we love you, bibi!

Thursday, June 27


saya termasuk yang beruntung karena dari awal kehamilan sampai habis masa cuti melahirkan tidak pernah berkenalan dengan problem asisten rumah tangga. ketika banyak ibu bekerja dipusingkan dengan permasalahan siapa-yang-menajaga-sikecil-setelah-masa-cuti-berakhir, saya alhamdulillah tenang-tenang saja karena sejak hamil muda sudah kenal sama bibi. usianya sudah menginjak enam puluhan ketika saya pertama kali bertemu bibi. waktu itu, diantar adiknya, beliau datang kerumah dan bercerita kalau baru saja di-phk dari pabrik tempatnya sudah bekerja selama puluhan tahun. singkat cerita, jadilah bibi bekerja membantu saya meringankan pekerjaan rumah tangga. 

selama bersama bibi, saya nyaris tidak pernah mengeluhkan apapun soal bibi. kalaupun ada, rasanya tidak sebanding dengan apa yang sudah bibi lakukan terhadap saya. ketika saya hamil dulu, bibi hanya bekerja dua kali dalam satu minggu, rabu dan sabtu. hampir disetiap sabtu bibi selalu membawakan nasi merah untuk saya, kadang pisang, kadang kue, kadang apa saja yang beliau temui dijalan saat menuju ke rumah. sering saya sampai melarang bibi untuk membawakan saya apapun, karena merasa tidak sebanding dengan penghasilan yang beliau dapatkan dari saya setiap minggunya.

saat kehamilan saya semakin besar, tentu saja sepenuh hati saya meminta bibi untuk menjaga pagi nanti ketika habis masa cuti. dengan cucu yang sudah sembilan, jelas saya lebih percaya bibi ketimbang harus kesana-sini mencari penggantinya. alhamdulillah, bibi tidak keberatan menjaga pagi, yang artinya beliau harus datang ke rumah setiap hari sebelum saya berangkat kerja dan baru pulang setelah saya sampai dirumah sore harinya. meski adaptasi bibi dengan pagi dan tata cara pemberian asip hanya dilakukan beberapa hari menjelang saya kembali bekerja, seolah memang sudah jodohnya, semua berjalan mulus tanpa kendala.  

sempat sih ada beberapa pola pengasuhan bibi yang agak berbeda dengan apa yang saya inginkan, tapi pada akhirnya saya memilih untuk mengalah. toh meski kita hidup dijaman modern, kearifan tradisional jaman-ibu-kita-muda-dulu memang masih banyak yang layak diteruskan. sampai sekarang, rasa sayang saya untuk bibi mungkin sama seperti rasa sayang saya kepada semua anggota keluarga di rumah. kata terimakasih yang setiap hari selalu saya ucapkan ketika bibi datang dan akan pulang-pun rasanya tidak pernah cukup untuk mengganti kebaikan dan ketulusannya menjaga pagi. ahh, mudah-mudahan sehat terus ya bi.. biar bisa lihat pagi tumbuh besar dan pintar. we love you, bibi!

No comments:

Post a Comment

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS