gado-gado surabaya

Thursday, August 30

ramadhan selesai, lebaran juga baru usai. serunya cerita mudik hampir mendominasi semua jejaring maya. kali ini saya juga tak mau kalah ingin berbagi bahagia. alhamdulillah lebaran kali ini saya jadi mudik ke surabaya. banyak yang bingung kenapa surabaya, memang untuk orang-orang yang baru mengenal saya, taunya saya  lahir dan besar di sumatera, suamipun asli sunda. lalu kenapa bisa mudik jauh sampai timur pulau jawa? jawabannya adalah karena bapak dan ibu sejuta persen asli surabaya. jadi surabaya adalah kampung halaman bapak dan ibu. semua eyang, budhe, pakde, om, tante dan sepupu sepupu saya berdomisili disana.

sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini saya juga mudik sekeluarga, lengkap dengan bawaan seabreg dan dua bocah kecil gendis gandes yang masing-masing baru berusia 2.5th dan 8 bulan. seru? bangetttt. apalagi karena perbedaan jadwal libur kerja tiap anggota keluarga, rencana mudik ini memang cukup labil awalnya. bahkan kepastian jam berangkat baru ditentukan tiga hari menjelang keberangkatan. oia, kami memang belum pernah mudik naik pesawat, untuk yang satu ini kami kompak satu suara. buat kami terjebak macet berjam-jam, merasakan panasnya pantai di utara jawa, menempuh ratusan kilometer yang melelahkan adalah bumbu penyedap kebahagian di hari lebaran.

sampai surabaya, kami semua ngungsi di rumah eyang yang mendadak sempit oleh koper dan ramai dengan celoteh gendis. pokoknya rumah eyang yang penghuni sehari-harinya cuma berlima jadi berempat belas, heboh banget. ditambah esoknya kami harus bangun lebih awal karena mesti antri kamar mandi untuk sholat ied. dan saya dari lebaran ke lebaran belum pernah naik jabatan, selalu jadi tukang setrika baju koko dan gamis. nasib jadi sibungsu kan selalu begitu, hahaha. tapi tak apa karena ekstra tenaga untuk menyetrika langsung terbayar dengan beberapa ronde lontong sayur dan opor ayam juara.

perbedaan yang paling terasa di lebaran tahun ini tentu saja status saya yang sudah bersuami, dan perut yang sudah berpenghuni, syukur tak terkira rasanya. meski tak lama di surabaya, tapi saya puas dengan silaturahmi keluarga dan kuliner sana sini tentunya. mulai dari rujak cingur sampai es krim zrangandi. mas ery yang berlidah sunda nyatanya lahap saja mencicipi banyak pengangan khas surabaya. dipagi hari terakhir disana, saya dan mas ery menyempatkan diri berkeliling sebagian kecil kota surabaya. sebentar saja sudah cukup membuat kami terkagum-kagum dengan kotanya yang rapih tertata.  

sayangnya saya harus pulang lebih dulu karena tidak dapat hak cuti, maklum.. abdi negara. izin meninggalkan upacara saja harus menulis surat resmi untuk pimpinan tertinggi. maka jadilah saya dan mas ery pulang dari surabaya menuju bandung dengan menggunakan kereta bisnis mutiara selatan, kereta yang jadi moda transportasi idola saya karena ke-indonesia-annya. kereta dengan kipas angin yang berputar diatasnya, jendela yang susah dibuka, pedagang yang mengadu laba dan orang-orang yang menggelar alas tidur dilantai kereta seolah menghalalkan segala cara untuk menyimpan tenaga. 

ya begitulah hidup yang seperti gado-gado surabaya, ketika hari raya banyak peristiwa bahagia yang tercampur jadi satu didalamnya. tidak semua orang suka, banyak juga yang memandang sebelah mata, tapi toh yang penting kita menikmatinya. sekali lagi minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin ya semuanya :)



*cheers!

keluarga kaya

Monday, August 13


alhamdulillah, tahun ini keluarga saya makin bertambah besar. ketika resmi menikah dengan mas ery, maka otomatis orangtua saya pun bertambah, sepaket dengan dua puluh tiga kakak ipar dan bonus tiga puluh tiga keponakan. wow banget kan? hahahaha. saya tidak pernah merasa se-kaya ini sebelumnya. memang mas ery adalah bungsu dari tiga belas bersaudara.. saya yang lahir dan besar dari keluarga minimalis tentu senang luar biasa. ada sensasi bahagia yang berbeda ketika saya duduk ditengah-tengah keriuhan arisan keluarga yang super besar. seolah tak pernah habis tawa dan cerita. saya bisa melihat raut syukur dan bahagia apa-mamah setiap kali kami berkumpul keluarga apalagi tahun depan insyaallah cucu apa-mamah akan bulat jadi tiga puluh lima. jadi percaya kan kalau keluarga kami sangat "kaya"?


*cheers!

cerita ramadhan dulu

Thursday, August 2

pagi tadi ketika sahur, saya tiba-tiba ingat masa kecil. waktu saya masih bocah-bocahnya, waktu masih belajar puasa, masih nangis kalau dibangunin sahur, masih lemes-lemesan kalo menjelang maghrib, masih semangat tarawih ke masjid karena sambil main petasan dan jajan somay, dan yaa.. masih dibayar puasanya, untuk kemudian diakumulasi dengan jumlah THR ketika lebaran. hampir semua yang baca posting ini pasti pernah mengalami masa yang sama dengan saya, ya kan? masa-masa dimana kita gak mau tau ibu masak apa yang penting bangun sahur dan makan. masa-masa dimana kita gak peduli ibu dan bapak punya uang atau gak, yang penting kita dapet THR. 

yang saya ingat, ketika saya kecil ibu dan bapak belum cukup mapan secara ekonomi. bapak belum bisa membelikan saya, mbak sari dan mas dim susu dengan aneka rasa. sehingga ketika sahur, ibu menambahkan essen (pewarna kue) agar susu kami warna warni dan kami mau meminumnya. kadang hijau, kadang coklat, kadang merah muda. saya ingat dulu nata de coco adalah makanan mewah buat saya, jadi kalau berbuka dengan nata de coco bahagiaaaa banget rasanya hahahaha. ketika lebaran, ibu bikin sirup sendiri.. soalnya kalau beli mahal. jadi sirup buatan ibu tanpa rasa asam dan rasa buah seperti kebanyakan sirup pada umumnya, hanya manis dan warnanya saja yang seperti sirup sungguhan.  

dulu saya hampir gak pernah punya baju baru. karena ibu selalu membuat sendiri baju-baju lebaran untuk saya dan mbak sari, tentunya karena alasan ekonomi. walaupun ketika beranjak dewasa saya mulai mengagumi semua usaha yang ibu lakukan, tapi dulu namanya anak kecil, tetep iri setengah mati ya sama temen-temennya yang pamer beli baju di swalayan, sementara baju saya cuma hasil mesin jahit tua. tapi ibu selalu banyak akal, sebelum membuatkan kami baju, ibu mengajak kami berdua ke swalayan dan membiarkan kami memilih model baju untuk ditiru semirip mungkin nantinya, mungkin supaya saya dan mbak sari gak terlalu kecewa dan tetap gak ketinggalan gaya.

yang seru lagi, kalau pas jadwal mudik ke surabaya. dulu belum punya mobil bagus dan bapak adalah orang tersibuk nomer satu di dunia. bapak hampir gak pernah ikut mudik karena selaluuuu kebagian jaga posko lebaran. jadilah ibu mudik sendiri dengan angkutan umum, membawa serta ketiga anaknya. lampung-surabaya itu jauh banget loh.. yang namanya anak kecil diajak jalan jauh, naik kendaraan umum, pasti ada aja rewelnya. tapi ibu memang luar biasa, apalagi meski bapak karyawan PT. Kereta Api, bapak masih belum punya uang lebih untuk membelikan kami tiket kereta eksekutif dengan AC yang nyaman. jadi kami naik yang gratis, kereta bisnis. lalu ibu akan mengalah, menggelar koran tidur dibawah karena kursi keretanya untuk saya, mbak dan mas dim tidur.

sambil menulis ini, rasanya saya ingin memeluk dan menciumi ibu. mengingat semua yang berat yang sudah berhasil dilewati ibu dan bapak dulu membuat saya haru. sampai akhirnya saya bisa duduk dengan nyaman di meja kerja di satu instansi ternama ini pastilah juga karena susu dengan pewarna kue warna warni yang ibu beri ketika sahur bertahun-tahun lalu. sampai sekarang ketika saya sudah dewasa dengan perut yang makin membuncit, ibu masih semangat dan senang hati membuatkan saya baju hamil, sekalian untuk baju lebaran katanya. ahh, kali ini saya janji bu, tidak akan iri dengan siapapun yang membeli baju lebaran di swalayan :)



*cheers!
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS