sekolah di luar negeri

Monday, November 18

tadi pagi, saya sempat membaca artikel bagus yang mengulas tentang bahaya buku andrea hirata. sebagai seseorang yang (masih) bermimpi mendapat kesempatan tinggal diluar negeri, saya merasa seperti mendapat teguran halus dari artikel ini.

jadi ceritanya dulu saya sama sekali gak kepikiran apalagi bercita-cita sekolah di luar negeri. tiap ditanya "kalau besar mau jadi apa?" saya hanya menjawab sekenanya. kadang guru, kadang dokter.. pernah juga menjawab astronot, jawaban klise khas anak daerah. beranjak besar, tujuan saya cuma masuk sekolah unggulan, menyelesaikan sekolah dan go with the flow. didikan orang tua membuat saya tidak berambisi terhadap sesuatu, semua santai, semua dinikmati, yang penting nilai gak merah, nakal sedikit dianggap wajarlah.

beberapa tahun belakangan ini saya baru merasakan bekerja di instansi pendidikan yang banyak pegawainya melakukan perjalanan ke luar negeri, baik untuk menetap sambil menyelesaikan sekolah maupun yang hanya menghadiri seminar selama beberapa hari. nah, baru muncul sedikit penyesalan. menyesal kenapa dulu les bahasa inggrisnya males-malesan :p sebenernya bekerja ditempat yang sekarang ini tidak lantas membuat saya ngotot ingin melanjutkan sekolah di luar negeri, tapi cita-cita dapat kesempatan short course tetap ada. yaa.. empat sampai enam bulan di finlandia cukup lah, hahahahahaha. amiiin.

setelah membaca apa yang ditulis pak yusran darmawan, mungkin sekarang ini memang banyak orang yang ingin bersekolah diluar negeri karena membayangkan jaminan mapan sepulangnya ke indonesia. sebagai gambaran, lulusan luar negeri faktanya memang akan lebih mudah menduduki suatu jabatan diperusahaan kelas internasional, yang artinya kemapanan secara materi kan? padahal yang sesungguhnya dibutuhkan negara ini adalah orang-orang yang setelah selesai bersekolah mau kembali ke tempat kelahirannya. secara teori mungkin mudah, tapi kenyataannya membangun tanah kelahiran dengan segala keterbatasan pastilah tidak semudah apa yang selalu jadi harapan negara ini.

artikel diatas juga membuat saya sadar bahwa esensi hidup adalah bekerja keras, jika tujuannya sama-sama untuk memperjuangakan hidup maka sekolah diluar negeri atau "sekedar" menjadi pemetik kelapa, sama hebatnya.  namun terlepas dari itu semua, menurut kacamata saya buku yang ditulis andrea hirata tetap menginspirasi banyak orang. pun orang-orang yang berhasil menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dimata saya mereka punya nilai lebih, nilai plus. plus perjuangannya, plus belajarnya, plus pengalamannya, plus beruntungnya :)

1 comment:

  1. Kalo kata pak anies baswedan kita perlu orang-orang yang "World class competence with grassroots understanding"

    lengkapnya bisa diliat di video pak anies baswedan waktu di TEDx Jakarta
    http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=LBgWsBkjsXQ

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS