drama akhir tahun

10:04:00 am

pernah dengar pendapat bahwa orang yang bekerja sampai melewati jam kerja orang normal (lembur) itu berarti cara bekerjanya tidak efektif? saya sering. tapi saya tidak setuju. mungkin, saya akan setuju dengan pendapat itu nanti, kalau indonesia sudah menerapkan sistem kerja seperti denmark. yang hampir setiap pegawainya punya jam kerja fleksibel dengan hanya maksimal 33 jam perminggu. dan memiliki hak setidaknya 5 minggu dalam satu tahun untuk berlibur. catet! berlibur. denmark juga dinobatkan sebagai negara paling bahagia di dunia dengan penduduk yang bekerja mencapai 73% dan rata-rata pegawai dengan jam kerja overtime hanya 1,92% saja.

oke, balik lagi ke realita di negara kita tercinta ini. di indonesia, pekerja lembur memang ada bermacam jenisnya. ada yang lembur karena nunggu jam macet berakhir --kasus yang ini khusus pekerja ibukota. ada yang lembur karena punya pikiran daripada dikosan sendirian, mending nonton pertandingan bola dulu dikantor, ya walaupun kenyataannya dan seringnya cuma nonton bareng office boy doang. tapi seenggaknya gak sendirian banget. trus ada juga yang lembur karena tebengannya lembur, daripada naik angkutan umum gak jelas keamanannya mending ikut lembur sekalian, itung-itung dapet label solidaritas persahabatan :p dan yang paling tragis sih jenis yang terakhir, yang bekerja lembur karena memang dikejar deadline dan kerjaan yang overload.

nah, karena ini akhir tahun maka lembur sudah menjadi drama yang sangat mainstream. dimana hampir semua perusahaan, terutama instansi pemerintah "tutup buku", menyebabkan banyak karyawannya harus duduk dimeja kerja lebih lama dari bulan-bulan sebelumnya. teman baik saya yang waktu itu bekerja disalah satu perusahan jepang, pernah lembur sampai jam 4 pagi. entah kalau sampai jam segitu, hitungannya masih lembur atau sudah menginap dikantor. saya sendiri beberapa tahun lalu pernah mengalami bekerja sampai jam 11 malam, dan jumat kemarin saya lihat status path salah satu teman kantor saya yang bercerita kalau dia baru saja sampai rumah setelah bekerja lembur. status tersebut di update hampir jam 12 malam.

banyak juga teori yang menyebutkan bahwa bekerja itu harus berdasarkan tiga unsur "kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas" kenyataannya dilapangan secerdas apapun cara kita bekerja, kalau lingkaran sistemnya tidak mendukung akan percuma. kita bukan pedagang pasar yang urusannya hanya menjual dan dibeli lalu keuntungan langsung bisa dicari dari selisih kedua angka tersebut. kita bekerja berdasar suatu sistem yang berlaku, didalam sistem tentulah ada banyak orang yang semuanya saling berkaitan, jadi sudahlah tentu perlu keselarasan cara bekerja diantara orang-orang dalam sistem tersebut. kalau tidak bisa selaras maka lemburlah risikonya. dan sayangnya itu yang terjadi dibanyak perusahaan dan instansi yang ada di indonesia.

lagian memangnya siapa sih yang mau bekerja lembur? kalaupun ada, apa iya sebanding dengan reward yang mereka dapatkan setelahnya? menurut pengalaman saya, sama sekali tidak. yang didapat mungkin materi yang sedikit lebih banyak dari biasanya, tapi yang dikorbankan ada banyak sekali. mengabaikan alarm lelah tubuh, berjuang menekan rasa jenuh, dan harus memangkas waktu bersama keluarga. saya yakin, masih banyak orang yang mengartikan lembur sebagai bentuk tanggung jawab untuk menyelesaikan pekerjaannya. jadi be wise.. pikir sekali lagi kalau mau berpendapat mereka yang lembur adalah mereka yang tidak bisa bekerja cerdas dan efektif. tidak semuanya begitu, dan kebanyakan memang tidak begitu. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Buat yang di ibu kota, alasan utama ya itu, nunggu macet. Bayangin, Kalau pulang jam 6 - 8 malam itu jarak 7 KM ditempuh menggunakan sepeda motor selama 45 menit hingga 1 jam + capek badan + capek hati gara-gara jalanan dan orang-orangnya banyak yang nggak stabil otaknya. Sementara kalau pulang di atas jam 9, jarak 7 KM bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit. Hufftt.

    ReplyDelete
  2. aku ikut prihatin ya *pukpuk* *pake sendok semen* :))

    ReplyDelete