekan. insha-allah nanti dibayar lunas sama cuti dan backpacking bareng bapak ke timur indonesia. setuju?

sun sayang dari kantor.
ibu.

mencoba memahami

Wednesday, October 2

beberapa hari ini saya lihat berita dibanyak media lokal tentang wali kota bandung yang mencoba berdiskusi dengan pengemis dan anak jalanan. diawali unjuk rasa tentang penertiban yang dilakukan satpol pp berdasar kebijakan yang dikeluarkan wali kota, singkatnya solusi yang diberikan oleh wali kota adalah memberi mereka pekerjaan sebagai petugas kebersihan dengan penghasilan sebesar tujuh ratus ribu setiap bulannya.

penolakan langsung terjadi saat itu juga. mereka (pengemis dan anak jalanan) tidak setuju dengan kebijakan yang diterapkan oleh wali kota, meskipun penawara tempat tinggal gratis juga sudah dilakukan. mereka dengan lantang meminta gaji dengan nominal empat sampai sepuluh juta. wow! ketika pertama membaca judul beritanya saya juga kaget, tapi tidak lama, sampai akhirnya saya menganggap penolakan yang mereka lakukan adalah hal yang sangat wajar.

terlepas dari apa pekerjaannya, mereka adalah manusia biasa. mereka bosan hidup susah, wajar kan? wajar banget. karena mereka tidak pernah menonton acara golden ways, mereka jelas tidak mengenal quotes bijak mario teguh. jadi senang menurut mereka adalah jika sudah tidak hidup susah, yang mana, masih menurut mereka, semua itu akan berakhir jika mereka punya uang banyak. nah, kalau bukan dengan pak walikota (yang waktu itu mengajak berdiskusi), dengan siapa lagi mereka bisa meminta?

kita tidak bisa menuntut semua orang punya pemahaman yang sama dengan kita. coba deh, kita bisa bilang permintaan mereka tidak masuk akal karena kita lebih beruntung. kita punya cukup uang, punya segudang pengalaman, kita juga berpendidikan, punya banyak pengetahuan yang akhirnya membuat kita bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, mana yang pantas mana yang tidak.

ikut mengedukasi dengan tidak "memberi" rupiah kepada mereka yang meminta-minta dijalan saya rasa jauh lebih baik ketimbang harus menanggapi permintaan mereka dengan caci maki. posisikan kita sebagai si pengemis dan anak jalanan. mecoba memahami memang tidak mudah, tapi saya yakin kita lebih bisa. 

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS