ASI(P) untuk Pagi

Monday, March 18

jauh sebelum saya menikah, saya sudah punya pikiran kalau nanti saya punya anak, saya akan memberikan ASI. kenapa? gak tau, pokoknya harus. lalu ketika saya menikah dan berdoa agar cepat dikaruniai keturunan, pikiran saya juga masih sama. anak saya nanti harus ASI. kenapa? ya daripada susu formula. kan mahal. nah, cuma sesimpel itu. bahkan ketika saya melihat dua garis merah pada alat penditeksi kehamilan, saya juga masih cuek dengan alasan sekenanya itu. baru ketika kehamilan saya berjalan hitungan bulan pelan-pelan saya mencari alasan yang rasional kenapa nantinya saya harus memberikan ASI untuk Pagi. 

jadi kenapa?
karena saya ingin Pagi mendapat haknya. hak istimewanya.

mungkin terhitung saat memasuki usia kehamilan empat lima bulan, saya baru mulai browsing sana sini menyerap sebanyak-banyaknya informasi dan membekali diri tentang serba-serbi ASI dan juga manajemen ASIP. kenapa ASIP? karena saya seorang ibu bekerja. dan saya gak mau menjadikan bekerja sebagai alasan untuk berhenti memberi Pagi ASI. hasil dari browsing sana sini itu berbuah manis, saya jadi sangat sangat sangat percaya diri untuk memberi ASI. bahkan jauh sebelum Pagi lahir, saya sudah meminjam breastpump dari mbak sari dan request kulkas dua pintu sama masery untuk menyimpan stok ASIP nanti.

tapi kenyataan ketika praktek dilapangan sama sekali gak seperti yanga ada dibayangan saya, dulu saya membayangkan saya bisa menyusui dengan elegan seperti angelina jolie dalam cover sebuah majalah. ternyata fakta yang harus saya terima jauh dari kata mudah apalagi simple. jauh.. sangat jauh. yang tidak saya prediksi sebelumnya adalah bahwa melahirkan itu melelahkan, pasca melahirkan kadar lelahnya naik dua ratus persen. badan rasanya kayak abis diklat survival pecinta alam tujuh hari tujuh malam, remuk. belum lagi harus nemuin tamu-tamu yang dateng buat jenguk Pagi. ditambah jam tidur yang berkurang hampir separuh buat begadang, bonus praktek menyusui yang menyakitkan.

menyakitkan dalam arti yang sebenarnya. 
saya gak tau apa masalah menyusui ini dialami sama semua ibu baru. yang jelas saya mengalami nipple lecet sampe berdarah dan mengakibatkan drama airmata ketika menyusui. SAKIT PAKE BANGET! sampai dua minggu kelahiran Pagi, menyusui adalah adegan horor buat saya. bahkan saya pernah menyusui sambil nangis sesegukan saking sakitnya. beruntung saya dikelilingi orang-orang beraura positif yang gak pernah keabisan sabar mendukung saya. satu yang saya tanam dikepala, kalau sakitnya kontraksi melahirkan saja bisa saya lewati, sakit menyusui harusnya sih gak ada apa-apanya. dan sugesti itu berhasil! memasuki minggu ketiga, saya sudah bisa merasakan nikmatnya menyusui. luar biasa membahagiakan, semacam ada penguatan ikatan setiap kali saya menyusui Pagi. 

sudah selesai?
belum. 
PR selanjutnya yang gak kalah menantang adalah manajemen ASIP atau ASI Perah. karena saya adalah ibu bekerja yang akan tetap bekerja nantinya, maka saya harus lebih ekstra memperjuangkan hak istimewanya Pagi, hak untuk mendapat ASI Ekslusif selama 6 bulan. caranya ya dengan menyiapkan ASIP sedini mungkin, sebanyak mungkin. daaaaan itu juga ga gampang. memerah ASI itu punya tips dan trik sendiri. tips kalo hasilnya mau banyak, maka kita harus bahagia. seriously! kalo triknya memerahlah diantara tengah malam dan subuh, dimana pada waktu itu kadar hormon oksitosin yang berperan memproduksi ASI lagi tinggi-tingginya. 

tips'nya itu alhamdulillah ya, selama ini saya bahagia selalu. jadi alhamdulillah ASI juga sampe rembes bahkan dari usia kehamilan saya tujuh bulan. naaah.. triknya ini yang agak PR hahahaha. memerah ASI itu kira-kira butuh waktu 20-40 menit. kalau saya merah di tengah malam buta, artinya saya harus kehilangan jam tidur yang udah tipis banget, bukannya apa ya.. ngantuknya itu looooh ga kuat. pernah saya pasang alarm jam 2 subuh, si alarm bunyi dan saya gak denger sama sekali sampe akhirnya di dismiss sama masery hihihi kebluk ya. harap maklum, soalnya saya baru tidur jam 11, sementara jam 1 bangun buat nyusuin Pagi, jadwal bangun lagi jam 4 dan saya gak bisa tidur lagi karena harus beres-beres rumah sebelum Pagi bangun dan mandi. kebayang kalau saya harus bangun disela-sela jam tidur yang udah minimalis buat memerah ASI, saya bisa mendadak zombie hahahaha.

yaaa akhirnya di akal-akalin sebisa saya. saya keras kepala pokoknya kapanpun pumping, apapun yang terjadi setiap hari minimal saya harus menghasilkan 4 botol ASIP. dan alhamdulillah keras kepalanya saya membuahkan hasil yang cukup memuaskan. sampai sekarang sudah 100an botol ASIP yang saya hasilkan. sampai botol ASIP warisan sudah nyaris terpakai semuanya. bahkan si freezer kulkas-pun akhirnya gak cukup. jadi akhirnya malah harus beli deep freezer (freezer eskrim) untuk menyimpan botol-botol ASIP selanjutnya. mahal? enggak kok. coba aja dikonversi sama susu formula, tiga empat juta doang gak ada apa-apanya. apalagi kalau judulnya "demi anak" jangankan freezer, benua ostrali kalo bisa dibeli ya dibeli hahahaha. ya mudah-mudahan produksi ASI bisa terus lancar begini sampai hak istimewanya Pagi untuk mendapat ASI Ekslusif terpenuhi. Amiiin. 



*cheers!


3 comments:

  1. kmrn di kajian ttg parenting islami, ustadnya blg, biarkan bayi tetep menyusu pd ibunya walaupun air asi ibu tidak keluar, krn inti dr asi itu membangun ikatan antara ibu-anak, hehehhee... begitu pentingnya asi :)

    ReplyDelete
  2. Dek elu gila ya? Itu di perah? maksud gue di perah?! Segitu banyak? Hah?!

    ReplyDelete
  3. Kakrom : iya, hahahhhahaha itu foto dua minggu lalu, minggu ini udah penuh tu freezer, lebih siyok lagi kalo lo liatnya :)))

    ReplyDelete

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS